
"Cieee.... yang ditembak sama kakel~ PJ dong"
Jaysha menoleh ke Karis. "Enak aja, gak ada PJ!! Dia gak aku terima" balasnya judes.
Gadis itu mengernyit. "Lho? Kumaha atuh?? Kan kemarin beneran ditembak?"
"Tau ah! Bodo amat, ra ero dan ra ngurus (Gak tau dan gak peduli)". Tangan mungilnya memainkan game cacing alaskanya yang sudah bertambah besar. Tapi tepukan keras di bahunya membuat jarinya terpleset dan malah menabrakkan cacingnya.
"Woi, Jahe! Gak bilang-bilang kalo deket sama kak Juna!"
"Jamput!! Matek ilho!!!(Mati ini!!)"
Jaysha menatap gadis yang tadi memukul bahunya keras dengan tatapan tajam. Yang ditatap hanya nyengir tanpa ada rasa bersalah.
"Liat nih! Jadinya mati kan?!!" Ujar Jaysha tak terima.
"Sorry Jahe, namanya kelewat excited" tangannya mengadah ke arah Jaysha, "PJ dong.... "
"Kenapa sih kalian berdua mikirnya aku sama kak Juna jadian?!! Orangnya aja kemarin aku tinggal duluan!" Nah kan, kalau sudah marah, langsung keluar uneg-unegnya dari tadi.
"Sabar atuh neng, jangan marah-marah..."
"Nanti diputusin sama kak Juna lhoo... nanti kalo lo gak kalem lagi malah dianya gak mau sama lo" goda Lisa dengan mata yang dinaik-turunkan.
"Biarin! Emang itu yang maksudku dari tadi kok" jawab Jaysha judes.
"Itu bukannya Kak Arjuna ya??"
"*O iyaa bener, ngapain kesini?"
"Ngapelin Jay kali*"
Suara teman-temannya yang saling berbisik terdengar oleh Jaysha. Gadis itu menoleh ke arah pintu dan melihat sosok pemuda yang tadi dibicarakan oleh Karis dan Lisa sedang berdiri di depan sana. Pemuda itu menunjuk Jaysha dan menggerakkan jarinya, seolah-olah ia memanggil gadis itu untuk keluar.
"Gih sana, disamperin tuh sama ayang beb"
"Ayang beb, ndasmu (kepalamu)"
Mulutnya memang mengumpat Lisa, tapi ia tetap menghampiri Juna di depan kelas.
"Ngapain kesini kak?"
Juna menyodorkan tas kain yang entah isinya apa, "Buat kamu"
"Gak usah repot-repot kak. Nanti aku balikin barangnya susah".
"Ngapain dibalikin? Kan emang buat kamu" heran Juna.
Jaysha menatap Juna lama. Kemudian mengalihkan perhatian ke arah kelasnya yang sedang enak-enaknya memperhatikan mereka berdua.
"Kak, sebenernya aku mau ngomong penting. Tapi... mereka..."
Juna mengangguk paham sambil tersenyum tipis. Ia menggandeng lengan mungil gadis itu.
"Kita mau kemana, Jaheku?"
"Terserah kak..." Ngomongnya memang biasa saja. Tapi pipinya sudah terlihat memerah seperti tomat. Kenapa? Karena panggilan Jahe kalau Juna yang bilang kayak panggilan sayang begitu. Jaysha sama juga kayak cewek lainnya, kalo dipanggil dengan nada lemah lembut, apalagi yang manggil orang ganteng, ya mana nolak, hehe...
Juna menggandeng gadis itu menuju perpustakaan yang sedang sepi pengunjung karena memang waktunya pelajaran dan kebetulan juga penjaganya lagi istirahat makan siang.
"Nah, sekarang mau ngomong apa?" Tanya Juna lemah lembut.
"Kak, yang kemarin..."
"Kalo kamu nanya soal aku yang nembak kamu kemarin, emang bener"
Jaysha mendongak untuk menatap Juna sebentar. Menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan olehnya. Tapi, melihatnya yang sedang menatap dirinya dengan tatapan itu, membuatnya....
Sedikit kesal sih..
'Beneran jujur nih kayaknya'
"Jadi, gimana? Mau nerima aku? Aku memang gak bisa selalu janji kalau aku akan selalu sama kamu kayak perangko. Tapi, yakin aja kalau aku akan selalu dengerin keluh kesahmu kayak buku diary"
Gadis itu meninju pelan perut Juna. Kesal juga digombali kayak gitu. Juna hanya meringis sambil memegangi perutnya yang kena tinju.
