Yellow Lily

Yellow Lily
Bab 14: Juna-lous



Sejak kemarin, Juna selalu uring-uringan seperti gadis yang sedang PMS. Bisa dilihat sekarang, sampai saat ini pemuda bersurai hitam legam itu masih mendiamkan kekasihnya yang sibuk menonton video dari ponselnya. Sedangkan kekasihnya—Jaysha—tak peka sama sekali jika ia sedang dicueki oleh Juna.


"Jay?"


"Hmm? Ada apa kak?" tanya Jaysha tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel itu.


"Bisa gak kamu liat aku doang? Jangan ponsel mulu yang diliatin" pinta Juna.


Gadis itu menggeleng kecil. "Gak bisa kak. Aku lagi nonton konsernya BTS nih! Gak bisa diganggu gugat!"


Juna menghela nafas lelah. Ini sudah keberapa kalinya ya ia dicuekin karena BTS? Kayaknya sudah berkali-kali. Pemuda itu sebenarnya sudah tahu kalau kekasihnya itu sangat menyukai BTS. Kalau dipikir-pikir lagi, jika gadis bersurai sedikit kemerahan itu diberi pilihan antara dirinya atau BTS, pasti ia akan memilih BTS dulu.


Juna tak keberatan sih kalau gadis itu menyukai BTS daripada dirinya. Dia juga tak dilarang oleh gadis itu untuk main game mobile legend kok. Tapi, kali ini lain cerita. Saat sedang jalan berdua, kekasihnya lebih memilih nonton siaran ulang konser BTS di ponselnya. Kan jadi sia-sia dong perjuangannya untuk meluangkan waktunya yang sibuk untuk gadis itu.


Pada akhirnya pemuda bersurai hitam legam itu bangkir dari duduknya. Ia menatap Jaysha dengan tatapn datar.


"Ayo pulang saja deh, Jay. Daripada gue nganggur disini nungguin lo nonton konser BTS"


Jaysha menghentikan video siaran ulang di ponselnya. Gadis bersurai sedikit kemerahan itu menatap Juna dengan tatapan bingung, ditambah dengan dahinya yang mengerut. Kenapa suara kak Juna tiba-tiba berubah jadi datar? Pikirnya bingung.


"Ada apa kak, kok mukanya jadi gak enak gitu kalo dilihat? Ada masalah?" tanyanya bingung.


Pemuda itu menggeleng kecil. Ia mengisyaratkan Jaysha supaya mengikutinya. Pemuda bersurai hitam legam itu berjalan duluan, meninggalkan Jaysha yang kesusahan untuk mengikuti karena langkah kakinya yang panjang.


"Kak Juna, jangan cepat-cepat dong!" panggil gadis itu dengan masih berusaha menyamakan langkah kakinya di samping Juna. Tapi karena kakinya yang pendek, selalu saja ia ketinggalan jauh dengan Juna. Sedangkan Juna masih berjalan di depan sana, menghiraukan gadis itu yang masih terus mengikutinya dari belakang.


"Kalo gak bisa cepat-cepat ya sudah. Salahnya sendiri punya kaki pendek amat" balas Juna datar tanpa melihat ke belakang. Pemuda itu tak menyadari jika Jaysha sudah menatapnya dengan tatapan kesal.


"Kak! Tolong berhenti dulu dan balik badan, bisa?!"


Akhirnya, Juna berhenti dan berbalik menatap kekasihnya yang memanggilnya tadi. Ia berdehem singkat, menanyakan apa yang akan dibicarakan oleh kekasih pendeknya.


Jaysha berjalan mendekati pemuda itu. Mata sipitnya menatap Juna yang masih memandangnya dengan wajah datar.


"Kak Juna, kalo aku ada salah, tolong kasih tahu aku. Kalo kakak gini caranya, gimana aku bisa tahu salahku dimana?"


"...Jadi kak, apa yang kakak permasalahin dari aku? Sampe kakak tiba-tiba wajahnya kaku kayak kertas karton di rumahku?" lanjut gadis itu dengan lemah lembut. Tapi suaranya tak lantas membuat Juna jadi luluh. Wajahnya masih tetap datar seperti tadi.


"Pikirin sendiri apa salahmu itu. Kalo gue beritahu dimana letak kesalahan lo, yang ada gue yang lo marahin" Setelah itu, Juna langsung berjalan lagi meninggalkan Jaysha yang masih berpikir di sana.


"Apalagi sih salahku kali ini? Seharusnya diomongin bareng-bareng dong! Malah ditinggal pergi, yang ada aku yang bingung mikir!" monolognya kesal.


