
Jaysha menatap laptop berwarna hitam di depannya dengan pandangan serius. Bola matanya bergerak kesana-kemari. Jari-jarinya dengan lincah mengetik sesuatu. Sesekali berhenti untuk berpikir, kemudian kembali mengetik lagi.
Bukan hal yang aneh jika gadis itu menatap laptopnya setiap sore. Ia sering sekali melakukan itu untuk membuat bagian baru dari novelnya di sebuah situs novel online. Setiap ia punya ide, gadis itu pasti langsung membuka laptopnya untuk mengetik ide tersebut, atau menuangkannya di buku catatan yang biasa ia bawa terlebih dahulu. Apalagi kalau ide yang mengalir di kepala sedang lancar-lancarnya, bisa tahan ia menatap layar laptop selama tiga jam berturut-turut!
Sama juga keadaannya seperti sekarang. Gadis itu sudah bertahan di sana selama empat jam, sejak pulang sekolah tadi. Di dekatnya ada segelas kopi susu dan semangkok kecil cilok yang ia beli di jalan tadi. Ia pun hanya memakai kaos jersey lengan panjang berwarna merah dengan celana pendek di atas lutut warna biru.
Jaysha menjauhkan jarinya dari keyboard. Tangannya ia regangkan sebentar. Matanya melirik ke handphonenya yang tiba-tiba bergetar. Ia mengambilnya dan melihat layar handphonenya sekilas. Ah, itu hanya alarm peringatan bahwa hari ini ia harus menyiapkan sesuatu, pikirnya. Ia lalu kembali berkutat dengan laptop kesayangannya, lalu teringat sesuatu. Jari-jarinya berhenti sebentar. Mata sipitnya bergerak ke atas, berusaha mengingat.
Eh, tunggu dulu! Menyiapkan apa?! Hari apa sih besok?!
Tangannya dengan cepat meraih handphonenya lagi. Ia membuka kalender digital di sana. Tertera jika hari Jum'at besok, tanggal 2 Desember, adalah hari ulang tahun si kakak kesayangan, Juna.
Gadis itu memukul dahinya pelan. Matanya menatap jam dinding di kamarnya. Ini bahkan sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia mengutuk ingatannya yang sering kali pelupa.
"Haduhh, pake acara lupa segala sih?! Mana aku belum nyiapin kado lagi!" gerutunya. Tangannya mengusak surainya kasar.
Rasa-rasanya ia ingin sekali menyirami kepalanya dengan air es. Mengapa sih, ia selalu lupa dengan hari-hari penting?! Dan sekarang? Ia panik sendiri gara-gara belum menyiapkan kado untuk besok.
"Gimana nih? Masa aku kesana hanya mau bilang 'Kak, selamat ulang tahun.... Maaf aku belum nyiapin kado karena lupa hari ini ulang tahunnya kakak', yang bener aja! Bisa mati berdiri aku gara-gara malu" monolognya.
Kakinya melangkah menuju lemari. Ia membuka lemari pakaiannya, mencari sesuatu di dalam sana. Barangkali ia masih menyimpan sesuatu yang belum ia pernah sentuh sama sekali. Tapi nihil, tidak ada satupun di dalam sana yang bisa gadis itu hadiahkan untuk Juna.
Bibirnya mencebik kesal. Ia menutup pintu lemari itu dengan kasar, hingga menimbulkan suara bantingan yang sangat keras. Tak lama kemudian, ia dikejutkan dengan suara pintu kamarnya yang terbuka tiba-tiba, menampilkan sosok kedua orang tuanya yang datang dengan wajah panik.
"Ada apa ribut-ribut disini?!!"/ "Apa ada maling yang masuk lewat jendela?!!"
Jaysha tersenyum tanpa rasa bersalah, "Tadi ada kecoak yah, bun. Hehehe..."
Disana ayahnya menampilkan wajah datar, sedangkan ibunya mengelus dada karena terlanjur panik.
"Dasar anak durhaka! Mau ayahmu mati muda?!" ujar ayahnya marah.
"Maaf yah, kali ini gak lagi deh kayak gitu. Silahkan kembali ke tempat masing-masing"
Setelah kedua orang tuanya pergi, gadis itu menghela nafas lega. Ia lalu menelpon seseorang di seberang sana melalui handphonenya.
"Ada apa jahe? Ganggu orang lagi nonton drakor aja kamu"
"Temenin aku besok beli kado buat kak Juna"
"Ngapain beli kado kalo kamu bisa buat kue untuk kak Juna?"
"Kue? Kue apaan?" tanyanya bingung.
****
Alhasil, kini kedua gadis itu berada di dalam supermarket. Setelah diberitahu kemarin malam oleh Yuni, gadis berambut sedikit kemerahan itu akhirnya mengikuti saran darinya. Ia berjalan mengikuti Yuni yang sedari tadi sibuk mencari bahan-bahan untuk membuat kue.
