
Matahari bersinar dengan teriknya. Ini bahkan belum memasuki jam 11 siang, sudah banyak manusia berlalu menuju kantin untuk membeli makanan atau minuman untuk memuaskan dahaga dan lapar karena pelajaran yang sungguh memuakkan pikiran. Oh ya, kecuali gadis bertubuh gemuk yang kini mendengarkan musik Kpop dengan jarinya yang menari-nari di atas kertas putih. Siswa-siswa seangkatan pun sudah tahu bahwa gadis itu memang tidak pernah lelah jika itu berurusan dengan tulis-menulis karena otaknya yang cukup cerdas.
"Ah...sial!!! Salah lagi... Ini benernya gimana sih?!!" geramnya kesal. Gadis itu menghapus tulisan di kertas dengan cepat, bahkan kertasnya menjadi kusutpun tidak ia pedulikan.
"Assalamualaikum, ya ahli kubur..."
Gadis itu menoleh ke arah pintu kelas. Tampak Gadis yang berperawakan ramping tengah berdiri di dekat pintu dengan wajah yang tersenyum tidak jelas.
"Waalaikumsalam, ya calon bahan bakar neraka" balas Jaysha cuek lalu beralih kembali ke kertasnya.
"Kok gitu sih balasannya?? Do'ain kek calon penghuni surga" kesal gadis itu setelah menghampiri Jaysha yang duduknya tidak jauh dari pintu.
Jaysha menatap gadis itu datar, "Lalu?? Kalau dosamu setebal buku ensiklopedia yang di perpusatakaan tapi maunya masuk surga, malaikat kamu kasih uang berapa, Yun?"
Yuni tertawa cekikikan setelah itu. "Ayolah, jangan marah-marah terus.. nanti cepet tua lho.."
"Kan aku memang udah tua. Siapa bilang kalau aku masih muda??"
"Tau ah gelap!!! Ayo ke kantin! Perpajakan membuat otakku terbakar" ajak Yuni sambil merangkul bahu Jaysha.
"Gak deh, laporanku belum selesai. Ini nanti dikumpulkan habis jam istirahat lagi" tolak Jaysha halus.
"Yakin ga mau?? Ada martabak kesukaanmu lho?? Orangnya mumpung jualan tuh" goda Yuni menggoyangkan alisnya naik turun.
Gadis itu sontak menatap Yuni dengan berbinar-binar.
"Beneran?!?! Ada orangnya???!!" tanyanya antusias yang dibalas dengan anggukan oleh Yuni.
Jaysha cepat-cepat berdiri dan membereskan mejanya secepat yang ia bisa, lalu menggandeng Yuni keluar dari kelas dengan langkah yang terseok-seok.
"Hei, pelan-pelan dong!!! Kakiku pendek ini!" Omel Yuni.
"Aku juga pendek tau! Aku tidak mau kalau kehabisan lagi kayak minggu lalu" balas Jaysha cuek.
Sesampainya di kantin, ia melepaskan tangan Yuni dan berjalan cepat menuju penjual makanan tersebut.
"Pak, martabaknya masih ada gak?"
"Maaf ya neng, martabaknya baru saja habis"
Bahunya merosot pelan setelah mendengarnya. Sekali lagi ia harus menelan kekecewaan karena makanan favoritnya sudah ludes terjual.
"Gimana? Ada gak?" Tanya Yuni dengan segelas teh yang ia beli tadi. Jaysha menggeleng pelan.
"Aku tahu kok rasanya jadi pecinta makanan yang udah habis terjual sebelum kamu sempet beli" ujar Yuni mengelus punggung gadis itu pelan.
"Gara-gara kamu sih!! Gak chat aku kalo ada penjualnya..." omel Jaysha pada Yuni.
"Ya maaf, aku gak punya paketan buat ngechat kamu. Wifinya juga lemot banget, padahal aku udah bayar spp kemarin lusa" balas Yuni bertubi-tubi. Jaysha hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal.
"Udahlah.. kamu kan masih bisa beli roti goreng. Tuh, masih ada stoknya" hibur Yuni sambil menunjuk stan penjual roti goreng di dekatnya.
Dengan langkah malas dan juga karena perutnya yang sudah merengek minta diisi, akhirnya gadis itu membeli 2 roti goreng untuk mengisi perutnya yang lapar.
***
Jaysha dan Yuni berjalan santai menuju kelas. Yuni dengan mata yang jelalatan mencari pemuda yang sekiranya bening di matanya dan Jaysha yang sibuk mengunyah roti goreng sambil berjalan.
"Hei, gak sopan makan sambil jalan tahu, Jay" celetuk Yuni tiba-tiba.
