
Suasana tegang menguar dengan jelas di salah satu ruangan di rumah itu. pelakunya yaitu seorang pria berkumis tipis yang sedang menatap tajam seorang pemuda di depannya. Sedangkan pemuda bersurai hitam legam itu tersenyum kaku karena tatapan tajam itu.
Pemuda itu—Juna—berpikir apa salahnya pada pria itu, sampai ditatap sebegitu tajamnya, seolah-olah ia itu adalah perampok. Ia mengharapkan Jaysha menemaninya di ruangan itu. Akan tetapi, gadis itu sudah ditarik duluan oleh ibunya ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Jadi, kenapa kamu bisa nganterin putri saya ke sini? Padahal tadi dia berangkatnya sendirian" tanya pria yang lebih tua.
"Hanya kebetulan tadi pak, saya ketemu Jaysha di warung soto. Karena kasihan nanti dia pulangnya jalan kaki, jadi saya anterin sekalian" jawab Juna pelan. Tetapi, jawaban yang diberikan Juna tidak meyakinkan pria yang menjabat sebagai ayahnya Jaysha. Dia masih curiga akan maksud tersembunyi dari pemuda yang duduk di depannya.
"Yah, natapnya jangan gitu amat. Kasihan kak Juna, mukanya jadi keliatan pucat kan?"
Jaysha menyeletuk di belakang tubuh sang ayah. Tangannya memegang nampan berisi jus jeruk dan makanan ringan yang ia bawa dari dapur. Kepalanya menggeleng pelan melihat sifat 'protektif' sang ayah yang menurutnya keterlaluan.
Setelah ia meletakkan nampan tersebut di atas meja, barulah ia duduk di samping Juna yang menatapnya dengan senyum tipis. Disusul dengan ibunya yang juga duduk menghadap gadis itu.
"Jangan ngelihatin anak saya segitunya" ujar ayahnya, yang menyadari bahwa Juna menatap anak gadisnya dengan senyuman.
"Yah, galak amat sih. Kak Juna itu anak orang lho, nanti kalo aku dimarahin sama orangtuanya gara-gara dimarahin ayah, gimana nanti aku jawabnya?" protes Jaysha sebal.
"Masa' anak cowok dimarahin gitu saja nangis? Kalah saing sama kamu" balas ayahnya santai. Tangan besarnya mengambil segelas jus di mejanya dengan wajah seolah-olah ia tak mengatakan hal yang salah.
Gadis bersurai sedikit kemerahan itu merengut sebal. Selalu saja begini. Setiap ada pemuda yang kebetulan mengantarnya ke rumah, pasti akan diintrogasi oleh ayahnya terlebih dahulu sebelum pulang. Dan, yang ia ingat terakhir kali, teman barunya itu berakhir menjauhinya gara-gara takut sama ayahnya.
"Oh, jadi nama kamu Juna ya? Satu kelas sama Rena?" tanya ibunya lembut.
Juna mengangguk sambil tersenyum, "Iya tante, nama saya Arjuna, kakak kelasnya Jaysha"
"Rena, seleramu yang lebih tua? Ayah gak pernah menyangkanya" sahut ayah tiba-tiba dengan menatap Jaysha tajam.
"Ayahku yang rupanya tampan kayak pemain ludruk, aku sama kak Juna hanya temenan. Aku kan matuhin omongan ayah yang jangan pacaran dulu sebelum kerja" balasnya malas dengan penekanan kata di akhir kalimat. Matanya berputar malas. Kapan akan selesai introgasinya? Ia butuh tidur sekarang.
"Jadi, bener yang dibilangin sama anak saya kalau kamu hanya temennya?"
Juna mengangguk pelan, mengiyakan jawaban pertanyaan dari ayah gadis itu.
Pria itu mengangguk pelan. Ia cukup puas dengan jawaban yang diberikan oleh pemuda itu. "Baiklah kalau begitu, kamu saya terima jadi calon mantu saya"
"HAHH?? SENG GENAH AE, YAH! OJOK GUYON SAMPEAN!"(YANG BENAR AJA, YAH! JANGAN BERCANDA!) sahut Jaysha kaget. Sedangkan Juna hanya melongo bingung. Lah? Hanya menjawab pertanyaan semudah itu, ia langsung direstui sama ayah si (calon) gebetan?
"Maksudnya calon mantu disini, mungkin saja nanti tiba-tiba ia ngelamar kamu di masa depan. Bisa jadi seperti itu nanti?"