****


"Oh~ jadi gitu kejadiannya" Yuni menganggukkan kepalanya paham sembari meminum jus alpukatnya. Di depannya ada si gadis yang sedang kebingungan karena pacarnya lagi ngambek.


Gadis berambut sebahu itu sedari tadi mendengarkan curhatan dari sahabat karibnya. Baru kali ini, Jaysha mengajaknya bertemu untuk sesi curhatan tentang masalah percintaan. Biasanya sih, ya cuma mengajaknya untuk makan bareng, atau kalau tidak ya main bareng di tempat biasa.


Rasanya sih, ia ingin menertawakan gadis bersurai sedikit kemerahan itu. Bibirnya mengerucut kesal. Tangan mungilnya juga tak henti-henti mengecek ponselnya, barangkali ada chat masuk dari si kekasih di seberang sana. Nyatanya, ia sudah dicueki selama 10 hari. Bahkan, yang biasanya pemuda tinggi itu akan menemui Jaysha untuk sekedar makan bareng, kini tak menghampirinya sama sekali.


"Yun!! Gimana nih?!! Masa dia ngambek beneran sama aku? Jadi berasa jomblo nih aku" rengeknya kesal.


"Yah.. kamu emang salah sih. Udah tahu diajak si pacar ngedate saat dia lagi gak ada waktu luang untuk kamu, eh kamunya malah nyempet-nyempetin nonton BTS. Ya gak terima dia"


"Tapi kan Cuma bentaran doang Yun!" bantah Jaysha.


"Enggak..."


Yuni menjentikkan jari putihnya. "Nah! Tahu gitu lho! Jadi, mau minta maaf gak sama dia?" dibalas dengan anggukan lemah dari gadis bersurai .


"Ya sudah sana, telfon dia!"


Jaysha mencari kontak Juna di ponselnya. Gadis itu menelfon pemuda tampan di seberang sana, tapi yang terdengar hanyalah nada sambung telfon.


"Gak diangkat sama dia, Yun" ujarnya sedih.


Gadis berambut sebahu itu mengernyit. Ia curiga sekarang. Kenapa tidak diangkat oleh kak Juna?


"Kalo gak diangkat, besok aja deh kamu temuin dia. Bawain sogokan sekalian, biar dia maafin kamu"


****


Sesuai saran dari Yuni, Jaysha menemui Juna di kelasnya. Ia mengintip ke dalam kelas pacarnya. Banyak sekali siswa yang bercanda ria di dalam sana. Ada juga Juna yang sibuk memainkan kamera DSLR yang entah miliknya atau bukan.


Gadis itu jadi ragu sekarang mau manggil dia dari luar. Kan malu nanti kalo di 'cie-cie' in oleh teman-temannya Juna.


"Lho, Jay? Mau nemuin Juna ya?"


Jaysha menoleh ke samping kiri. Terlihat seorang pemuda berkulit sedikit tan menatapnya sambil menggerakkan alisnya.


Gadis itu mengangguk kecil, "Kak Rama, tolong panggilin kak Juna ya? Ini pentiing banget"


Pemuda itu mengacungkan jempolnya, lalu masuk ke dalam kelas. Beberapa saat kemudian, yang ditunggu akhirnya keluar dari sana dengan kamera yang masih ditangannya.


"Udah tahu salah lo apa?" tanyanya ketus.


Jaysha menganggukkan kepalanya pelan, "Iya kak, udah tahu. Maaf ya kak, jadi ngacuhin kak Juna padahal kakak udah mau nyempetin waktu buat aku" jawabnya penuh penyesalan.


"Jadi??"


"Ya itu.. janji deh gak gitu lagi, suer! Kalo aku gitu lagi, bisa kakak cubit pipiku sampe melar deh!"


Juna tersenyum kecil. Tak sia-sia ia mengacuhkan chat dari gadis itu selama 10 hari kalo hasil akhirnya seperti ini.


Pemuda itu mengusak pelan surai kemerahan Jaysha, sembari menggumamkan pujian untuk gadis itu.


"Lalu? Itu apaan? Buat aku?" Tanya Juna, melirik benda yang ada di tangan kiri gadis itu.


"Oh ini?? Kata siapa buat kakak? Orang ini buat Fildan" jawab Jaysha main-main.


"Seng genah?!(Yang benar saja?!)"


"Haduh kak, canda doang!" ujar Jaysha.


"Gak ada bercandaan kalo buat si Item itu!"


Ya ampun, gara-gara satu candaan jadinya malah bertengkar lagi kan?


Tapi, namanya pasangan kalo gak ada pertengkaran ya mana asyik? Hehehe..