
"Dek, itu dimakan dulu Nasi Gorengnya"
Jaysha berkedip beberapa kali karena sedikit kaget. Pemuda berambut lurus itu menginterupsi acara melamunnya. Gadis itu tersenyum malu karena ketahuan melamun disaat ia seharusnya makan.
"Hehehe, maaf kak"
"Kalo mau ngomong nanti aja, habis makan, oke?"
Gadis itu mengangguk dan kembali memakan makanannya. Tapi, ia masih memikirkan sesuatu. Sederetan pertanyaan kembali muncul di benaknya kali ini. Apakah kak Juna akan marah padanya? Atau, apa dia salah paham dengan omongan ayahnya sabtu lalu?
Tanpa gadis itu sadari, makanannya sudah habis tak tersisa. Juna menatap gadis itu dengan tatapan heran. Pandangan mata gadis itu terlihat kosong, tetapi tangannya masih saja bergerak untuk menyendok makanan yang sudah tidak tersisa. Kentara sekali kalau dia melamun lagi.
"Dek, mau nyendok apalagi lo? Udah habis tuh"
Juna terkekeh kecil saat gadis itu kembali mengedipkan matanya bingung dengan mata sipitnya menatap sendok. Kemudian dia kembali meletakkan sendok itu ke tempat kosong tadi.
"Ketahuan lagi ya kalo aku ngelamun? Maaf lagi ya kak" nyengir gadis itu polos.
"Ngelamunin apa sih? Sampe gue yang tampannya paripurna ini dikacangin?" pede Juna dengan jari yang berada di dagunya.
"Kak, izin muntah boleh? Terlalu pede kak, kayak Si Alien Tama tuh" ejek Jaysha. Raut mukanya datar saat gadis itu mengejeknya. Sedangkan gadis itu tertawa terbahak-bahak saat melihat raut datar dari kakak kelasnya itu. Yang biasanya memang kelihatan tampan, tapi kali ini jadi lebih lucu.
"Oke-oke kak, maaf deh. Tadi aku cuma bercanda kok" jarinya membentuk peace sign, tanda damai.
"Hei, pertanyaannya belom lo jawab lho dek"
Jaysha menunduk ke bawah. Ia memainkan kukunya, kebiasaannya kalau sedang merasa bersalah atau takut mengatakan sesuatu.
"Kak Juna, tolong jangan salah paham ya sama omongannya ayah pas hari sabtu? Ayahku kebiasaan begitu, kalo ngomong suka asal nyeplos"
Juna menghela nafas pelan. Jadi, gara-gara itu si calon gebetan menghindarinya sejak pagi? Memang tadi ia sempat ingin mencari lokasi dimana gadis itu berada. Tetapi, karena ia sempat mendengar kabar bahwa gadis itu didiskualifikasi dari lomba karena terlambat datang, ia jadi mikir-mikir lagi. Apalagi setelah melihat sendiri keadaannya setelah diberitahu Tama lewat Line. Jadi gak tega memarahi gadis itu. Dia kelihatan sekali, merasa sangat bersalah.
"Lalu? Kantung mata itu? Apa itu juga gara-gara masalah yang sama?" tanyanya lagi. Satu anggukan didapatkannya lagi.
"Jay, kalo lagi ngomong sama orang jangan nunduk terus" tegur Juna. Gadis itu akhirnya menatap dia dengan raut bersalah. Mata sipitnya terlihat sembab. Ternyata gadis itu menangis tanpa ia sadari. Apa karena suaranya yang seperti lagi marah ya? Jadinya gadis itu menangis tiba-tiba.
"Kenapa nangis?" tanyanya lembut. Tangannya mengelus surai kemerahan gadis itu pelan, bermaksud menenangkan.
"T-takutnya kakak makin marah terus ngejauh. K-kan susah, udah nyaman temenan sama kakak, tapi akhirnya dijauhin lagi gara-gara ayah"
Jaysha menjawab dengan suara yang sesekali sesenggukan karena habis menangis. Tangannya mengusap kasar air mata yang tadi keluar dari mata sipitnya.
Juna tersenyum kecil mendengar alasan polos gadis itu. Ingin sekali ia mencubit pipinya yang sedikit memerah. Tetapi ia tahan kali ini karena melihat matanya yang sembab. Air matanya juga masih mengalir, meskipun tidak sebanyak tadi,
"Hei, nangisnya berhenti dulu. Wajahmu jadi jelek tuh kalo nangis" bujuknya. Akhirnya, Jaysha berhenti menangis juga.
