
Suara jarum jam yang bergerak setiap detiknya, dan lampu rumah yang menyala
menghiasi ruangan tersebut. Beberapa kursi berukiran hiasan yang ada disana
diduduki satu keluarga. Di seberangnya satu kursi diduduki oleh seorang pria
berambut keriting dan bertubuh tinggi.
Salah satu gadis disana menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke arah
pria itu. Matanya terpejam erat, berusaha menahan lelehan air mata yang akan
merembes keluar dari mata sipitnya. Tangan mungilnya mengelus-elus tangan
wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.
“Ada perlu apa lagi kamu kesini?”
Sang kepala keluarga memulai pembicaraan dengan pertanyaan. Setiap sepatah
kata yang keluar dari bibir tebalnya bermakna tersirat. Merupakan awal yang
buruk untuk memulai pembicaraan, karena suara pria yang merupakan kepala
keluarga di rumah itu terdengar lebih tegas dari biasanya.
“Aku hanya ingin meminta restu pada anakmu dan juga kakak perempuanku. Apa
ittu salah?”
Sosok pria itu menjawab dengan tenang, seolah-olah ia tak merasa punya
salah dalam hal itu. Hingga terdengar geraman amarah yang tertahan dari bibir
sewarna dengan buah cherry—ibunya. Matanya melotot penuh amarah, sedikit
menyebabkan gadis berambut kemerahan itu harus mengelus-elus pundak ibunya
supaya tenang kembali.
“Bukankah aku sudah pernah bilang, aku tidak akan memaafkanmu sebelum kamu
melepas perempuan yang masih bersuami itu!!” katanya penuh penekanan. Kali ini
diiringi suara isak tangis tertahan. Hati ibunya sedang sakit sekarang. Luka
lama yang 5 tahun lalu hampir sembuh, kini terbuka kembali dengan datangnya
orang itu. Ya, paman Jaysha dari pihak ibu. Pria yang telah banyak memberikan
peran besar bagi kehidupannya. Bagi gadis remaja itu, ia adalah seorang yang
lemah lembut tapi juga bisa tegas di dalam kehidupan sehari-harinya. Ialah yang
mematahkan opini beberapa orang tentang ‘cinta pertama seorang anak perempuan
adalah ayahnya’—yang sebenarnya memang iya, bagi sebagian orang. Tetapi, bagi
gadis itu, pamannya adalah inspirasi baginya.
Dan opini itu hanyalah pemikiran seorang gadis kecil yang berusia 12 tahun.
Nyatanya, semenjak pamannya itu mengaku akan menikahi seseorang, dia semakin
menjauh dari keluarganya. Pamannya lebih memilih menikah dengan seorang wanita
yang memilik watak yang buruk bagi keluarga mereka.
Pada masa lalu, di pikiran gadis kecil itu, ia hanya ingin melindungi
adiknya dari suara-suara bentakan dan teriakan—jujur saja, itu sangat
menyakitkan untuk telinganya—dari ibu dan pamannya itu. Hingga akhirnya,
pamannya lebih memilih pergi dari rumah itu. Saat itulah, sudut hati paling
dalam gadis itu mulai membenci orang yang sedang duduk di hadapannya.
Kembali pada saat ini, Jaysha menatap pamannya dengan tatapan tajam. Elusan
lembut ia berikan pada pundak ibunya dengan kata penenang yang menyertai dari
bibir tebal gadis itu. Ia sungguh ingin mengumpat pada orang di depannya,
hingga membuat luka ibunya—yang mungkin akan sulit sembuh—terbuka lagi.
“Jadi Rena, kamu setuju kan jika aku menikah dengan wanita itu?”
Gadis berambut sedikit kemerahan itu menarik napas perlahan. ia berusaha
mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Tolong, jangan pernah lagi keluarkan air
mata hanya demi serigal berbulu domba yang sedak duduk dengan tenang di
depannya.
Ia menatap kembali pria yang dibencinya itu dengan tatapan dalam.
“Jawabanku tetap tidak, pak Anang. Aku memilih menuruti apa kata orang tuaku”
katanya dengan nada tegas dan lugas. Gadis itu sudah berjanji pada dirinya
sendiri, jika ia harus melindungi keluarganya dari orang itu.
Raut wajah pria itu—Anang—semakin tegang. Tak disangka olehnya, gadis itu
akan sedemikian tegasnya menjawab pertanyaan lemah lembut darinya. Tidak ada
lagi gadis kecil penurutnya, yang ada hanyalah gadis tegas yang sudah tak ia
kenali saat ini.
