
Jaysha menatap hamparan hijau di luar jendela. Pikirannya berkelana
kemana-mana, menghiraukan teman-temannya yang asyik membicarakan sesuatu.
Pandangannya ia alihkan pada seseorang yang sibuk mengoper bola ke arah pemain
lainnya. Terdengar disana suara riuh berupa teriakan semangat dari para
penonton.
Ia mendengus kesal. Seharusnya ia berada disana saat ini, jika saja ia
tidak ditarik oleh temannya untuk membahas sesuatu. Dan juga ia kesal dengan
dirinya, karena tidak bisa melihat penampilan Juna yang biasanya lebih tampan
kalau sedang bertanding dengan teman-temannya.
“Woi, liatin apa lo?”
Gadis berambut sedikit kemerahan itu menatap gadis berkerudung itu dengan
tatapan malas, “Liatin orang lagi dihukum”
Gadis berkerudung itu mengernyit bingung. Bukannya dari tadi yang terdengar
di luar sana hanya teriakan para supporter doang ya?
“Bilang aja kalo lo lagi kesal sama kita berdua karena ngajak lo kesini”
Lisa yang sedari tadi memainkan pensil berkepala doraemonnya, kini ikut
melihat ke luar jendela. Sumpah, teriakan-teriakan dari luar sungguh membuatnya
kehilangan konsentrasi. Gadis berambut lurus itu penasaran, seberapa ramai
penonton yang melihat pertandingan itu.
“Widihh! Rame bener, hampir nyamain konsernya bias lo, Jay” kagumnya.
Tangannya mengeluarkan ponselnya lalu merekam sedikit pertandingan futsal antar
sekolah itu dan mempostingnya di status Whatsappnya.
Sedangkan Jaysha menatap datar kedua gadis itu yang kini ikut menonton
pertandingan futsal dari luar jendela. Kepalanya menggeleng pelan sambil
berdecak malas melihat kelakuan kedua temannya. Tangannya memukul pelan kepala
mereka berdua, menimbulkan rengekan tak terima dari mulut keduanya.
“Kenapa harus pukul kepala sih, Jay? Gak sopan tahu!” omel Lisa mengelus
kepalanya pelan.
“Lalu, apa tujuannya aku kalian ajak kesini jika kalian berdua sibuk nonton
pertandingan dari sini, hah?!”
Lisa hanya tertawa kikuk saat dimarahi oleh gadis berambut sedikit
kemerahan itu. Tangannya merangkul pelan pundak gadis yang sedang kesal, dengan
senyuman.
“Utututu, Jaheku lagi ngambek~” Ia menoel pelan dagu Jaysha, hingga rasanya
Jaysha ingin memukul kembali kepalanya.
“Hei, berita baru guys!”
Lisa dan Jaysha menatap Karis yang berteriak dengan tatapan masih melihat
ke arah lapangan hijau. Kepala kedua gadis itu miring ke kiri secara bersamaan.
“Apanya yang berita baru?”
“Sini deh, liat!”
Karis menarik kedua gadis itu supaya kembali melihat ke arah jendela.
Jarinya menunjuk seorang pemuda di dekat bangku penonton yang sedang dirayu
oleh gadis berambut ikal panjang.
“Siaga satu Jay! Pacarmu lagi digoda mantan!”
Jaysha memicing ke arah lapangan. Pandangannya buram karena ia tak membawa
kacamatanya hari ini. Ia ingin melihat apakah itu benar Juna, ataukah bukan.
“Kar, aku gak keliatan”
Lisa menepuk dahinya pelan. ia beranjak menuju seorang siswi berkacamata,
yang kebetulan duduk di belakang bangku mereka bertiga.
“Permisi dek, bisa pinjem kacamatanya sebentar? Ini penting banget”
Gadis itu melepaskan kacamatanya dan meminjamkan itu pada Lisa. Lisa
kemudian memakaikan kacamata itu pada Jaysha yang masih melihat ke luar jendela
dengan mata menyipit.
“Tuh, liat! Ada jelmaan kuntilanak nyamperin ayang beb lo!”
Gadis berambut sedikit kemerahan itu akhirnya bisa melihat dengan jelas
berkat kacamata pinjaman dari adik kelasnya. Memang, di seberang sana Juna
sedang digoda oleh seseorang.
Ia mendengus pelan. Tangan mungilnya melepas kacamata itu dan
mengembalikannya pada adik kelasnya. Matanya kini menatap kedua temannya yang
sedang menatapnya dengan pandangan misterius.
“Apa kalian berpikiran yang sama denganku?”
Kedua gadis itu menganggukkan kepalanya bersamaan. Senyuman miring
terpasang di raut wajahnya. Mereka tahu apa yang harus dilakukan.
“Jadi, mau bantu aku untuk mengusir setannya?”
