
"Jun, gimana? Lo diterima gak sama si Jahemu itu?" tanya Noel penasaran.
Juna menggeleng pelan, "Gak tuh,. Gue masih ditolak sama dia..."
"...Kurang apa sih gue ini di mata dia? Kurang ganteng?" lanjutnya lesu. Tangan kekarnya mengambl minuman soda milik Noel yang dibiarkan oleh pemiliknya.
"Sorry Jun, i should say this fact to you. Tapi, lo emang keliatan tua banget kalo disandingin sama Jaysha." Komentar Noel yang langsung menancap di lubuk hati paling dalam Juna. Dampaknya, pemuda bermata lebar itu sedikit kepikiran perkara tentang 'wajah'nya yang kelihatan lebih tua dari 'calon' pacar.
"Ya ya, gue tahu kok kalo gue keliatan tua banget kalo deket sama dia. Apa gue harus perawatan aja ya biar keliatan awet muda dan cocok kalo berdiri di samping Jaysha?" gumamnya pelan.
"Cewek gak cuma si Jay kali, Jun! Sekolah kita gak kekurangan cewek buat lo pacarin. Contohnya aja si Naysila itu" sahut Noel pelan di akhir kalimat. Takutnya, cewek yang lagi dia omongin mendengarnya dan kePEDEan.
"Tapi kan gue nyantolnya cuma sama si Jahe. Ngapain gue pacarin dia kalo masih ada si Jahe?" jawab Juna pede, sesekali ia tersenyum ramah menanggapi sapaan dari adik kelas yang berlalu-lalang di dekat meja tempat ia dan Noel duduk. Wajah mereka –menurutnya—sedikit terlihat lebih tua karena polesan make up yang sedikit tak wajar.
Harap dimaklumi, banyak sebenarnya yang ingin menjadikan dia sebagai pacar karena status 'boyfriend material' yang disandangnya selama 1 tahun ini. Tapi, ya begitulah. Dia tak mau berurusan dengan gadis yang sering pake make up di wajahnya. Lebih baik dikasihkan ke orang yang membutuhkan 'kan? Misalnya, temen-temen se-gengnya yang masih jomblo.
Biarlah orang beranggapan kalo dia terlalu alim-lah, atau terlalu pemilih-lah. Tapi, memang dasarnya ia gak mau. Apa mau dikata? Ia sudah kecantol sama adkelnya yang jurusannya –emang seharusnya—berurusan dengan make up dan ***** bengeknya.
Siapa lagi kalo bukan Jaysha? Gadis itu emang sudah jadi pilihan pemuda itu sejak masa MOS dulu. Ia berpikiran, Jaysha kalo gak pake make up aja terlihat manis, apalagi kalo pake? Beuh, nikmat mana lagi yang ia dustakan? Gak ada!
Tapi sayangnya, hari rabu ia ditolak. Dan kemarin, ia ditolak juga! Salah dia apa sih, sampe ditolak oleh gadis berperawakan berisi itu? Herannya dia, apa yang salah dari gombalannya? Bisa-bisanya ia membuat gadis itu semakin bersikap dingin padanya.
"Lo emang gak pake gombalan yang gue saranin?" tanya Noel penasaran.
"Gue pake bang, tapi ya begitu balasannya..."
Noel mengernyit bingung. Perasaan, gombalannya selalu berhasil kok kalo diterapin ke semua kalangan cewek. Apa beda lagi ya kalo diterapin ke gadis idamannya si Juna?
"Lo pake yang mana sih? Kok gak berhasil?" tanyanya bingung.
"Gue pake yang 'Aku memang gak bisa selalu janji kalau aku akan selalu sama kamu kayak perangko. Tapi, yakin aja kalau aku akan selalu dengerin keluh kesahmu kayak buku diary'. Gue pake yang itu tuh?"
Pemuda yang lebih tua menepuk dahinya pelan, "Ya ****** aja lo kalo pake gombalan itu buat dia." Ujarnya kesal.
"...Itu aja gue pake sekali doang, habis itu ya gak gue pake lagi gara-gara gak mempan" lanjutnya.
"Lha emang kenapa bang?" tanya Juna penasaran.
"Gue sekali pake gombalan itu ke Jihan, gue langsung didiemin selama 3 hari sama dia. Apalagi kalo dipake ke spesies langka kayak Jaysha, ya mana mempan! Yang ada dia makin dingin ke lo" jawab Noel yang kembali mengingat kejadian dimana ia menggunakan gombalan itu pada Jihan, sang pacar sekaligus anggota KKR sekolah. Yah, bisa dibayangkan ia langsung didiemin selama 3 hari karena terlalu 'cheesy' menurut Jihan.
Juna menghela nafas lelah. Ya masa, perjuangan selama 4 bulan untuk mencari informasi tentang si Jaysha, harus sia-sia? Lelah dia tahu nyari infomasi selama itu!
"****** lo emang!"
Bertambah lagi satu pemuda yang berambut agak keriting lagi, kini ikut nongkrong bersama mereka berdua. Luka lebam di pipi dan juga plester di wajah, menyebabkan tanda tanya di pikiran Juna. Siapa yang berani mukul dia?
