
Jaysha menopang dagunya dengan kedua tangannya. Mata sipitnya menatap langit sore. Sesekali ia menguap karena bosan menunggu. Sejak tadi, ia menunggu kak Juna menyelesaikan tugasnya. Ingin sekali ia pergi ke kantin di dekat lab hanya untuk sekedar membeli makanan untuk mengganjal perut. Tapi, takutnya kalau ia pergi, kemudian kak Juna datang dan mengira ia sudah pulang. Kan repot nanti.
Ia menatap arloji hitam di pergelangan tangan kirinya. Sudah sepuluh menit ia menunggu di sana. Mata sipitnya mengalihkan pandangan dari arlojinya ke dalam lab elektronika. Terlihat pemuda bersurai hitam legam itu keluar dari lab dengan langkah terburu-buru. Gadis itu jadi merasa bersalah karena menyebabkan pemuda itu jadi seperti panik sendiri.
Ia beranjak dari bangku tersebut, lalu berjalan mendekati sepeda motor berwarna hitam milik kak Juna.
"Jay!"
Teriakan dari dekat lapangan basket sedikit menyita perhatiannya. Ia menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi. Matanya memicing saat melihat seseorang berseragam tim basket sekolah, berlari mendekatinya. Sadar itu siapa, ia tersenyum kecil. Pemuda itu berdiri di depannya dengan wajah berkeringat.
"Hei, lama gak ketemu. Kemana aja lo?" tanya pemuda itu.
"Kayak gak tahu aku aja kamu itu, Dan. Biasa, tidur kalo gak ngegame di pojok kelas" jawab Jaysha dengan candaan, disambut dengan tawa pemuda berkulit tan itu.
"Ada apa kok nyamperin aku? Ada masalah sama pacarmu?" tanya Jaysha.
"Jay, gue diputusin sama Tasya"
Gadis itu berkedip dua kali. Kepalanya miring ke kanan dengan tatapan bingung ia arahkan pada pemuda itu. Sedikit bercampur kaget juga sih, sahabatnya Fildan, diputusin duluan sama pacarnya. Biasanya juga ia yang mutusin duluan.
"Hah? Beneran putus? Gak salah denger nih aku?" tanya gadis itu memastikan. Jarinya mengorek telinganya, barang kali salah dengar. Tapi, yang ia dapatkan anggukan lemas dari Fildan. Sedetik kemudian, gadis itu tertawa tanpa suara, menimbulkan guratan dahi di wajah Fildan.
"Kenapa malah diketawain? Gak diberi dukungan moril apa gue nih?" omelnya kesal.
"Itu sih emang karma! Makane, ojok golek perkoro ambek arek wedok (Makanya, jangan cari perkara sama anak cewek). Jadinya, kamu yang diputusin duluan kan? Rasain tuh!" ejek gadis itu.
"Jadi pacarku yuk Jay, mau?"
"MATAMU A?!!"
Kedua insan tadi menoleh ke arah sumber suara. Pemuda tinggi yang gadis itu tunggu mendatanginya. Raut wajahnya terlihat kesal. Gadis itu bergumam kesal dan meninju tangan berotot milik Fildan.
"Siapa itu, Jay? Akrab bener sama lo"
Pemuda tinggi itu—Juna—menatap Fildan dengan tatapan tajamnya, yang terlihat sedikit menyeramkan. Gadis itu menatap Juna lama. Hah, sudah ia duga pasti akan seperti ini. Apalagi melihat tatapan tajam pemuda itu ke Fildan, mengalahkan ayahnya saja, yang dulu menatap Fildan dengan tatapan yang sama.
"Heum kak Juna, kenalin ini Fildan, sahabatku sejak SMP" jawab Jaysha, memperkenalkan Fildan ke pemuda tinggi itu.
"Fildan bang"
Pemuda berkulit Tan itu menyodorkan tangannya ke arah Juna, disambut dengan tangan Juna.
"Arjuna, panggil aja Juna" balasnya judes.
"Kak, ayo berangkat. Keburu tokonya tutup" ajak Jaysha. Tangannya menggandeng tangan Juna. Juna menatap gadis itu, lalu mengangguk.
"Jay, ikut dong..."
Jaysha menatap Fildan heran. Sedangkan Juna kembali melotot dengan mata lebarnya.
"Ngapain kamu ikut? Setahuku, kamu kalo aku ajak ke toko buku gak pernah mau" tanya Jaysha bingung.
"Ya elah, gue kan cuma menghibur diri doang Jay. Gak akan macam-macam kok, suer!" janji Fildan. Mukanya memelas pada gadis itu supaya diizinkan untuk ikut.
