Yellow Lily

Yellow Lily
Bab 17 : Kembali Jatuh ke Jurang Masa Lalu



Suara deru motor melintasi di depan rumah.


Sebuah motor matic berwarna hitam pekat berhenti tepat di depan pagar. Seseorang memencet bel yang ada di dekat


pagar tanpa turun dari sepeda motornya. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka


dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang berjalan tergesa-gesa menuju


pagar.


“Juna, kenapa gak langsung buka pagar saja?” Tangan wanita itu membuka


pagar berwarna hijau tua itu dan menyuruh pemuda tadi untuk segera masuk


bersama sepeda motornya. Pemuda itu tersenyum lalu melajukan sepeda motornya


memasuki pekarangan rumah, disusul dengan wanita itu yang menuju pagar


rumahnya.


“Takutnya nanti aku dikira maling tante, kan aku jarang main ke sini” balas


pemuda bersurai hitam legam. Ia memarkirkan sepeda motornya di dekat teras.


Tangannya mengambil kresek hitam dari dalam jok motornya, lalu memberikan


barang itu pada wanita itu.


“Ini dimakan bareng-bareng ya tante? Martabak kesukaannya om sama Alvin”


Wanita itu—Syifa—mengambil kantung kresek hitam itu dari Juna, dengan


segaris tipis lengkungan di wajahnya. Mereka berdua berjalan beriringan ke


dalam rumah yang sederhana itu. Memasuki area rumah, terlihat sosok pemuda yang


tak lebih tinggi darinya sedang duduk di sofa dengan ponsel di tangannya, tak


menyadari kalau ada tamu yang datang.


“Juna, mau disini dulu apa langsung ke kamarnya Rena?” tanya Syifa setelah


kembali dari dapur untuk meletakkan makanan tadi. Ia meletakkan segelas teh


hangat di depan pemuda yang sudah duduk manis di sana.


“Tunggu disini aja tante” balasnya sembari mengangkat segelas teh yang


disuguhkan untuknya. Wanita itu tersenyum tipis, berbalik arah menuju kamar Jaysha.


Sementara menunggu gadis berambut sedikit kemerahan itu keluar dari kamarnya,


ia menjawil bahu pemuda berambut keriting di sampingnya yang masih sibuk


memainkan ponselnya. Merasa ada yang menoel bahuya pelan, pemuda berambut


keriting itu akhirnya menoleh, hanya untuk mendapati Juna yang menatapnya


dengan senyuman.


“Lho, ada calon kakak ipar. Ngapelin kak Rena nih ceritanya?” tanyanya


dengan alis yang bergerak naik-turun dan senyuman miring yang terukir di wajah


ovalnya.


Juna mengangguk kecil. Tangannya menaruh gelas yang ia pegang tadi. Bola


matanya bergerak ke atas, tanpa menatap Alvin yang sedang bengong sendiri.


“Ada apa bang? Kayak ada yang dipikirin gitu?”


“Apa ada yang terjadi semalam sama Jahe?” tanyanya dengan mata lebarnya menatap


adik dari kekasihnya itu penasaran. Alvin menarik nafas pelan, kemudian menaruh


ponselnya di atas meja.


“Aku gak tahu apa yang terjadi semalam sama kak Rena, bang. Tapi, udah 3


hari ini sikapnya jadi kembali kayak dulu lagi” ujarnya melirik lantai ubin


putih di bawah kakinya. Ia kembali mengingat kakaknya yang menjadi murung


beberapa hari lalu.


“Maksudnya kayak dulu lagi itu gimana Vin? Gue gak paham sama sekali” tanya


Juna dengan dahi mengkerut.


“Bang, mending kamu tanya langsung aja sama kak Rena. Aku gak berhak nyeritain


hal yang mungkin beda lagi faktanya sama yang kak Rena alamin sendiri”


Pembicaraan diantara mereka berdua terpaksa berhenti, ketika mereka melihat


seorang gadis keluar dari sebuah pintu kamar dengan rambut yang sedikit


berantakan. Tangannya mengucek mata sipitnya yang terllihat sedikit bengkak.


Dan di belakangnya ada ibunya yang juga keluar dengan handuk kecil di tangan


kanannya.


“Kamu itu ya, udah dibilangin kalo ada Juna masih aja sempet-sempetnya


ngebo dulu!”


Gadis itu menoleh sebentar, kemudian menguap kembali. “Kan aku udah bilang,


aku masih ngantuk gara-gara baca komik kemarin malam” balasnya dengan mata


terpejam. Ia—Jaysha—meregangkan badannya sebentar, kemudian mata sipitnya


terbuka setengah. Kakinya bergerak menuju sofa dan duduk di sebelah Alvin yang


berdecak pelan.


“Kak, gak malu apa diliatin sama bang Juna lho"


Mata gadis itu melebar seketika. Kepalanya menoleh ke samping kiri adiknya.


Memang benar, Juna sedang memperhatikan dirinya yang sedari tadi tak


memperhatikan kehadirannya di sana. Ia seketika tersenyum canggung dan


melambaikan tangannya ke arah kekasihnya—dengan senyuman yang ia akui,


sangatlah manis.


