Yellow Lily

Yellow Lily
Episode 16: Luka Lama



Suara jarum jam yang bergerak setiap detiknya, dan lampu rumah yang menyala


menghiasi ruangan tersebut. Beberapa kursi berukiran hiasan yang ada disana


diduduki satu keluarga. Di seberangnya satu kursi diduduki oleh seorang pria


berambut keriting dan bertubuh tinggi.


Salah satu gadis disana menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke arah


pria itu. Matanya terpejam erat, berusaha menahan lelehan air mata yang akan


merembes keluar dari mata sipitnya. Tangan mungilnya mengelus-elus tangan


wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.


“Ada perlu apa lagi kamu kesini?”


Sang kepala keluarga memulai pembicaraan dengan pertanyaan. Setiap sepatah


kata yang keluar dari bibir tebalnya bermakna tersirat. Merupakan awal yang


buruk untuk memulai pembicaraan, karena suara pria yang merupakan kepala


keluarga di rumah itu terdengar lebih tegas dari biasanya.


“Aku hanya ingin meminta restu pada anakmu dan juga kakak perempuanku. Apa


ittu salah?”


Sosok pria itu menjawab dengan tenang, seolah-olah ia tak merasa punya


salah dalam hal itu. Hingga terdengar geraman amarah yang tertahan dari bibir


sewarna dengan buah cherry—ibunya. Matanya melotot penuh amarah, sedikit


menyebabkan gadis berambut kemerahan itu harus mengelus-elus pundak ibunya


supaya tenang kembali.


“Bukankah aku sudah pernah bilang, aku tidak akan memaafkanmu sebelum kamu


melepas perempuan yang masih bersuami itu!!” katanya penuh penekanan. Kali ini


diiringi suara isak tangis tertahan. Hati ibunya sedang sakit sekarang. Luka


lama yang 5 tahun lalu hampir sembuh, kini terbuka kembali dengan datangnya


orang itu. Ya, paman Jaysha dari pihak ibu. Pria yang telah banyak memberikan


peran besar bagi kehidupannya. Bagi gadis remaja itu, ia adalah seorang yang


lemah lembut tapi juga bisa tegas di dalam kehidupan sehari-harinya. Ialah yang


mematahkan opini beberapa orang tentang ‘cinta pertama seorang anak perempuan


adalah ayahnya’—yang sebenarnya memang iya, bagi sebagian orang. Tetapi, bagi


gadis itu, pamannya adalah inspirasi baginya.


Dan opini itu hanyalah pemikiran seorang gadis kecil yang berusia 12 tahun.


Nyatanya, semenjak pamannya itu mengaku akan menikahi seseorang, dia semakin


menjauh dari keluarganya. Pamannya lebih memilih menikah dengan seorang wanita


yang memilik watak yang buruk bagi keluarga mereka.


Pada masa lalu, di pikiran gadis kecil itu, ia hanya ingin melindungi


adiknya dari suara-suara bentakan dan teriakan—jujur saja, itu sangat


menyakitkan untuk telinganya—dari ibu dan pamannya itu. Hingga akhirnya,


pamannya lebih memilih pergi dari rumah itu. Saat itulah, sudut hati paling


dalam gadis itu mulai membenci orang yang sedang duduk di hadapannya.


Kembali pada saat ini, Jaysha menatap pamannya dengan tatapan tajam. Elusan


lembut ia berikan pada pundak ibunya dengan kata penenang yang menyertai dari


bibir tebal gadis itu. Ia sungguh ingin mengumpat pada orang di depannya,


hingga membuat luka ibunya—yang mungkin akan sulit sembuh—terbuka lagi.


“Jadi Rena, kamu setuju kan jika aku menikah dengan wanita itu?”


Gadis berambut sedikit kemerahan itu menarik napas perlahan. ia berusaha


mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Tolong, jangan pernah lagi keluarkan air


mata hanya demi serigal berbulu domba yang sedak duduk dengan tenang di


depannya.


Ia menatap kembali pria yang dibencinya itu dengan tatapan dalam.


“Jawabanku tetap tidak, pak Anang. Aku memilih menuruti apa kata orang tuaku”


katanya dengan nada tegas dan lugas. Gadis itu sudah berjanji pada dirinya


sendiri, jika ia harus melindungi keluarganya dari orang itu.


Raut wajah pria itu—Anang—semakin tegang. Tak disangka olehnya, gadis itu


akan sedemikian tegasnya menjawab pertanyaan lemah lembut darinya. Tidak ada


lagi gadis kecil penurutnya, yang ada hanyalah gadis tegas yang sudah tak ia


kenali saat ini.


