
Juna melangkahkan kakinya santai. Sesekali ia bersenandung. Di bahunya tersampir gitar kesayangannya. Setelannya kali ini terlihat kasual. Kaos warna putih dibalut dengan kemeja kotak-kotak merah. Juga kakinya dibalut celana jeans belel berwarna biru terang dengan sepatu converse merah.
Rencananya pemuda itu akan pergi ke rumah Noel untuk gladi bersih acara hari jadi OSIS sekolah. Harusnya sih ia tidak ikut acara begituan. Sudah cukup ia jadi populer gara-gara ekskul futsal. Ia hanya berharap kalau fansnya tidak akan nambah banyak garagara besok ia akan nyanyi di atas panggung.
Selang beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di depan rumah Noel. Pemuda itu membuka gerbang rumah bercat abu-abu itu dengan santai dan membuka pintu rumah, seolah-olah ia memang pemiliknya.
"Halo, para pecinta video ena-ena!! Gue si tampan Arjuna datang!!"
Pletak!!
Tanpa diduga olehnya, ia dilempar sepatu dari ruang tengah. Dan sialnya, sepatu itu tepat mengenai dahinya, hingga ia meringis dan mengusap kasar dahi yang sudah memerah.
"Dasar jelmaan orang utan!! Teriak-teriak di rumah orang lagi!"
Muncul dua orang pemuda berbeda tinggi dari ruang tengah. Yang satu tengah berkacak pinggang. Dan satu pemuda lagihanya menatap datar Juna yang masuk dengan teriakan yang tidak jelas.
"Halo, my bro and alien" sapa Juna dengan cengiran polos.
Kedua pemuda itu—Tama dan Noel—hanya mendengus bersamaan. Noel berbalik menuju ruang tengah, melanjutkan acara nonton Tvnya. Dan Tama yang berjalan menghampiri Juna yang masih sibuk melepaskan sepatunya.
"Baru dateng lo? Kemana aja dari tadi pas gue telponin?" tanya Tama.
"Ada urusan bentar Tam" jawab Juna singkat
"Urusan apaan? Nonton video bo—hmmph!!"
Juna secepat kilat menutup mulut ember Tama. "Cuangkemmu! Menengo ae koen!(Mulutmu!! Diam aja lo!)"
"Hei, kalian berdua gak masuk? Udah gue siapin makanan tuh di dapur"
Sesosok gadis bertubuh semampai mengehentikan pertengkaran dua pemuda tersebut. Juna tersenyum kikuk dengan tangan yang masih menutup mulut Tama yang meronta-ronta minta dilepaskan.
"Eh, ada kak Jihan yang cantik. Kok disini? Seksi kon—WADAWW! KOK DIGIGIT SIH TAM?"
Tama menatap sinis Juan yang tadi membekapnya hingga tak bisa bernafas. Sedangkan Juna mengkibas-kibaskan tangannya yang nyeri karena digigit secara mendadak oleh pemuda berambut sedikit keriting itu.
"Kak, gue makan duluan ya?" Tama menghiraukan omelan Juna dengan berjalan menuju dapur.
Juna berdecih pelan. Kalau ia tidak sedang di rumah orang, tangannya pasti akan memukul belakang kepala si pemuda berambut keriting itu. Mata bulatnya menengok ke arah ruang tamu. Kenapa tidak ada orang? Pikirnya bingung.
Pemuda bersurai hitam legam itu berjalan menuju dapur, tempat dimana berkumpulnya tiga orang tadi. Tampak Noel dan Tama yang sedang menyantap makanannya dengan tenang dan Jihan yang mencuci piring di wastafel dapur.
"Katanya ada gladi bersih di rumah lo, bang. Kenapa gak ada orang sama sekali?" tanyanya bingung. Tangannya menggapai salah satu kursi di sebelah Noel dan mendudukkan dirinya di situ.
"Juna baru kamu kasih tahu, Noel? Bukannya kemarin ya gladi bersihnya?"
Noel tertawa canggung karena pertanyaan kekasihnya itu. "Maaf yang, kelupaan kalo mau ngasih tahu dia dari kemarin-kemarinnya" balasnya mengelus belakang kepalanya canggung.
Juna yang awalnya tadi akan melahap tempe goreng, seketika berhenti. Mata bulatnya menatap Noel tak percaya.
"Terus gue kesini tujuannya apa, bang? Tahu gini gue mending ngegame di kamar gue" dengus Juna. Mulutnya menyeruput jus jeruk di meja yang sudah disediakan oleh kekasih Noel.