"Emangnya kakak tahu kalau aku punya buku diary? Gak kan? Lalu, kenapa buat perandaian kayak gitu? Gak terlalu berguna buat aku kak" Tatapan mata yang sayu sedikit menyebabkan Juna bertanya-tanya, apa ada yang salah dari kata-kata gombalannya?
"Kak, tapi maaf ya aku belum bisa nerima kakak karena ada suatu hal yang kalo aku bilang sama kak Juna mungkin gak bakal paham. Permisi"
Setelah berujar seperti itu, Jaysha meninggalkan Juna yang memandangnya dengan tatapan bingung.
"Apa ada yang salah sama omongan gue?"
"Jahe, mana si Pucet Yuni? Gue nyariin dari tadi gak ketemu"
Jaysha menghela nafas lelah. Selalu saja yang dicari oleh pemuda berkulit tan itu pasti Yuniar. Dan mengapa orang pertama yang harus ditanyai itu selalu dia? Kan dia gak sejurusan sama si kulit pucet.
"Woi Tama, aku 'kan gak sekelas sama Yuni. Kenapa yang selalu kamu datengin duluan aku sih??" Sahut Jaysha datar.
"Ya... Barangkali lo dikasih tahu dia ada dimana" jawab Tama sekenanya.
Jaysha menunjuk sebuah kelas di dekat kolam ikan sekolah, "Disana tuh dia! Paranono kono! (samperin sana)
"Iya-iya Jahe... Sewot amat jadi cewek, gue sampe heran gimana ceritanya si Juna itu kesengsem sama cewek kayak lo" omelnya pelan.
"He!! MANA GUE TAU KALO DIA SUKA SAMA GUE!! SANA DAH LO PERGI AJA, GANGGU AMAT KAYAK HAMA"
"Ampun ndoro putri!!!"
"Ren, habis kamu apain nih si Tama? Sampe lebam-lebam nih wajahnya" tanya Jihan heran sambil mengobati pipi Tama yang sedikit lebam. Yang ditanya hanya duduk di pojokan dengan Yuni, meringis melihat luka lebam di wajah Tama setiap diobati oleh si Kakak cantik itu.
"Tanyain tuh sama si Jahe!! Ngapain kok tiba-tiba ninju muka handsome gue!!" tunjuk Tama dengan marah-marah.
"Salahnya sendiri, ngapain bahas tuh temenmu" jawab Jaysha tanpa rasa bersalah.
"Salah gue apa sih sama lo?!!"
"Salah lo banyak!!"
"Sebanyak apa HAH?!!"
"Sebanyak dosa lo yang ada di catatan Atid!!!"
"Jahe, udahlah... Ngapain sih kalo ketemu itu selalu gelud melulu? Bosen nih akunya" Yuni menggoyangkan bahu Jaysha pelan dengan mulut yang mengerucut sebal.
"Kalo bosen ya gak usah didengerin, puceet" Tarikan di pipi Yuni sukses menghentikan perdebatan yang baru saja terjadi. Tapi juga masih ada secuil rasa kesal di hati satu-satunya pemuda disana karena iri melihat kedekatan dua sahabat itu.
"Sudah selesai nih, Tam. Mau balik apa gimana?"
Tama sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Jihan, "Hah? Udah selesai kak?"
"Ya udahlah, kamu daritadi ngelamun terus" omel Jihan dengan menjewer telinga kiri Tama.
"Kapok koen!! Rasakno kuwi!(Kapok kamu!! Rasain tuh!)"
Gadis itu tertawa di atas penderitaan Tama. Tapi hal itu berakhir dengan ringisan dan suara jitakan di kepalanya secara tiba-tiba, membuat kepalanya sedikit pening. Matanya melirik tajam ke arah Yuni yang balik menatapnya dengan mata sipit.
"Kebiasaan jelek itu gak usah diterusin!"
"Lha trus? Maunya gimana?"
"Ya terusin pake Bahasa Indonesia dong! Dia kan mana tahu kalo kamu pake jawa medhok!!" lanjut Yuni dengan tawa cekikan yang disambung dengan Jaysha yang ikut tertawa keras.
"Ejek teross! Sampek ada hari raya monyet!!!" Teriakan kekesalan Tama tidak semerta-merta menghentikan tawa kedua gadis itu. Tetapi malah sebaliknya, mereka semakin tertawa terbahak-bahak. Bahkan Jaysha sampa meringis memegangi perutnya.
"Kamu emang enak buat dijadiin bahan ejekan sih!!"