"Jay, gue gak akan ngejauhin seseorang hanya karena masalah sepele. Karena, jika gue sudah merasa cocok sama seseorang, gue akan pertahanin orang itu sampe dia ngejauh dengan sendirinya..." ujar Juna.
"...Kalo lo kepikiran karena omongan ayah lo, tenang aja karena masa depan orang gak bisa ditentuin oleh ayah lo kan? Emangnya cenayang" lanjutnya lagi dengan candaan.
Gadis itu memukul tangan Juna main-main. "Kalo ayahku cenayang ya mana aku percaya kak, orang tampang kayak pemain ludruk gitu" ujarnya dengan tawa.
"Nah, gitu dong, senyum. Lo cantik kalo senyum" puji Juna.
"Tapi makasih lho kak, udah mau paham dengan kondisiku" ujar gadis itu dengan senyuman manis di wajahnya.
"Pake makasih segala, kayak sama siapa aja. Gue balik dulu ya? Udah mau bel masuk"
Juna mengusak pelan rambut Jaysha dengan senyuman. Pemuda itu beranjak dari duduknya. Saat ia akan pergi, tarikan di belakang kemejanya menghentikan ia supaya pergi.
"Apa lagi Jay?"
"Kak, bisa minta tolong gak?"
"Minta tolong apaan? Kalo emang mudah, bisa gue bantu" tanya Juna lagi.
"Anterin aku ke toko buku ya kak? Aku mau beli sesuatu, bisa gak?" pintanya.
Juna mengangguk mengiyakan, "Nanti gue tunggu di parkiran." Ia berjalan meninggalkan Jaysha yang masih duduk disana.
****
Juna melihat ke arlojinya. Jarum jamnya sudah menunjukkan pukul 4. Ia jadi berpikir, si gadis berambut kemerahan itu pasti sudah menunggunya di parkiran. Mengingat, seharusnya pembelajaran sudah usai lima belas menit yang lalu. Pemuda itu melirik ke luar lab elektronika. Tidak ada guru yang lewat. Lalu ia menoleh ke jendela yang mengarah ke parkiran. Tampak di penglihatannya, gadis bertubuh sedikit berisi yang sangat ia kenal, sedang duduk manis di atas sepeda motornya.
Ia lalu mengambil handphone yang ia geletakkan di meja praktik. Tangannya mendial nomer milik gadis itu.
"Halo kak? Dimana kamu kak? Aku nungguin disini"
"Jay, noleh ke arah lab sini"
Gadis yang tadi duduk di seberang sana, menoleh ke arah yang disuruh Juna tadi. Ia melambaikan tangan saat melihat pemuda itu duduk di dekat jendela.
Gadis itu berjalan mendekati jendela lab elektronika. Ia tersenyum setelah dekat dengan jendela, tempat dimana Juna duduk.
"Kak, kapan pulang?" tanyanya.
"Habis ini selesai kok. Tunggu dulu ya?" Pinta Juna.
Gadis itu mengangguk. Ia lalu duduk di bangku dekat jendela itu, menunggu Juna menyelesaikan tugasnya.
Sepuluh menit kemudian, tugas itu sudah selesai. Setelah berpamitan pada gurunya, ia langsung menyambar tas ranselnya lalu keluar dari dalam sana. Pemuda itu mengenakan sepatu sneakersnya dengan tergesa-gesa. Hal itu sedikit membuat seseorang yang sedari tadi memperhatikannya jadi bingung sendiri.
"Woi Jun, lo mau kemana sih, buru-buru amat? Mau kabur dari mantan?"
Juna menatapnya tajam, "Sembarangan! Gue mau nganterin Jaysha ke toko buku. Kasihan dia udah nunggu lama"
Setelah selesai menali sepatunya, ia cepat-cepat bangkit dari duduknya. "Gue duluan ya!"
Juna berlari secepat kilat menuju parkiran motor. Ia harus segera ke sana, takutnya nanti Jaysha kesal karena kelamaan menunggu.
Sesampainya disana, ia dikejutkan dengan gadis itu yang sedang berbicara dengan seorang pemuda tinggi di dekat sepeda motornya. Dilihat dari raut muka mereka, terlihat sekali kalau perbincangan mereka cukup serius. Itu menimbulkan sebuah pertanyaan melintas di kepalanya secara tiba-tiba
"Siapa ya?"