"Kak, biarin dia ikut deh. Masalah nanti, biar dia sendiri yang urus" sahut Jaysha pelan.
"Nah itu lho bang, udah diizinin sendiri sama dia! Lo bareng gue aja ya?" mohon Fildan seraya menggandeng tangan kiri gadis itu.
"Dan, aku kan mintanya sama kak Juna. Jadi, ya berangkatnya harus sama dia lah! Orang aku nungguin dia sejak tadi kok..."
"...Kalo masih mau tetep ikut, ya nanti ikutin sepeda motornya kak Juna dari belakang"
Gadis itu melepas pegangan tangan Fildan. Ia mengajak Juna dengan isyarat mata supaya segera berangkat. Juna mengangguk singkat lalu menggandeng tangan gadis itu menuju sepeda motornya. Tanpa gadis itu tahu, Juna menoleh ke belakang, hanya untuk memberi tatapan mautnya untuk Fildan.
"Dih, siapa sih? Songong bener, kayak ayahnya Jay aja. Lama-lama gue pites juga muka lo, biar gak deketin si Jay kesayangan gue" omel Fildan kesal.
****
Disinilah akhirnya mereka bertiga, di dalam toko buku langganan Jaysha. sekedar informasi, gadis berambut sedikit kemerahan itu sering pergi kesana setiap bulan untuk membeli novel terbaru. Bahkan, hingga seluruh pegawai toko sudah mengenalnya karena frekuensi kedatangannya yang sering.
Pada awalnya, gadis itu ingin mengajak Yuni untuk ikut dengannya ke tok buku itu. tetapi, gadis berkulit putih pucat itu ternyata sudah kesana hari minggu kemarin. Jadilah, ia mengajak Juna untuk mengantarnya, sekaligus untuk menemaninya.
Berhubung bertambah satu lagi orang, jadinya ia kesana yang rencananya hanya dua orang, kini jadi tiga orang. Apalagi kini mereka berdua berjalan dengan mengapit gadis itu di tengah-tengah. Serasa kerdil dia, karena tubuhnya yang pendek kalau dekat mereka berdua.
Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Di kanannya ada Juna yang menatap lurus jalanan di depannya. Sedangkan di kirinya, ada Fildan yang mulai senyum tebar pesona. Gadis itu menghela nafas lelah. Jika tahu kejadiannya akan seperti ini, ia tidak akan menyetujui Fildan untuk ikut.
"Kak Juna, Fildan"
Kedua pemuda di samping kiri-kanan gadis itu menoleh serentak, "Kenapa Jay?"/ "Ada apa Jay?"
Tangannya menunjuk area novel misteri. "Aku mau kesana dulu. Kalian ikut gak?" tanyanya.
Fildan menggeleng pelan, "Gue tunggu di dekat area novel romantis aja. Barangkali bisa langsung gue praktekin gombalannya ke pengunjung sini" candanya. Gadis itu memutar bola matanya malas. Sudah diduga, pasti jawabnnya seperti itu. Kemudian ia melirik ke arah Juna
"Kalo kamu kak?" tanyanya pada Juna.
"Gue ikut lo aja Jay, mungkin aja nemu novel yang bagus"
Jaysha mengangguk mengerti. Gadis itu awalnya ingin menarik tangan Juna untuk mengikutinya, tetapi Fildan menahan tangannya. Dahinya mengerut bingung.
"Lo duluan aja, gue masih mau ngomong bentar sama kak Juna"
Gadis itu menggerakkan bahunya pelan, lalu meninggalkan mereka di belakang.
"Jadi, ada apa?" tanya Juna datar, saat menyadari tatapan mencurigakan Fildan.
"Bang, tujuan lo apa deketin Jay tiba-tiba setelah lo ditolak sama dia?" tanyanya curiga.
"Gue gak ada maksud apa-apa. Gue cuma mau temenan sama dia, itu aja. Dan, gue juga terlanjur nyaman sama dia karena dia beda dari yang lain" balas Juna dengan tatapan datarnya. Tetapi Fildan masih tak percaya dengan pemuda yang lebih tua darinya itu
"Gue masih gak percaya sama alasan lo, bang. Pokoknya, gue akan awasin lo sama si Jay. Kalo emang niatan lo beneran temenan, gue lepasin. Tapi, kalo niatan lo supaya bisa pacaran sama dia, gue gak bisa tinggal diam. Inget itu" ancamnya. Setelah memberikan peringatan pada Juna, pemuda berkulit Tan itu berjalan menjauhi Juna yang masih berdiri disana.
Sedangkan Juna menatap Fildan dengan tatapan tidak sukanya. "Hah, saingan nambah lagi nih" gumamnya menahan kesal.