*****
Tak terasa hari ini sudah hari senin. Tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa lainnya. Yang berbeda yaitu dari salah satu gadis bertubuh berisi di sekolah itu. Mata sipitnya terlihat semakin sipit. Kantung mata yang biasanya tak terlihat jelas, kini terlihat sangat jelas. Bibir tebalnya selalu menguap karena mengantuk.
Kenapa bisa seperti itu? Karena sejak kedatangan Juna ke rumahnya dan ucapan ayahnya mengenai 'calon mantu'itu, sedikit membuatnya kepikiran. Oh, bukan sedikit lagi, tapi banyak. Bahkan saking kepikirannya, ia yang seharusnya tadi sudah masuk mengikuti lomba seleksi, tidak mengikutinya tadi dan berakhir ia didiskualifkasi.
"Wow, jahe? Kamu?"
Jaysha menatap dua orang yang menghampirinya yang duduk di gazebo dekat kelas. Ia mendongak sebentar hanya untuk menatap mereka dengan wajah mengantuk.
"Ini Jahe apa Panda? Kok hitam bener tuh kantung mata lo?"
"Habis ngapain sih kamu? Kayak gak tidur sama sekali tahu wajahmu itu" tanya Yuni penasaran. Ia menawarkan air mineral yang dibawanya dari kantin.
Jaysha menggeleng pelan, menolak minuman yang ditawarkan Yuni padanya. "Gara-gara ayahku ngomong calon mantu, aku jadi susah tidur" balasnya dengan suara kecil.
"Lo udah mau dinikahin?"
Kedua gadis itu menatap tajam Tama. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Mulutmu itu Tam, kebiasaan ngomongnya sembarangan!" celetuk Yuni.
"Apa? Gue kan cuma nanya. Bukannya gue doain lo yang gak-gak" alasan Tama.
"Kalian berdua ini, lama-lama aku sumpahin jadi suami istri nanti" sahut Jaysha jengah.
"Ogah!"/ "Amiin!!"
Gadis bersurai sedikit kemerahan itu mendengus malas. Sudah menjadi kebiasaan, melihat mereka berdua seperti pasangan kekasih. Padahal juga bukan.
"Oh ya Tam, jangan bilangin kak Juna ya kalo aku ada disini." pintanya.
"Kenapa? Ada masalah lagi lo sama dia?" Tanya pemuda berambut sedikit keriting itu bingung. Begitu juga dengan Yuni yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Emang bener sih, aku ada masalah sama dia. Tapi, jelasin ke kalian itu yang susah" elak Jaysha.
"Jangan bilang kalau calon mantu yang kamu ceritain tadi itu kak Juna?!" tebak Yuni dengan telunjuknya menunjuk Jaysha curiga. Gadis itu mendesah pelan, kemudian mengangguk.
"Makanya itu, aku sengaja gak nemuin dia hari ini karena masalah itu. Jadi, tolong ya Tam, jangan kasih tahu kak Juna kalo aku disini. Bisa-bisa disamperin beneran sama dia"
"Woles ae, gak akan gue kasih tahu. Tapi, kalo bang Noel gak papa kan? Tadi ia bagi-bagi makanan gratis"
Gadis itu mengacungkan jempolnya, tanda setuju. Siapa juga yang menolak pesona makanan gratis? Hanya orang gila saja yang mungkin gak akan menerimanya.
Tama menghubungi seseorang yang diyakininya adalah kak Noel. Setelah itu, ia memasukkan lagi handphonenya ke kantong celana.
"Udah gue bilangin tuh, habis ini bang Noel pasti kesini. Gue sama Yuni balik dulu, oke?"
Jaysha mengangguk pelan. Tangannya ia goyangkan, tanda mengusir mereka berdua. Yuni mencebik karena diusir secara terang-terangan. Sedangkan Tama, ia sudah biasa diperlakukan seperti itu. Jadi, ia menarik pergelangan tangan gadis berkulit pucat itu supaya mengikutinya.
Kini, Jaysha menunggu kak Noel yang —katanya— bagi-bagi makanan gratis. Sudah 10 menit dia menunggu, tetapi pemuda jangkung itu tak muncul-muncul juga. Ia jadi berpikiran, apa ia dibohongi lagi oleh Tama? Kalau memang benar, ia akan menendang kakinya kuat-kuat sehabis pulang sekolah nanti.
Tetapi, pemikirannya hilang seketika, sesaat setelah gadis itu merasakan tepukan halus di pundaknya. Ia merasa sangat senang sebelum....
"Oh Kak Noel, mana makanan..."
"...Nya? O-oh, halo kak Juna"
...ia tahu kalau yang mengantarkan makanan itu adalah orang yang dihindarinya sejak pagi.
"Dek, bisa kita bicara?"