Yellow Lily

Yellow Lily
Bab 12: Akhirnya Official



Hari ini sungguh tak pernah dibayangkan oleh Jaysha. Arjuna Mahesa, pemuda tampan yang selama beberapa minggu terakhir dekat dengannya, kini menyatakan cintanya lagi. Bukan di lapangan futsal, dengan ditonton beberapa siswa yang lalu lalang seperti saat itu. Tetapi pemuda itu menyatakan cintanya dengan disaksikan oleh teman dekat pemuda itu, antara lain yaitu Tama, Noel, Haikal, Jihan. Tak ketinggalan juga, Yuni sahabatnya itu juga menyaksikan dengan kamera di tangannya.


Matanya menatap Juna yang masih menunggu jawaban darinya. Pemuda itu menatapnya penuh harap. Ia menyatakan perasaannya dengan berlutut di bawahnya, seolah-olah ia sedang melamar gadis itu.


Dia—Jaysha—menahan tawanya. Sebelah tangannya menutup mulutnya, tidak ingin suara tawanya yang tertahan keluar dari bibirnya.


"Jahe, jangan tertawa! Cepetan dijawab, jangan digantungin mulu tuh si Juna!" Yuni menyenggol bahu Jaysha sembari menunjuk Juna yang masih berlutut disana. Jaysha mendengus pelan, lalu kembali menatap Juna.


"Kak, gak lelah apa gitu terus? Berdiri ajalah kak"


Juna berdiri dari posisi berlututnya. "Jadi, jawabanmu apa?"


"Harus dijawab sekarang ya kak?"


"Ya iyalah, Jay!! Masa harus dijawabnya besok?! Emangnya PR sekolah?!!"


Yakinlah jika yang tadi bukan Juna yang menjawab, tapi segerombolan teman-temannya yang tidak sabaran karena sikap gadis itu yang menunda-nunda waktu.


"Iya kakak-kakakku tersayang, jangan ngegas napa! Kan ya butuh mikir ini!" balas Jaysha menaikkan nada suaranya.


"Tapi kak Juna, maaf ya..."


"Aku ditolak lagi ya?" potong Juna dengan tatapan sendu.


"Hmm? Kak, aku belum selesai ngomong"


"Udah tahu kok kalo kamu nolak aku habis ini"


Juna berbalik, akan berjalan pergi dengan wajahnya yang sendu. Yuni menatap Jaysha dengan tatapan tak terima. Tama dan Haikal hanya menghela nafas pasrah, sudah terlampau hafal dengan gadis itu yang pastinya menolak. Sedangkan Noel dan Jihan berusaha menghentikan pemuda tampan itu sebelum gadis berkuncir kuda menjawab pernyataan cintanya.


"Yah, udah mau pergi. Padahal aku terima lho" ujar Jaysha pura-pura kecewa.


Juna berbalik menatap gadis itu. Terlihat disana kalau gadis berkuncir kuda itiu tersenyum manis dengan matanya yang semakin menyipit ketika tersenyum.


"Yakin kak, mau pergi gitu setelah aku terima? Aku uninstall lagi lho kak jadi pacarnya" godanya.


Gadis itu tersentak kaget. Juna tiba-tiba memeluknya erat, di depan teman-temannya lagi. Pipi gembilnya samar-samar memerah karena malu. Apalagi, ditambah dengan seruan 'cie-cie' dari teman-temannya.


"Akhirnya official guys, si jomblo ngenes kita!!" seru Tama kegirangan.


"Akhirnya, sahabatku yang cueknya masyaallah ini punya pacar juga! Jangan lupa PJnya Jahe! Jangan kayak yang kemarin-kemarin!" ancam Yuni.


"Berita terbaru! Si Tampan dan Jones Pangeran Sekolah, Akhirnya Jadian juga sama Si Cuek Bermulut Pedas dari Pemasaran! Noel, gue izin jadiin ini berita sekolah ya? Pasti laris kalo dipasang di papan mading" izin Haikal yang ikut senang dengan peristiwa langka ini.


Noel mengangguk dengan tawa kecil menghiasi wajahnya. "Silahkan saja, ketum jurnalistik sekolah. Toh, meskipun lo gak memasang ini di mading, pasti ada saja yang menyebarkannya nanti"


Di depan sana, Juna akhirnya melepaskan pelukan eratnya. Ia tersenyuml lebar, seolah-olah hari ini adalah hari terakhirnya untuk tersenyum.


"Terima kasih sudah mau menerimaku yang Subhanallah ini untuk bersamamu yang Astagfirullah"


"Itu muji apa ngejek sih?!"


