Yellow Lily

Yellow Lily
Bab 5: Kebetulan Berujung Introgasi Dadakan



Jaysha menghela nafas lelah. Tangannya yang agak kasar memegang kepalanya dengan mata tertutup. Mata sipitnya terbuka sedikit hanya untuk melihat judul makalah yang tergeletak di depannya. Kemudian, ia singkirkan lagi makalah itu lalu menatap kalender di dinding kamarnya dengan tatapan malas.


Sekarang tanggal 17 November. Sedangkan seleksi lomba akan dimulai besok lusa. Mengingat perlombaan itu hanya menimbulkan rasa pening di kepala. Ia menepuk dahinya pelan. Matanya menatap pemandangan gunung Semeru –yang terlihat tertutup oleh awan dan langit yang kini berwarna jingga— lalu mendesah pelan.


"Bisa-bisa stress aku gara-gara mikirin LKS itu. Apa aku nyerah aja ya?" gumamnya pelan. Kakinya beranjak keluar dari kamar bernuansa biru laut itu, hanya untuk pergi ke dapur. Saat memasuki area dapur, ia mendapati sosok ibunya sedang memanggang kue brownis. Gadis itu berjalan mendekati ibunya dan merangkul pinggangnya dari belakang.


"Bun, luwe..." (laper..)


Sosok wanita yang dipanggilnya bunda tadi menoleh. "Masak dewe kono lho, wong yo wes iso masak ae kok. Bunda sek ngurusi iki" (Masak sendiri sana, orang juga udah bisa masak kok. Bunda masih ngurus ini)


Jaysha merengut dengan tatapan memelas, "Lagi gak mood masak bun. Nanti rasanya gak enak kalau dipaksain. Masakin ya bun?" bujuknya dengan menarik pelan ujung baju milik ibunya. Ibunya hanya diam saja, lalu merogoh kantung celananya.


"Nih, beli soto sana. Mumpung bunda lagi pengin nih. Beli 3 ya? Buat ayahmu sekalian"


Sang bunda memberikan dua lembar uang berwarna hijau ke tangan gadis itu. Sedangkan gadis itu semakin merengut kala ia disuruh keluar untuk membeli pesanan bunda tersayangnya.


"Bun, kan aku pinginnya dimasakin, kok malah beli sih?" rengeknya.


"Kelamaan kalo buat, mending beli. Gak perlu ribet-ribet buat nyalain kompor sama gak buang-buang waktu"


"Tapi jauh bun, aku males jalan kaki. Kakiku lagi sakit nih, otakku juga lagi stress" curhat gadis itu.


"Halah, alasan tok. Ada sepeda motor kenapa gak dipake?"


"Baru 2 minggu yang lalu bun aku belajar"


"Kalau gak mau ya sudah, bunda beli sendiri. Tapi, jangan minta nanti!" ancam wanita yang lebih tua.


Akhirnya gadis berambut sedikit kemerahan itu mengangguk ogah-ogahan. "Iya deh iya, Rena berangkat" jawabnya lesu. Ia berpamitan pada ibunya lalu berjalan pelan menuju pintu, dengan tangan meraih hoodie berwarna abu-abu yang tergantung di gantungan dekat ruang tengah.


"Rambutnya itu, dikuncir dulu! Nanti nutupin mata pas nyetir!" teriak ibunya dari dapur.


"Aku jalan kaki bun! Gak dikuncir ya gak ada masalah!" balasnya sambil berteriak tak kalah kencang. Ia memakai sandal yang biasa ia pakai keluar rumah dan membuka pintu rumah. Tapi, memang pada dasarnya ini malam minggu, masih sore sudah banyak pasangan muda-mudi yang berkeliaran di depan rumahnya karena lokasinya yang dekat dengan taman.


Gadis itu mendesah pelan. Matanya berputar malas. Ini yang paling ia benci, keluar rumah saat malam minggu. Apalagi keluarnya sendirian, serasa dia hanya ngontrak di dunia ini kalau malam minggu!


"Ckk, perasaan masih sore, tapi udah ada aja yang keluar bareng pasangan masing-masing. Lha akunya kapan?" curhatnya pada angin yang lewat.


Tangannya ia letakkan di saku hoodie abu-abu yang ia pakai. Ia tutupi kepalanya dengan tudung hoodie, lalu berjalan cepat dengan kepala menunduk. Tapi, mungkin karena ia memang terlalu perasa, ia merasakan orang di sekelilingnya sedang menatapnya.


