
Juna melangkahkan kakinya ke lab Pemasaran. Sumpah, ia capek berjalan dari kantin ke lab Pemasaran, yang berada di daerah kelas jurusan Pariwisata. Gak kira-kira, dia jalan dari sana ke daerah itu menempuh waktu lima belas menit. Dan dalam perjalanan juga, ia masih juga dihadang sama beberapa gadis dari jurusan pariwisata yang bertanya mau kemana.
Kalau bisa, ia lain kali akan mencari jalan pintas menuju lab pemasaran. Meskipun pemuda bersurai hitam legam itu harus rela digigit nyamuk atau lewat jalan yang becek sekaligus, asal tidak dihadang oleh para gadis!
"Akhirnya sampai juga—"
Ia berdiri di depan pintu lab. Kepalanya menengok ke dalam, apakah ada orang. Yang pastinya, ada. Karena ada sepasang sepatu di rak samping pintu lab.
"Halo... ada orang gak?" panggil Juna pelan.
"Lho? Kak Juna?"
Yang dicari akhirnya muncul juga. Gadis berperawakan sedikit berisi dan berkuncir kuda –berjalan menghampirinya dengan beberapa tumpuk laporan keuangan di tangannya. Gurat lelah sedikit terpancar dari wajah gembilnya. Mungkin kecapekan gara-gara memprogram mesin kasir yang ribetnya minta ampun, pikir Juna.
"Halo Jay, mau makan?" Juna menggoyang-goyangkan kresek hitam di genggamannya. Gadis itu berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk tanda mau.
"Bentar ya kak, aku naruh ini dulu ke dalam ruang penyimpanan" izin gadis itu dan berlalu, masuk ke dalam ruang penyimpanan. Sembari menunggu gadis itu keluar, Juna menyempatkan diri memainkan mobile legendnya. Saat sedang seru-serunya, pemuda itu merasakan tepukan pelan di pundaknya. Lantas, ia langsung menutu gamenya dan menoleh ke arah tepukan itu berasal.
"Udah selesai, Jay?" tanyanya.
Jaysha mengangguk sambil tersenyum tipis, "Tapi bentar aja ya kak? Aku masih belum selesai nugasnya" pintanya dan mengambil tempat duduk di samping Juna.
"Iya gak apa-apa. Yang penting makan dulu, kesehatanmu lebih penting daripada pelajaran"
Juna membuka sebungkus roti yang dipegangnya tadi, "Nih, makan dulu." Tangannya menyodorkan roti yang telah dibuka pada Jaysha.
"Makasih ya kak. Tahu darimana kalo aku disini?" tanya gadis itu bingung. Ia memakan rotinya dengan wajah menatap Juna penasaran. Pipinya yang tembam, semakin terlihat saat ia sedang makan. Rasanya ia ingin menarik pipi itu gemas. Tapi, ia ingat kalau ia sedang proses PDKT. Kalau ia lakukan sekarang, bisa-bisa tambah ngambek si calon gebetan. Kan gak lucu kalau kali ini gagal lagi.
"Dikasih tahu Yuni tadi. Dia bilang kamu belum makan, jadi aku bawain kesini"
Jaysha mengangguk maklum. Mulutnya masih mengunyah makanan di dalamnya. Pipinya bergerak karena mengunyah makanan. "Kenapa gak dibawain martabak aja sih? Padahal aku lagi pengen itu" gerutunya pelan.
Tanpa disadarinya, bibir gadis itu mengerucut karena sebal, menambah kadar keimutannya karena wajahnya semakin lucu kalau sedang berpose seperti itu. Karea tak tahan, Juna mencubit pipi Jaysha tiba-tiba.
"Nghuphuin thupik-thupik phiphi??!"(Ngapain tarik-tarik pipi??!)
Juna tertawa gemas, "Kamu lucu dek, gak tahan kalo gak narik pipimu kalo lagi gini"
Gadis itu mengerang tak terima. Ia menarik tangan Juna dari pipinya. Dia kesal, kalau pipinya ditarik-tarik oleh orang lain. Ia tahu kok kalau pipinya memang tembam, tapi kalau mau tarik-tarik bilang dulu dong!
"Sakit tahu kak! Cubitin pipi sendiri napa!" Ia menggerutu sembari mengelus-elus pipinya yang kini samar-samar memerah.
"Maaf dek, habisnya kamu lucu banget" jawab Juna dengan cengiran polos.