Akhirnya, pria itu bangkit dari kursi. Tangan besarnya yang dihiasi


tersampir di sisi kursi. Mata besarnya menatap Jaysha dengan tatapan lembut,


yang gadis itu artikan dengan sinyal bahaya.


“Baiklah, kupikir kalian masih berpikiran sama seperti 5 tahun yang lalu.


Tapi, jawaban kalian tidak akan mengubah keputusanku. Juga, terima kasih telah


menjamuku disini. Aku pamit”


Pria itu beranjak pergi tanpa bersalaman dengan keluarganya. Tentu saja, ia


tak akan melakukan hal itu hanya untuk sekedar memberi kepastian padanya bahwa


ia masih diterima oleh keluarga Jaysha setelah melakukan hal yang memalukan


itu.


Setelah kepergiannya, ibunya mulai menangis lagi. Bagus, kedatangan orang


itu hanya membawa kesedihan bagi keluarganya. Ayahnya hanya mengusap-usap


pelipisnya. Jaysha menatap pintu yang dimasuki oleh orang itu dengan tatapan


geram. Tangan mungilnya masih mengelus-elus pundak ibunya yang masih menangis


sesenggukan.


‘aku takkan membiarkan keluargaku pecah


lagi. Cukup aku saja yang menahan rasa sakit ini, jangan kedua orang tuaku’


***


Juna berkumpul dengan teman se geng-nya dari ekstrakulikuler futsal. Mereka


akan berlatih sedikit lebih lama dari biasanya. Karena minggu depan dia dan tim


inti futsal akan mengikuti pertandingan futsal antar kota. Pemuda bersurai


hitam legam itu mengusap keringatnya dengan handuk kecil. Sembari menunggu


istirahat selesai, ia memainkan game mobile


legendnya seperti biasa. Suara ribut pertengkaran antara teman se geng-nya


tak ia hiraukan, seolah-olah itu hanya angin yang berlalu.


“Woi Jun! Mana kakak ipar kesayanganku, kok gak datang?!”


Jari-jarinya menghentikan game yang sedang dimainkannya. Lantas, ia beralih


menatap seseorang yang tadi berteriak padanya. Sebelah alisnya naik sebelah,


pertanda bingung.


“Siapa sih yang lo maksud? Si Jaheku?”


Anggukan ia dapatkan. Pemuda itu mengendikkan bahunya. Lalu kembali


memainkan gamenya. Sedangkan pemuda yang lebih pendek itu menghampiri Juna yang


masih sibuk dengan ponselnya. Ia mengambil tempat duduk di sebelah pemuda


bersurai hitam legam, dengan mata yang sesekali mengintip ke arah ponsel Juna.


“Pacarnya gak kesini malah sibuk ngegame. Telpon aja tuh si Jahe, bilang


kalo lo rindu dia” Juna mendengus pelan, dengan tangannya yang meninju pelan


lengan atas temannya itu.


“Bilang aja kalo lo pengin godain dia” Hanya cengiran tak bersalah yang didapatkan


olehnya. Pemuda bersurai hitam legam itu menggeleng pelan diiringi dengusan malas.


Ia mencari kontak kekasih imutnya itu dan menelpon nomer tersebut.


Sebenarnya ia juga penasaran sih. Tumben sekali Jaysha tak menemuinya dulu


sebelum ia pulang. Padahal biasanya dia sempat mampir hanya untuk bilang


kalau  gadis berambut sedikit kemerahan


itu tak mau diantar olehnya. Hanya saja, tadi gadis itu sudah mengirim pesan


kalau ia akan pulang duluan, jadi ia tenang-tenang saja.


“H-Halo, kak J-Juna hiks...?”


“Lho Jahe? Kamu habis nangis?”


Dahinya mengernyit ketika mendengar suara balasan di seberang sana. Kentara


sekali ia sesenggukan. Apa ada masalah di rumah gadis itu? Jantungnya berdetak


dengan cepat. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Pikirannya mulai berkecamuk


memikirkan hal-hal buruk


“E-enggak kak. B-bisa minta tolong..


hiks... gak j-jangan telfon aku dulu? A-aku hiks... capek kak..”


Hanya terdengar nada sambungan terputus setelah itu. Juna menatap layar


ponselnya yang kini menghitam. Ada yang tidak beres kali ini dengan kekasihnya.


Dan ia harus segera menemui gadis itu di rumahnya, untuk mengetahui masalah apa


yang sebenarnya terjadi, hingga dia menangis.