"Dateng-dateng malah ngejek, dasar makhluk pluto!" sinis Juna sesaat setelah pemuda itu mendudukkan diri di depannya.
"Itu juga, kenapa pipi lo? Berantem lagi sama bang Haikal?" Jarinya menunjuk salah satu luka di pipi Tama.
"Gara-gara calon gebetan lho nih! Gue dipukul gegara gue ngomongin lo di depannya!" jawab Tama menggebu-gebu, meluapkan amarahnya pada Juna. Mumpung ada orangnya, mending langsung dimarahin saja!
"Ngapain lo marahnya ke Juna? Lo bisa langsung ke Jaysha kan buat marah-marahnya?" tanya Noel bingung.
"Bang, seumur-umur gue musuhan sama Jaysha, dia gak akan pernah mukul gue kalo bukan karena ada yang buat dia kesel!" ujarnya dengan menatap Noel.
"Trus? Apa hubungannya dengan Juna?" Pemuda jangkung itu masih bertanya. Ia masih bingung dengan akar masalahnya. Tama memukul mejanya keras, hingga Juna dan Noel terkejut karena gebrakan yang tiba-tiba.
"Woi, nama gue Juna ya! Bukan Junaedi! Lagipula, emang gue senyebelin itu ya?" Juna menatap Tama dengan tatapan bingung.
"Ya iyalah! Mana ada, orang langsung nembak gebetannya tanpa proses 'PDKT'? Gak kan?"
Juna berpikir sebentar. Mata bulatnya menatap ke atas, tanda ia berpikir keras. Ada benarnya juga, pikirnya. Dia terlalu cepat-cepat kalau nembak Jaysha kemarin. Kenapa tidak terpikirkan olehnya?!
"Saran gue ya, kasih dia perhatian kecil. Seperti, antar jemput dia kalo ke sekolah'. Buat alasan kalo rumah lo kebetulan searah sama dia" saran Noel sedetail mungkin.
"Kayak kang ojek dong berarti? Udah antar jemput, gak dikasih ongkos lagi. Fix, berarti lo mental babu" canda Tama. Tangannya memukul meja dan tertawa dengan suara serak-serak basah yang menimbulkan beberapa siswa memandangnya dengan tatapan aneh.
"Ya kali gue disamain sama kang ojek, Tam. Gue kan idaman sekolah" sahut Juna datar.
"Paling itu kali yang bikin si Jahe mikir-mikir buat nerima lo" Noel menyeruput minumannya keras-keras. Pemuda berambut sedikit keriting menatapnya dengan raut menjijikan, dan wajahnya menjadi lebih aneh dari biasanya. Juna menahan tawanya dengan memalingkan wajahnya ke kanan.
"Ngapain lo malingin wajah?" tanya Tama.
"Wajah lo jadinya aneh, kayak alien beneran"
Plakk
Suara jitakan itu berasal dari tangan Tama yang tak terima diejek alien. Sedangkan Juna meringis pelan dan mengelus-elus surai hitamnya pelan.
"Daripada lo sibuk ngurusin wajah handsome gue, sono tanyain dimana Jahe. Mumpung temennya lagi lewat tuh". Ia menunjuk seorang gadis berkulit putih pucat dan berambut pendek yang baru lewat di belakang Juna. Juna menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang dimaksud Tama.
"Yun! Sini bentar!" Juna melambaikan tangannya ke arah gadis itu. Yang dipanggil berjalan mendekati meja mereka.
"Ngapain kak, kok panggil-panggil?" tanyanya bingung.
"Dimana si Jahe? Perasaan lo dari tadi pagi sendirian mulu"
"Oh, jahe? Dia tadi disuruh memprogram mesin kasir tuh di lab pemasaran. Gue ajak makan, dia nyuruh aku duluan. Ya udah, aku tinggal"
"Nah! Pas tuh. Bawain makanan ke sana buat si gebetan" Noel menyuruh Juna bangkit dari duduknya. Ia memberikan bungkusan makanan yang belum sempat ia buka ke pemuda bersurai hitam legam itu.
"Iya-iya gue berangkat. Doain sukses bro!" Juna pamit dan berjalan ke arah Lab pemasaran, dengan teriakan dukungan semangat oleh dua pemuda yang masih duduk disana.!
"Good luck buat PDKTnya, Jun!!" teriak mereka berdua berbarengan.
"Kalian berdua aneh, kak"
Noel dan Tama menoleh ke arah Yuni yang kini sudah duduk manis di dekat Noel.
"Gue gak aneh, dek. Kebetulan saja gue didatengin alien, makanya tingkah gue jadi ikut aneh" jawab Noel santai.
"Enak aja gue dikatain alien! Oh ya Yun, mau gue beliin sesuatu?" tanya Tama lembut.
Yuni menggeleng pelan. "Gak usah deh Tam, gue tadi sama kak Haikal udah beli makanan. Tuh, dia disana" tunjuk Yuni ke meja yang tidak jauh dari mereka.
"Duluan ya, kak Noel, Tam" pamit gadis berambut pendek, bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja tempat dimana Haikal duduk.
"Ekhem, sepertinya ada yang keduluan startnya nih" sahut Noel dengan senyum meremehkan.
"Lo diam aja bang! Hati gue lagi ambyar nih ngelihat gebetan diambil orang"