
Park Sehun melempar gelas
anggurnya ke kaca dihadapannya,membuat banyak serpihan gelas dan kaca pecah
berserakan. Salah satu serpihannya bahkan tepat mengenai pipinya yang putih
bersih bak susu,dia pun memegangi pipinya yang mulai mengeluarkan darah segar
yang pekat. Dia tersenyum smirk,dan kemudian menghapus darahnya kasar. Dia
beranjak dari posisinya sekarang dan keluar kamarnya,penthouse besar nan mewah
itu kediaman Park Sehun pekerjaannya sebagai seorang dokter forensik disebuah rumah sakit yang bekerja
sama dengan kepolisian jelas memberikannya banyak pundi-pundi uang. Park Sehun menuju ruang
penyimpanan obat-obatan dan mengambil 1plester dan langsung menempelkan pada
lukanya dengan bantuan cermin diruangan itu. Sehun pergi keruang tengah dan
menjatuhkan dirinya disofa,dia meraih handphone yang tergeletak dimeja sejak
lama tadi. Dia menekan angka 1 dan tertera nama Park Jongin disitu,namun nada
tidak aktif kembali terdengar disitu. Sehun mendengus frustasi dan kembali melempar
handphonenya ke meja. "Kemana
kamu pergi?"tanyanya bermonolog. Tit...tit...tit...klining....suara pintu
penthouse Sehun terbuka dengan sendirinya,Sehun reflek
menoleh keasal suara kalau-kalau itu Jongin,namun ternyata dugaannya salah pria
tinggi,tampan bak model menghampiri Sehun di
sofa. "Kenapa kau kesini Lee Seojun?"tanya Hechul dingin,"ada
sesuatu yang harus kau tau Hun"sahut Seojun. Sehun mengerutkan keningnya dan memandang Seojun,yang dipandang melempar sebuah foto
dan sebuah kertas yang berisi seperti peta titik koordinat. "Itu foto
lokasi terakhir Jongin berada,dan itu peta titik koordinat lokasi tujuan Jongin
sebelum handphonenya kembali nonaktife"ucap
Seojun menjelaskan. Sehun mengambil barang yang dilempar detektif sahabatnya yang sekaligus rekan kerja
adiknya Jongin. "Klinik hewan?"tukas Sehun tanda bingung kenapa juga sang
adik harus kesitu. Seojun menghela nafas dan duduk disamping Sehun,"semoga Jongin baik-baik
saja"ujar Seojun.
Dilain tempat Kyra sedang menyiapkan
makan malam dengan sang tante,Kyra menata makanan dan piring dimeja makan.
"Suga....Jongin-shi makan malam sudah siap"teriak Kyra dari dapur.
Gak butuh waktu lama Suga sudah duduk manis dimeja makan dan selang beberapa
menit kemudian Jongin juga duduk dimeja makan juga. Kyra menyodorkan bubur
seafood pada Jongin,"maaf ya jongin-shi untuk beberapa hari sepetinya makanan
ini yang hanya bisa kau konsumsi,karena perut kau belum pulih dan juga aku takut kau punya masalah pencernaan"Kyra sedikit menjelaskan alasannya memberikan Jongin bubur. Jongin
tersenyum dan mengangguk "kau memberiku makan saja sudah terima kasih"sahut Jongin kemudian.
"Makanlah yang banyak Jongin,masakan Kyra tidak pernah mengecewakan
walaupun itu hanya bubur"timpal Min-ah,"iya Imo"sahut Jongin
lagi. Dia kemudian menyuapkan sesendok penuh bubur,dia merasakan bubur yang
lembut serta semua maskan laut yang sangat enak dimulutnya. Tiba-tiba senyumnya
mengembang begitu saja dan kembali menyuapkan bubur lagi. "Senyuman ini yang kau tunjukan
saat kau tidur diklinik ku waktu itu,sebenarnya kau mimpi apa?"cletuk Kyra tanpa basa basi
yang membuat Jongin teringat tingkah laku Kyra saat itu dan memaksa Jongin
untuk tidak tertawa dan yang alhasil membuatnya tersedak dan dia pun
terbatuk-batuk. "Ya....Nuna kau membuat hyung tersedak lagi"ucap Suga
yang kemudian menyodorkan segelas air,Jongin menerima air dari Suga dan
meminumnya perlahan. "Maaf ya Jongin-shi"ucap Kyra sedikit menyesal. "Gak apa -
apa kok" ya Jongin berbohong karena sekarang perutnya kembali berdenyut karena batuk
tadi."Sebaiknya lanjutkan makan kalian,jangan ngobrol terus"sambung
Min-ah.