Karena pikirannya itu, gadis bertubuh sedikit berisi itu berjalan semakin cepat menuju warung soto langganan keluarganya yang semakin dekat. Sesudah ia masuk ke dalam warung, ia membuka tudung hoodienya dan mengambil nafas karena lelah berjalan cepat tadi.


"Kenapa Jay, kok ngos-ngosan? Kayak dikejar hantu saja"


Jaysha menatap penjual soto dengan cengiran. "Habis dipelototin sama pasangan muda-mudi yang sibuk ngedate, mang"


"Dasarnya kamu yang parnoan, Jay. Makanya, cari pacar sana"


"Sama ayah aja aku dilarang pacaran dulu sebelum kerja, mang. Kalau ketahuan, bisa-bisa dijadiin sate aku di rumah" balas gadis itu disertai tawa di akhir.


"Oh ya mang, soto 3 ya? Kayak biasanya, yang punya ayah banyakin jeroannya"


"Oi Jahe, ngapain kamu telfon di jam segini? Tumben banget"


"Temenin dong jalan ke rumah. Aku males nih pulang sendirian" pintanya.


"Waduh, telat kamu kalo minta ke aku. Aku baru saja keluar sama kak Haikal dan Tama"


"Lho kok? Yun, kalo mau kencan tuh ya pilih salah satu dong. Jangan maruk amat jadi cewek, semua jangan diembat"


"Palamu! Orang mereka pingin beli hadiah buat saudara mereka, makanya aku diseret keluar sama mereka berdua!"


"Jadi, gak bisa ya?" tanyanya sedih.


"Maaf ya Jahe"


Setelah itu, hanya terdengar nada sambungan terputus. Gadis itu menatap layar handphonenya dengan tatapan sendu. Harapan satu-satunya hanyalah Yuni. Sekarang, gadis berkulit putih pucat itu tak bisa dimintai tolong karena sudah diseret duluan oleh dua pemuda yang—menurutnya—menyebalkan itu.


"Masa' aku harus jalan sendirian lagi sih ke rumah?"gumamnya sendu.


"Bareng gue aja gimana?"


Jaysha menatap seseorang di sebelahnya dengan tatapan kaget. Seorang pemuda yang beberapa minggu ini sering menemuinya di sekolah, kini sedang menatapnya dengan senyuman.


"Kak?! Sejak kapan disini?" tanya gadis itu curiga.


"Heum, sejak lo telfonan sama seseorang di seberang sana" jawabnya santai.


"Gimana? Mau gak? Mumpung gue bawa motor" tawarnya.


Jaysha mengangguk pasrah. "Iya deh, bareng aja kak Juna. Daripada jalan sendirian di tengah kerumunan pasangan di jalan nanti"


Mungkin ini keputusan yang menguntungkan, lebih tepatnya untuk Juna. Karena, pemuda itu tersenyum senang tanpa diketahui gadis itu karena sedang mengambil pesanannya.


****


Suara deru motor memasuki area sebuah rumah di kawasan perumahan itu. Motor matic berwarna hitam itu berhenti di depan pagar. Kemudian, seorang gadis turun dari motor tersebut dan melepaskan helmnya. Tangannya menyerahkan helm tersebut ke pemilik motor.


"Kak Jun, makasih ya udah dianter sampe rumah. Jadi ngerepotin" ujar Jaysha sungkan.


"Gakpapa Jay. Daripada di rumah terus, diomelin sama bapak gue" balas Juna kalem.


"Gak mampir dulu kak?" tawar gadis itu.


"Boleh emang? Tapi malu dek, gak bawa buah tangan"


"Rena, bawa siapa tuh? Suruh masuk gih"


Jaysha menoleh ke arah pintu masuk. Ibunya ada disana, menantinya dengan senyuman yang sulit diartikan, bersama sang ayah yang berkacak pinggang dengan wajah datar. Sudah ia tebak, mungkin kali ini ia dan kak Juna akan diinterogasi oleh kedua orangtuanya, pikir gadis itu.


"Tuh kak, ayo mampir dulu. Sekalian bantuin untuk jelasin ke mereka, oke?" ajak gadis itu. Ia memegang tangan Juna dengan tatapan memelas. Juna mengangguk mengiyakan permintaan gadis itu, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi padanya setelah ia memasuki kawasan teritori dari orangtua Jaysha.