Kini mereka bertiga ada di bangku penonton. Setelah melihat sendiri bahwa
Juna sedang digoda oleh si mantan pacar, akhirnya gadis berambut sedikit
kemerahan itu menarik kedua temannya dengan langkah besar-besar, yang kentara
sekali kalau ia sangat kesal.
Baru kali ini, ia bisa merasakan
dentuman jantungnya semakin cepat saat melihat kekasihnya sedang digoda. Apalagi digoda spesies yang bernama
‘mantan’. Ingin sekali ia langsung mendatangi mereka berdua. Tetapi, prinsip
hidupnya adalah ‘ikuti pikiran dulu, hati baru kemudian’. Jadi, gadis itu hanya
diam di tempatnya sekarang sembari memperhatikan target.
“Jahe, kenapa gak langsung lo samperin mereka sih? Malah sempet-sempetnya
tadi beli roti goreng dulu”
Jaysha menatap Karis dengan tatapan acuhnya. Ia menggeleng kecil dan
menepuk pelan pundak gadis berkerudung putih itu.
“Tenang aja Kar, aku tahu kok apa yang harus aku lakukan” Ia menatap kedua
target yang dibicarakan tadi dengan tatapan tajamnya.
“Kita lihat dulu apa yang bakal dilakuin cewek tuh. Kalo udah kelewatan,
gampang aja. Nanti aku lempar barang dari sini” lanjutnya santai. Tangannya
bersendekap di depan dada, menatap mereka dengan tatapan intimidasi.
Tak tahu saja dia, kedua gadis di samping kiri dan kanannya sedang
menatapnya dengan tatapan penasaran. Sedangkan Jaysha, tak peduli dengan
tatapan penasaran dari mereka berdua. Yang terpenting adalah dua orang yang sedang
ia awasi.
Mereka berdua akhirnya kembali memperhatikan target, sesuai arahan dari Jaysha. Selanjutnya, mereka terkejut dengan apa yang dilihat mereka barusan. Gadis berambut
ikal itu terlihat mengusap wajah Juna dengan handuk wajah yang ia bawa. Dan
juga Juna juga terlihat sangat risih, hingga menjauhkan tangan gadis itu dari
wajahnya.
“Jay, udah kelewatan Jay! Lempar aja sekarang Jay” ujar Lisa geram.
Jaysha mengganggukkan kepalanya singkat. Sudah cukup disini, batas
amarahnya ia tahan. Gadis itu mengambil sandalnya yang sedari tadi ia taruh di
kantong kresek hitam. Ia juga mengambil balon kecil yang tadi ia beli di
koperasi sekolah.
“Lis, bisa minta jus jerukmu?”
Lisa memberikan jus jeruk yang dibelinya tadi. Gadis berambut sedikit
kemerahan itu menuangkan isinya ke dalam balon tadi. Mereka berdua
menyunggingkan senyum miring dan tertawa cekikikan, membayangkan apa yang akan
terjadi selanjutnya. Sedangkan Karis hanya menatap mereka dengan raut
penasaran.
“Kalian berdua mikirin apa sih? Kok kayaknya bakal seru gitu?” tanyanya
penasaran.
“Lo liat aja deh, apa yang bakal dilakukan si gadis cuek ini” Lisa
merangkul pundak kecil Karis, dan menyuruhnya untuk melihat apa yang akan
dilakukan Jayhsa. Sedangkan Jaysha sibuk merekatkan balon berisi jus jeruk itu
pada sandal miliknya.
Gadis itu menetapkan sasaran pada gadis lain di dekat sana. Matanya
menyipit sebelah, dan bergerak untuk menepatkan sasarannya. Hatinya hanya
berharap, semoga tepat sasaran. Kalau tahu akan seperti ini, ia pasti akan
membawa kacamatanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, tangannya mengayunkan sandal itu secara
cepat ke arah gadis berambut ikal tersebut. Dan syukurlah, lemparan sandal itu
tepat sekali mengenai kepalanya. Juga, balon tersebut pecah dan menumpahkan
seluruh isinya hingga membasahi seragam gadis itu.
Seketika tawa mereka bertiga pecah melihatnya. Rencana yang disusunnya
berhasil dengan sukses. Mereka bertiga bertos ria sembari tertawa melihat
penampilan gadis berrambut ikal yang diyakini adalah mantan Juna itu.
Di sela-sela tawa mereka, Jaysha merasakan getaran ponsel di sakunya. Ia
mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Bibir tebalnya
menyunggingkan senyuman kala membaca isi pesan itu. Pandangannya ia alihkan
pada seseorang yang mengirimi pesan tadi. Disana, terlihat Juna megucapkan
terima kasih tanpa suara, dengan senyuman khasnya.
Gadis itu membalasnya dengan senyuman, hingga giginya terlihat sebagian. Ia
merasa, sepertinya akan ada hal menyenangkan kali ini yang akan diberikan Juna
untuknya.