Suga sedang
mengerjakan tugas rumahnya,sedangkan Jongin hanya berbaring diranjang. Dia berfikir bagaimana dia bisa
menghubungi Hyungnya tanpa mengaktifkan handphonenya kembali. Sekilas dia
memandang Suga yang sedang belajar dan kemudian dia menggeleng-gelengkan
jangan ditambah Suga lagi"ucapnya sendiri dalam hati. "Hyung...kalau
bosan bersantailah dibalkon,disana suasananya menenangkan"ucap Suga seakan
tau kalau sekarang hati Jongin sedang cemas dan bingung.
"Eoh???"Jongin bingung gimana menanggapi Suga namun akhirnya dia pun
keluar kamar Suga menuju balkon. Banyak bunga di balkon serta ada 3kursi berderet
diletakkan disitu,sengaja menghitung jumlah orang dirumah itu sepertinya.
Suasana malam di rumah Kyra sangat sunyi dan tenang,sedikit dingin Jongin
rasakan. "Sepertinya ini angin awal musim dingin"ucapnya dan kemudian
duduk dikursi perlahan. Dia masih saja mengringis saat merasakan perutnya nyeri,”aku harus hubungi Sehun
hyung”gumamnya,Jongin memejamkan matanya yang mulai terserang kantuk akibat
obat yang dia minum barusan tapi belum juga terlelap dengan sempurna sebuah
selimut tebal menyelimutinya dan dia pun mendapati Kyra sedang menyelimutinya.
Sedikit berjingkat kaget Jongin “tidurlah kalau ngantuk tapi setidaknya pakek
selimut ini”ucap Kyra yang merapikan selimut Jongin,”terima kasih”timpal Jongin. Kyra duduk di
kursi sebelah Jongin dan memandang laki-laki yang belum genap 2hari dia kenal
ini. “Jongin-shi kalau aku boleh bertanya kau sebenarnya siapa?ceritalah
rahasiamu akan tetap aman dengan ku”tanya Kyra yang sangat penasaran. Jongin
memandang Kyra dan menghela nafas, “Kyra-shi kau mungkin sangat penasaran
dengan ku,tapi sungguh saat ini aku gak bisa cerita apa-apa pada kau. Cukup
jadilah dokter untuk ku,dan aku bisa jamin aku bukan orang jahat Kyra-shi”sahut
Jongin, Kyra memandang Jongin frustasi dan menghela nafas pelan. “Ok”sahutnya
kemudian beranjak berdiri langkahnya terhenti karena tangannya ditarik
Jongin,”Miane Kyra-shi nanti aku pasti cerita semuanya pada kau”ucap
Jongin,Kyra menoleh kemudian tersenyum. “Masuklah Jongin-shi nanti kau masuk
angin,udara awal musim dingin ini dingin sekali”ucap Kyra kemudian pergi.
Jongin menghela nafas “maaf Kyra-shi”gumamnya dan Kyra masih bisa mendengar itu
karena dia masih membelakangi laki-laki pesakitan itu. Kyra tersenyum kecut
“semoga memang kau laki-laki baik Jongin-shi”batin Kyra.
Pent House Sehun
Sehun terus menghubungi
Jongin,berkali-kali dia menelponnya namun sama sekali gak ada yang tersambung.
Sehun semakin frustasi kalau ingat lokasi terakhir sang adik itu klinik hewan.
“Apa dia terluka parah?kemana sebenarnya kamu Jongin-a”gumam Sehun gusar sambil
mengacark-acak rambutnya. Dia kembali meneguk bir kalengan dihadapannya,Seojun
mendekati Sehun yang sedang frustasi berat itu. Seojun menepuk pundak Sehun
pelan “tenangkan dirimu,aku selalu melacak keberadaan Jongin semoga saja dia
mengaktifkan handphonenya nanti”,Sehun hanya mengangguk menanggapi ucapan
Seojun. “Sebenarnya siapa Hechul itu Hun?kenapa Jongin benar-benar ingin
memenjarakan dia?”tanya Seojun. Sehun menghela nafas berat,”dia mafia paling
dicari polisi Seojun,ku pikir kau tau itu karena kau juga detektif kan?”sahut
Sehun dingin,”aku tau Hun,tapi aku gak sebodoh itu untuk percaya kalau Hechul
sebatas mafia yang dicari banyak polisi. Ini bukan pertama kali untuk Jongin
turun langsung menyergap Hechul tanpa rencana matang”Jongin frustasi dengan
jawaban Sehun. “Dia tersangka pembunuh
orang tua kami yang dibebaskan karena tidak ada bukti kuat”,”kau ingat
Seoujun,ke dua orang tuaku sama-sama polisi yang meninggal saat mereka
menghadiri kelulusan anaknya,dan Hechullah yang menembak kedua orang tua ku
didepan mata Jongin sendiri saat adikku itu masih SMA. Kejadian itu sangat
membekas hingga dia gak akan pernah membiarkan Hechul terus bebas di Daegu
ini”terang Sehun,Seojun mendengarkannya dengan seksama dan kemudian menghela
nafas.