Akhirnya, pria itu bangkit dari kursi. Tangan besarnya yang dihiasi
tersampir di sisi kursi. Mata besarnya menatap Jaysha dengan tatapan lembut,
yang gadis itu artikan dengan sinyal bahaya.
“Baiklah, kupikir kalian masih berpikiran sama seperti 5 tahun yang lalu.
Tapi, jawaban kalian tidak akan mengubah keputusanku. Juga, terima kasih telah
menjamuku disini. Aku pamit”
Pria itu beranjak pergi tanpa bersalaman dengan keluarganya. Tentu saja, ia
tak akan melakukan hal itu hanya untuk sekedar memberi kepastian padanya bahwa
ia masih diterima oleh keluarga Jaysha setelah melakukan hal yang memalukan
itu.
Setelah kepergiannya, ibunya mulai menangis lagi. Bagus, kedatangan orang
itu hanya membawa kesedihan bagi keluarganya. Ayahnya hanya mengusap-usap
pelipisnya. Jaysha menatap pintu yang dimasuki oleh orang itu dengan tatapan
geram. Tangan mungilnya masih mengelus-elus pundak ibunya yang masih menangis
sesenggukan.
‘aku takkan membiarkan keluargaku pecah
lagi. Cukup aku saja yang menahan rasa sakit ini, jangan kedua orang tuaku’
***
Juna berkumpul dengan teman se geng-nya dari ekstrakulikuler futsal. Mereka
akan berlatih sedikit lebih lama dari biasanya. Karena minggu depan dia dan tim
inti futsal akan mengikuti pertandingan futsal antar kota. Pemuda bersurai
hitam legam itu mengusap keringatnya dengan handuk kecil. Sembari menunggu
istirahat selesai, ia memainkan game mobile
legendnya seperti biasa. Suara ribut pertengkaran antara teman se geng-nya
tak ia hiraukan, seolah-olah itu hanya angin yang berlalu.
“Woi Jun! Mana kakak ipar kesayanganku, kok gak datang?!”
Jari-jarinya menghentikan game yang sedang dimainkannya. Lantas, ia beralih
menatap seseorang yang tadi berteriak padanya. Sebelah alisnya naik sebelah,
pertanda bingung.
“Siapa sih yang lo maksud? Si Jaheku?”
Anggukan ia dapatkan. Pemuda itu mengendikkan bahunya. Lalu kembali
memainkan gamenya. Sedangkan pemuda yang lebih pendek itu menghampiri Juna yang
masih sibuk dengan ponselnya. Ia mengambil tempat duduk di sebelah pemuda
bersurai hitam legam, dengan mata yang sesekali mengintip ke arah ponsel Juna.
“Pacarnya gak kesini malah sibuk ngegame. Telpon aja tuh si Jahe, bilang
kalo lo rindu dia” Juna mendengus pelan, dengan tangannya yang meninju pelan
lengan atas temannya itu.
“Bilang aja kalo lo pengin godain dia” Hanya cengiran tak bersalah yang didapatkan
olehnya. Pemuda bersurai hitam legam itu menggeleng pelan diiringi dengusan malas.
Ia mencari kontak kekasih imutnya itu dan menelpon nomer tersebut.
Sebenarnya ia juga penasaran sih. Tumben sekali Jaysha tak menemuinya dulu
sebelum ia pulang. Padahal biasanya dia sempat mampir hanya untuk bilang
kalau gadis berambut sedikit kemerahan
itu tak mau diantar olehnya. Hanya saja, tadi gadis itu sudah mengirim pesan
kalau ia akan pulang duluan, jadi ia tenang-tenang saja.
“H-Halo, kak J-Juna hiks...?”
“Lho Jahe? Kamu habis nangis?”
Dahinya mengernyit ketika mendengar suara balasan di seberang sana. Kentara
sekali ia sesenggukan. Apa ada masalah di rumah gadis itu? Jantungnya berdetak
dengan cepat. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Pikirannya mulai berkecamuk
memikirkan hal-hal buruk
“E-enggak kak. B-bisa minta tolong..
hiks... gak j-jangan telfon aku dulu? A-aku hiks... capek kak..”
Hanya terdengar nada sambungan terputus setelah itu. Juna menatap layar
ponselnya yang kini menghitam. Ada yang tidak beres kali ini dengan kekasihnya.
Dan ia harus segera menemui gadis itu di rumahnya, untuk mengetahui masalah apa
yang sebenarnya terjadi, hingga dia menangis.