****


Ucapan Haikal tempo hari lalu memang tidak main-main. Seniornya dari jurusan TKJ benar-benar melakukannya. Terbukti, ada secarik pengumuman mengenai dirinya yang jadian dengan Juna, terpasang dengan cantiknya di papan mading sekolah. Meskipun itu tidak mencantumkan namanya dan juga foto saat kejadian tersebut, tetapi tetap saja gadis itu selalu malu saat membaca mading tersebut.


Gadis itu menghela nafas lelah. Ia menatap ke depan, melihat beberapa siswi yang bergerombol untuk membaca mading tersebut. Sesekali ia mendengar mereka bergosip ria tentang siapa yang jadi pacar pangeran tampan sekolah.


"Siapa ya kira-kira jadi pacarnya kak Juna?"


"Kak Tiffany mungkin yang jadi pacarnya? Kan dia juga cueknya banget kalo sama kak Juna"


"Bukannya dia udah punya pacar sebelum ini ditempel ya? Mungkin adik kelas yang jadian sama kak Juna*"


"Hishh, orangnya disini kali yang kalian gosipin itu" gumam Jaysha pelan. Mulutnya menyeruput minuman yang ia bawa saat melihat-lihat mading tadi. Tangannya menggenggam ponselnya, sesekali melihat apakah ada pesan dari seseorang.


Matanya kembali melirik ke depan. Gerombolan siswi masih ada disana. Bosan melihat mereka, akhirnya gadis itu beranjak dari duduknya, berjalan menuju kelasnya.


Pikirannya berkelana kemana-mana saat berjalan. Ia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Gadis itu berpikir, tidak ada salahnya untuk menengok kekasih tampannya di daerah jurusan elektronika.


Ia berbalik untuk menuju kelas pemuda itu. Langkah kakinya berhenti saat ada beberapa siswi yang menghadang jalannya.


Jaysha mendongakkan kepala. Ada beberapa gadis yang tak ia kenal, sedang menatap dirinya dengan tatapan sinis.


"Ada apa ya, kakak-kakak?" tanya gadis itu sopan.


"Lo, jujur aja ya. Lo kan yang jadian sama Arjuna?"


Jaysha mengerutkan keningnya bingung. Kenapa ia bisa tahu ya?


"Maaf kak, tapi tahu darimana info tersebut?"


"Lo gak perlu tahu gue dapet info itu darimana. Tapi, jauhin dia karena gue yang berhak dan pantas sama dia!"


Jaysha menghela nafas kasar. Sumpah, kakak kelasnya yang satu ini sungguh menyebalkan! Ingin sekali ia hajar dengan pukulannya yang tak main-main. Tapi, ini masih di area sekolah. Apa ia kasih kata-kata pedas saja ya, biar mereka kapok sekalian?


"Kak Naysila yang terhormat dan beserta geng anda. Maafkan saya karena harus ngomong ini ke kalian semua. Apa hak anda nyuruh saya menjauhi kak Juna? Dia sendiri yang mau temenan sama saya. Jadi, kenapa anda menyuruh saya untuk berjauhan dengan teman saya? Padahal anda bukan orang tuanya"


Ini pertama kalinya gadis itu mau bicara panjang lebar dengan kakak kelas. Perkataannya membungkam dengan telak geng Naysila. Karena tak terima dihina seperti itu, Naysila berniat akan menarik rambut gadis itu, sebelum tangannya ditahan oleh Juna yang kebetulan lewat.


"J-Juna? Ngapain kamu nahan tangan aku?!" ujar Naysila tak terima.


"Nay, kalo lo mau macem-macem sama si Jahe, gue gak akan segan-segan ngelaporin tindakan lo ke komdis" ancam Juna.


Tangannya menghempaskan kasar tangan gadis berparas cantik itu. Ia menggenggam tangan Jaysha dan menarik gadis itu menuju taman sekolah yang sepi. Juna melepaskan genggaman tangannya lalu menatap gadis itu dengan tatapan menghakimi.


"Jadi, bisa jelaskan kenapa kamu bisa bertengkar sama golongannya cewek itu?"


"Kak, aku gak ada masalah sama mereka semua. Mereka duluan yang nyuruh aku ngejauh dari kakak. Ya mana tahan aku ngata-ngatain mereka" bela Jaysha.


"Lagipula bibirku capek buat ngomong sebanyak itu ke kakak kelas yang sukanya ngebully kayak dia"


Juna menangkup pipi Jaysha, antara gemas dan kesal.


"Lain kali jangan gitu lagi ya? Bikin aku khawatir aja" pintanya.


"Gak janji ya kak? Mungkin aja kalo di luar sekolah aku bakal pukul pipinya biar lebam"


"Jaysha!!"


"Hehehe, bercanda kakak Juna yang tampan" cengir Jaysha disusul dengan cubitan dari Juna dan erangan kesakitan dari mulut gadis itu.