Juna menatap Tama dengan dahi berkerut dan tatapan bingung. "Emang apaan?"
"Nyanyiin lagu besok buat si Jahe kesayangan lo. Kasihan gue lo gak dinotice-notice sama dia"
"Bang Noel, gak segampang itu gue nembak dia. Gue bahkan denger sendiri dari mulutnya kalo dia dilarang pacaran dulu sebelum kerja"
Tama tersedak saat sedang meminum jusnya. Punggungnya dielus-elus pelan oleh Jihan yang panik. Pemuda berambut sedikit keriting itu menatap Juna dengan tatapan tak percaya.
"Beneran lo kalo ngomong?!"
Juna mengangguk pelan. Ia sendiri jadi ragu mau menyatakaan perasaannya lagi pada Jaysha. Pemuda itu takut akan ditolak kedua kalinya, dan mungkin akan dijauhi juga oleh gadis itu.
"Makanya itu, mau gue kasih saran gak? Gue jamin kali ini berhasil"
Juna mengangguk mengiyakan tawaran Noel. Mungkin, tidak ada salahnya ia berharap sekali lagi kali ini.
****
Suasana berbeda tampak di dalam salah satu SMK. Suara sorak-sorai dari siswa-siswi memenuhi lapangan indoor. Ada beberapa yang berteriak kegirangan karena salah satu siswa tampil di atas panggung, memeriahkan acara hari jadi OSIS sekolah ke-70 tahun.
Tak luput juga, ada beberapa siswi yang sedang menarik seseorang menuju ke lapangan indoor sekolah. Sang korban hanya meronta-ronta karena ditarik paksa oleh beberapa teman sekelasnya itu.
"Kenapa aku ditarik-tarik sih?!" teriaknya tak terima. Setelah mereka sampai di depan panggung, gadis berkuncir satu itu melepaska tangannya yang tadi ditarik oleh kedua gadis yang membawanya tadi.
"Jay, aku narik kamu kesini karena mau ngasih kejutan" ujar Karis dengan senyum misterius yang menghiasi wajahnya.
"Kejutan? Kejutan apaan sih? Orang kalian bertiga narik aku kesini hanya untuk liat konser" ujar Jaysha kesal.
"Udah deh, jahe. Lo duduk aja bareng kita bertiga, nanti bakal ada kok kejutannya"
Tanpa banyak bicara lagi, Jaysha dipaksa duduk di salah satu bangku oleh Lisa. Ia memberikan satu kotak makanan yang dibelinya dari kantin pada gadis berkuncir kuda, kemudian duduk di samping gadis itu.
Jasyha menonton acara yang berlangsung dengan tatapan tak berminat. Mulutnya asyik mengunyah makanan yang diberikan oleh Lisa tadi. Sesekali ia menguap pelan. Kapan kejutannya? Dan kejutan apa? Pikirnya penasaran.
Di pertengahan acara, muncul seorang pemuda yang sedikit mengejutkan Jaysha. Pemuda di atas panggung itu mengenakan kaos stripe dengan jaket jeans di badan tegapnya. Rambutnya ditata sedemikian rupa, hingga banyak gadis yang terpesona menatapnya, tak terkecuali Jaysha. Gadis itu melongo menatap pemuda itu dengan pandangan menilai dari atas dan bawah.
"K-kak Juna?"
Pemuda itu—Juna—memberikan senyuman sekilas pada kumpulan penonton acara. Ia mengambil gitar di dekat kursi yang disediakan oleh panitia. Ia menatap beberapa penonton yang kini memandangnya tak sabar.
"Lagu ini, aku persembahkan untukmu, yang namanya berawalan J"
Setelah itu, terdengar lantunan lagu milik Andmesh-Cinta Luar Biasa, menggema di tempat itu. Para gadis mendengarkan lagu itu dengan kepala yang bergerak ke kanan dan kiri.
Jaysha menatap kagum Juna yag sedang bernyanyi di atas panggung. Suara pemuda itu sangat cocok saat membawakan lagu itu. Sesekali, mata sipit gadis berkuncir kuda itu menutup, menghayati makna lagu itu. Saat ia membuka matanya, ia melihat Juna menatapnya dan tersenyum saat membawakan lagu tersebut. Seolah-olah, lagu itu memang dibawakan khusus untuknya.
"Apakah... lagu itu ungkapan perasaan kak Juna untukku?"