“Halo, kakak bodoh”


“Halo juga, si kebo” balas Juna. Kemudian suara tawa menghiasi ruangan


mereka berdua. Sungguh, dia hanya heran, bukannya iri. Sudah terhitung mereka


pacaran selama hampir 4 bulan. Awal-awal pacaran sih, memang kelakuannya bak


orang yang sedang kasmaran. Tapi, setelah menginjak bulan ke-3, gaya pacarannya


malah seperti sahabat yang demen banget bertengkar.


“Kebiasaan banget sih buat orang iri! Aku pergi aja daripada jadi obat


nyamuk dadakan” sahut Alvin dengan kaki yang ia hentak-hentakkan menuju


kamarnya, diiringi dengan suara tawa Jaysha.


“Jahe...”


Jaysha menoleh menatap Juna yang memanggilnya. “Apaan kak, panggil-panggil?


Aku disini dari tadi”


Juna menggenggam tangan milik gadis itu. Matanya menatap wajah kekasihnya


yang terlihat bingung. “Kenapa kamu nangis kemaren pas di telfon? Kamu gak


kenapa-napa kan?” tanya pemuda itu.


Gadis itu menggeleng dan tersenyum tipis. “Aku gak apa-apa kak, tenang


saja” jawabnya sembari mengelus pelan tangan Juna.


Pemuda bersurai hitam legam itu menatap mata sipit gadis itu lama. ia


mencari kebohongan apa yang ada disembunyikan gadis itu. Mata bulatnya melirik


tangan gadis itu. Dahinya mengernyit kala melihat guratan samar di ujung lengan


baju gadis itu.


Ia melepaskan tangannya dari elusan lembut gadis itu. Ia menyingkap lengan


baju Jaysha. Terlihat jelas, ada beberapa luka sayatan  di lengan cukup berisi gadis itu. Ada satu


yang rupanya masih baru dibuat, di dekat sikunya.  Mata bulatnya menatap Jaysha dengan tatapan


khawatir.


“Lalu, ini apa? Jangan pernah katakan kalau kamu baik-baik saja, sedangkan


tubuhmu terluka seperti ini!” ujarnya menahan amarah. Mati-matian pemuda itu


menahan suaranya supaya tak membentak gadis itu. Hati kecilnya tak ingin


melukai perasaan kekasihnya.


Jaysha menunduk dalam. Ia menelan ludahnya kasar, menghembuskan nafas


perlahan. Mata sipitnya serasa ingin mengeluarkan air yang sudah menumpuk di


ujung mata.


“K-kak, tolong jangan marah dulu. Aku akan jelasin, tapi kita ke kolam dulu


ya kak? Biar bunda gak denger” ujarnya dengan bahu yang bergetar menahan


tangis.


Juna mengangguk terpaksa. Mereka berdua berdiri, dan berjalan menuju kolam


empang keluarga gadis itu. Juna mendudukkan diri di bawah pohon mangga dekat


empang, dan Jaysha yang duduk menghadap dirinya.


“Siapa yang ngelukain lo segitu parahnya?” tanyanya langsung.


“Bukan siapa-siapa kak. Tapi, aku sendiri yang ngelukain diri aku sendiri”


ujar Jaysha pelan.


Juna menatap gadis itu tak percaya. Ia tak menduga jika jawaban itu yang


akan keluar dari bibir tebalnya. Kenapa dan apa alasan kekasihnya itu melukai


lengannya sendiri? Apa ada rahasia yang disembunyikan darinya?


“Kenapa kamu lakuin ini, Jay? Kamu tahu kan, kalau aku benci melihatmu


dalam keadaan seperti ini? Tolong, jangan sembunyikan apapun dari aku, karena


aku sudah diberi kepercayaan sama ayahmu untuk menjaga anak perempuan


satu-satunya”


Suara sesenggukkan mengisi telinga Juna kali ini. Kekasih cueknya itu,


menangis tanpa menatapnya. Hatinya terluka seketika. Ia sudah gagal hari ini.


Ia gagal untuk menjaga amanat dari ayah Jaysha, untuk tidak membuat gadis itu


mengeluarkan setetes air mata dari pelupuk matanya.


Tangan pemuda itu menarik kekasihnya untuk masuk ke dalam dekapannya. Ia


mengelus punggung gadis itu pelan. Hanya satu yang ia harapkan saat ini, yaitu


menenangkan tangisan kekasihnya yang sungguh—seperti belati yang mengiris


hatinya secara perlahan—menyakitkan.


“K-kak, salah aku a-apa se- hikss, selama ini? b-bisa-bisanya hiks d-dia


datang lagi dan membuka luka lamaku? Hiks..”


Gadis itu masih menangis di dalam dekapan hangat Juna. Hatinya sakit sekarang. Yang perlu ia lakukan hanya membiarkan tangisan yang selama ini ia


pendam, keluar seluruhnya.


Juna membiarkan gadis itu menangis sesenggukan, sesekali mengelusnya


perlahan. Ia tahu maksud dari ‘luka lama’ yang disebutkan gadis itu adalah luka


yang mungkin tidak akan sembuh. Disaat seperti ini, ia hanya bisa memberikan


kata penenang untuknya.


“Tenanglah oke? Semua akan baik-baik saja, Jay. Aku tahu kamu gadis yang


kuat, bertahanlah sebentar lagi, maka aku akan menghilangkan sumber masalah di


hatimu” ujarnya mengelus pelan punggung gadis itu.