"Yun, kapan selesainya? Kakiku udah pegal duluan nih" keluh gadis itu tak sabaran.
"Bentar lagi, tinggal nyari mentega sama pengembang kue doang" balas Yuni tanpa menoleh ke belakang. Sadar kalau masih lama waktunya di sana, Jaysha mencebik pelan.
"Kenapa gak beli aja sih? Gak perlu buang-buang waktu untuk beli ini dan itu" tanya gadis itu.
Yuni menoleh untuk menatap gadis yang sibuk mengomel sedari tadi hingga sampai meja kasir. "Emang kuat buat beli kue tart sendirian?"
"Kan ada kamu, jadi kita patungan, beres deh" jawab Jaysha enteng.
****
Jaysha dan Yuni menatap kue di hadapan mereka dengan wajah datar. Kue itu terlihat gosong karena terlambat diangkat dari oven dan juga mungkin rasanya terlihat sama tidak enaknya dengan penampilannya.
"Kok bisa gosong ya?" tanya Yuni penasaran.
"Tadi kamu lihat di resepnya kue itu butuh dipanggang berapa lama?" tanya Jaysha balik. Tangannya bersendekap di depan dada, menahan kesal juga marah.
"Tadi aku lihat di buku resepnya, kue itu butuh dipanggang selama 30 menit kok" jawab Yuni.
"Oh ya? Bukannya hanya butuh waktu 20 menit?"
Yuni mengernyit bingung mendengar pertanyaan gadis berambut sedikit kemerahan itu. Ah, masa sih hanya 20 menit?
Akhirnya, gadis berkulit putih pucat itu mengambil buku resep yang ia baca tadi. Ia membaca resep itu mulai awal, lalu tersadar. Tangannya menutup buku itu dan menyengir ke arah Jaysha.
"Hehehe, iya ternyata cuma 20 menit..."
"Tuhkan! Gimana nih? Padahal aku kan hanya nyuruh kamu manggang doang, tapi jadinya kayak gini!" omel Jaysha kesal.
"Oke-oke, aku minta maaf Jay. A-aku akan telpon Tama supaya ia nahan kak Juna biar gak kesini dulu oke?" bujuk Yuni. Jaysha yang sudah terlampau kesal, mengangguk pasrah membiarkan sahabatnya itu melakukan apapun.
Setelah gadis itu pergi, Jaysha menatap jam dinding di dapur rumah Yuni. Hanya tersisa waktu sepuluh menit untuk membuat sesuatu. Akhirnya, setelah berpikir lama, ia mulai membuat kue biasa yang hanya perlu waktu 5 menit untuk menyiapkannya. Untuk rasa, itu urusan nanti. Gadis itu bisa minta maaf pada Juna untuk itu.
Selang 10 menit kemudian, akhirnya yang ditunggu sudah datang. Ada Tama dan Yuni di sisi kiri dan kanan Juna. Dan Juna yang matanya ditutup kain merah oleh Tama.
"Yun, dimana Jahe?" bisik Tama pelan.
"Dia di dapur, entah buat apa" jawab Yuni tak kalah pelan.
Kemudian dari arah dapur, muncul gadis yang dibicarakan tadi dengan membawa kue coklat di tangannya. Yuni berjalan menghampirinya dengan tatapan bingung.
"Lho Jay? Kamu beli kuenya kapan?" tanya gadis itu bingung.
"Udahlah, gak usah banyak omong. Tam, lepasin tuh kainnya"
Tama mengangguk singkat. Ia melepas kain yang menutup mata Juna. Sedangkan Juna yang awalnya penasaran kejutan apa yang akan diberikan padanya, kini tersenyum senang karena melihat si calon gebetan ada di depannya dengan membawa kue coklat.
"Selamat hari bertambah tua ya kak. Maaf aku hanya bisa ngasih ini" ujar Jaysha dengan senyuman manis, hingga terlihat satu lesung pipinya.
Juna menghampiri gadis itu. Ia mengelus surai kemerahan gadis itu lembut. "Makasih ya kuenya. Lucu banget sih kamu ini"
"Ekhem, jadi kue apa ini jahe? Kayak gak pernah lihat ada yang jual deh" tanya Tama.
"Nama kuenya itu, kue 'Gatot'" jawab Jaysha singkat.
"Kok bisa?" tanya mereka bertiga tambah bingung.
"Karena.... Kue ini emang 'gatot', alias Gagal Total. Yang harusnya ngembang, malah jadi bantet kayak gini" Gadis itu nyengir polos saat mengungkap alasan nama itu.
Tama dan Yuni lantas tertawa terpingkal-pingkal saat tahu alasannya. Sedangkan Juna, memotong kue itu tanpa bicara lalu memakan sepotong.
"Rasanya tidak seburuk itu kok. Masih enak. Apalagi kalo kamu yang masak, udah kayak masakan restoran" ujar pemuda itu dengan gombalan di akhir kalimat.
"Halah, basi kak Jun!"/ "Halah, basi Junaedi!"