Gadis itu ingin sekali memukul kepala si pemuda yang cengar-cengir gak jelas itu. Tapi, takutnya nanti malah ia yang dilabrak sama para fansnya yang bejibun. Alhasil, ia cuma cemberut kesal lalu berbalik memunggungi Juna. Sedangkan Juna tertawa kecil karena gadis itu yang ngambek gara-gara pipinya ia tarik tadi.
"Jay, jangan ngambek dong... Aku gak kuat kalo diambekin sama cewek imut kayak kamu" Juna menoel bahu gadis itu pelan. Gadis itu menoleh sebentar, lalu kembali ke posisi semula, dimana ia masih membelekangi Juna.
"Bodo amat kak. Kemarin lusa dibuat kesal, hari ini juga. Bisa gak sih gak bikin ulah, kak?" omelnya.
Jaysha mengernyit bingung. Ia sedikit merasa kasihan mendengar permintaan maaf yang juga terselip penyesalan disana. ia sedikit menoleh, untuk sekedar melirik Juna. Pemuda itu sedang menatapnya penuh penyesalan. Wajahnya juga menatap gadis itu dengan tatapan memelas, yang kelihatan seperti anak kucing yang minta dipungut.
Hufft, kalau begini ia jadi tak tega 'kan untuk ngambek lama-lama.
Ia mendesah pelan. "Kak, jangan menatapku dengan tatapan memelas dong. Aku jadi gak tega kan mau ngambek lama-lama"
"Maafin ya dek. Aku gak akan maksa kamu jadi pacar aku, tapi aku pingin kita temenan aja. Gimana?" bujuk Juna masih dengan tatapan memelas.
"Iya deh iya, kita temenan kak" ujar Jaysha pasrah. Setidaknya ia sedikit lega karena Juna, tidak memaksanya untuk menjadi pacar pemuda itu.
"Makasih ya dek, seneng akhirnya gak diambekin lagi" Juna tersenyum lebar, hingga menampakkan gusinya. Jaysha terdiam sesaat melihat senyumannya.
'K-kok lucu?!'
"Kalian berdua!! Jangan pacaran di sekolah!!"
Keduanya menoleh ke sumber suara. Guru kesiswaan yang terkenal 'sangat' kejam, sedang menatap mereka dengan sorot mematikan. Jaysha menelan ludah kasar, sedangkan Juna tertawa canggung ke arah guru itu.
"Halo pak, kami hanya makan siang kok pak, bukan pacaran" jawab Juna dengan cengiran.
"Arjuna, jangan kamu kira saya tak tahu ya? Saya masih ingat ya kalau kamu teriak-teriak hari rabu kemarin di lapangan..."
"Ya ampun pak Teguh, saya gak diterima kok sama dia. Jadi, gak masuk daftar hitam kan?" potong pemuda itu sebelum Pak Teguh sempat menyelesaikan kalimatnya. Tetapi, guru berusia setengah abad itu hanya menggeleng pelan.
".... Tidak ada tapi-tapian! Yang rabu kemarin itu sudah masuk daftar point! Sekarang, bersihkan toilet cowok! Saya sudah beritahu guru pengajarmu tadi" ucapnya tegas.
Seketika, bahu lebar pemuda itu melorot pelan. Yah, bersih-bersih toilet lagi. Gara-gara ide para anggota futsalnya yang keterlaluan, jadinya ia yang kena hukuman. Akan dia hajar nanti mereka semua setelah hukumannya nanti selesai!
Juna membereskan plastik yang sedikit berserakan tadi. Wajahnya yang tadi senang, sekarang jadi muram. Jaysha yang sedari tadi memperhatikan Juna yang dimarahi, memberikan pemuda itu senyuman tulus.
"Semangat kak, bersih-bersihnya!"
"Makasih ya dek, aku pergi dulu" Juna berjalan dengan muka lesu menuju toilet cowok yang kotornya minta ampun. Sedangkan pak Teguh masih berada disana, dengan mata yang masih menatap Jaysha.
"Kamu juga! Kenapa masih disini?" tanyanya datar.
"Pak, saya disuruh memprogram mesin kasir sama Bu Nining" jawab gadis itu sopan. Pak Teguh hanya tersenyum simpul. Ia memberikan sebuah formulir padanya.
"Kamu harus ikut LKS ya?"
"Lho pak? Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian kalau menyangkut sekolah! Saya tunggu besok di ruang kesiswaan" potong pak Teguh lalu pergi meninggalkan Jaysha yang menatapnya tak terima.
"Ya ampun pak!!! Saya itu kan males pak kalau urusan sama presentasi dalam bahasa inggris!!"