"Perut urusan pertama, orang lain urusan kedua" balas Jaysha cuek.
"Biarin. Lagipula kamu juga sama kok. Kita itu sama aja. Bedanya kamu kurus, sedangkan aku gemuk"
"Dan aku putih, kamunya hitam"
Jaysha menatap Yuni tajam. Ia benci jika disebut hitam. Kulitnya tak sehitam itu ya. Masih ada warna putih, meskipun itu cuma sedikit.
"Hei, aku bukannya hitam! Hanya saja aku pas pembagian warna kulit ketinggalan yang buat warna putih mulus. Dan warna kulitku ini bagus tahu!" Balasnya cepat.
"Iya-iya... aku tahu kalau warna kulitmu itu cantik, sampai-sampai gak ada yang nembak kamu" ejek Yuni.
"Dan aku juga maklum kok, udah banyak yang nembak dan masih ditolak hanya gara-gara mereka saingan" sinis Jaysha.
"Ya ampun, gak usah dibahas lagi napa! Aku masih kesal kalau ingat-ingat itu" balas Yuni bersungut-sungut. Jaysha tertawa kecil karena sudah berhasil membuat Yuni kehabisan kata-kata untuk membalas perdebatan yang tadi.
"HEI, CEWEK PENDEK YANG LAGI MAKAN ROTI GORENG YANG ADA DI DEPAN GUE!!"
Yuni menyenggol bahu Jaysha pelan. "Kamu tuh"
"Kok aku?? Bukannya kamu juga pendek?"
"Kan dia bilangnya gemuk, kalau aku mah kurus kering"
Jaysha menunjuk dirinya sendiri sambil melihat orang yang tadi berteriak. "Aku??" tanyanya bingung.
Pemuda tadi mengangguk. "INI NIH, DIA MAU BILANG SESUATU SAMA LO!" Balasnya dengan teriakan dan menunjuk pemuda tinggi di sampingnya.
Pemuda tinggi itu berjalan mendekati Jaysha dan Yuni yang berdiri di sebrang lapangan.
"Eh, kak Juna mau ngomong apa sama kamu??? Jangan-jangan kamu punya hutang ya sama dia?" Curiga Yuni dengan pandangan memicing pada Jaysha.
"Enak saja! Aku gak ada urusan ya sama dia" balas Jaysha sewot.
"Ekhem!"
Tanpa mereka sadari, Arjuna sang kapten tim futsal, sudah berdiri di depan mereka berdua.
"Ada urusan apa, kak Juna?" tanya Jaysha sopan.
"Sebenarnya begini, tapi dengerin baik-baik ya karena gue gak akan ngulangin ini dua kali" Jaysha hanya mengangguk saja. Pikirnya supaya cepat selesai dan ia segera pergi ke kelas dan tidur dengan nyaman.
"DENGAN INI, GUE ARJUNA MAHESA PUTRA, BERNIAT MENJADIKAN JAYSHA RENATA MENJADI KEKASIH GUE DAN INI HARUS DIINGAT OLEH SELURUH SISWA YANG MASIH PUNYA NIAT DEKETIN GUE!" teriaknya lantang. Karena lantangnya, para siswa-siswi yang berlalu-lalang karena masih waktu istirahat, berhenti melihat pernyataan cinta dari seorang Arjuna.
"Astaghfirullah!" ucap Yuni terkejut. Sedangkan Jaysha membelalakkan matanya karena terlalu kaget. Bukan hanya karena suaranya yang keras, tetapi juga kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"GITU DONG!! JANGAN MALU-MALU BADAK, PADAHAL UDAH NAKSIR DARI JAMAN KOLONIAL BELANDA !!!" Sorak tim futsal yang melihat mereka berdua.
"Yakin kak Juna mau sama si Jahe?? Hidupnya aib semua lho" goda Yuni sambil menyenggol bahu Jaysha pelan. Juna mengangguk mantap dengan mata menatap Jaysha penuh harap.
"Emm Kak, A-aku pe-pergi dulu ya!" Gadis itu langsung berlari secepat-cepatnya ke kelas tanpa kepastian dengan meninggalkan Yuni dan Juna berdua.
"AKU GAK TERIMA PENOLAKAN YA, JAYSHA! POKOKNYA KAMU UDAH RESMI JADI PACARNYA ARJUNA!" teriak Juna sekuat tenaga
"ACIEEE..... UDAH PAKE AKU KAMU NIH YEE...."
Jaysha yang sudah sampai di kelas langsung menundukkan kepala di atas meja karena malu.
"Ini bisa disebut beruntung atau buntung(sial)?! Sial banget hari ini mulu perasaan"