
"Lady!"
Rania berbalik, dia melihat Brankly berdiri di belakang nya.
"Ada apa kamu mencari ku? Aku sedang ingin sendiri!"kata Rania menatap pria itu datar.
"Maaf Lady, tapi aku hanya ingin bertanya, mengapa lady hanya diam saja. Semua kekuatan sudah lady miliki, kapan lady akan balas dendam!" tanya Brankly.
Rania terdiam, dia masih berpikir jernih dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Di sisi lain, dia sudah mencintai Adam. Di sisi lain, kematian kedua orang tuanya membuat hatinya terluka.
"Kenapa harus kalian?" Gumam nya dalam hati.
"Lady" panggil Brankly menyadarkan Rania dari lamunan.
"Aku sedang tidak ingin membahas ini!"
"Tapi Lady, ini harus di bahas. Kami ingin kematian ratu dan raja kami di selesaikan!"tuntut Brankly.
Rania menatap Brankly marah, dia tidak suka di desak seperti ini. Seketika mata Rania berubah menjadi hitam.
"Aku tidak suka di paksa! Aku Ben-"ucap Rania terhenti.
"Jangan lupa jika aku juga bagian dari keturunan kerajaan!" Potong Brankly. Dia juga memperlihatkan kemarahan nya.
"Besok, bulan purnama sempurna. Semua pasukan telah menyiapkan ritual penyatuan kita! Secepatnya kita harus memenuhi takdir ini!" ucap Brankly.
Rania tidak bisa membantah, dia juga harus mengakui jika Brankly juga hebat seperti dirinya. Apalagi Brankly Sanga mengetahui tentang semua kekuatan. Berbeda dengan Rania yang baru menyadari kekuatan ini.
"Penyatuan apa?" tanya Rania tidak mengerti. Namun, pertanyaan nya seakan tenggelam di dalam keremangan. Brankly lebih dulu pergi sebelum mendengar pertanyaan Rania.
"Dasar pria tua" dengus nya kesal.
Saat yang bersamaan, Felicia muncul di hadapan Rania.
"Luna"
"Arggg!" Rania berteriak histeris. Menatap Felicia kesal.
"Kamu ini, bikin aku serangan jantung!" Gerutunya.
Felicia hanya tertawa, kemudian meminta maaf.
"Maaf Luna, aku hanya iseng" jawab Felicia sembari mengendalikan tawanya.
Huh..
Rania beranjak dari sana, dia duduk di tepi ranjang yang 1 Minggu ini menjadi tempat istirahat nya.
"Apa kamu tahu, tentang penyatuan di bulan purnama besok?" tanya Rania.
Felicia tampak berpikir, dia berjalan mendekat pada Rania.
"Penyatuan di bawah purnama? Hmm...Ini merupakan penyatuan dua orang yang akan berbagi kekuatan. Sehingga satu sama lain di antara keduanya memiliki kekuatan satu sama lain" jelas Felicia yang di awal nya dia ragu.
"Maksudnya apa?" tanya Rania masih belum mengerti.
"Astaga. mengapa sebagian diri ku bodoh begini" cibir Felicia.
Rania mengerucutka bibirnya, ucapan Felicia membuat batin nya tersentil.
"Luna ku tersayang, jika kamu melakukan ritual penyatuan dengan Brankly. Maka kekuatan yang kamu miliki akan di milikinya juga oleh Brankly. Begitu sebalik nya" jelas Felicia panjang lebar.
"Apalagi di bawa sinar rembulan", imbuh nya.
"Jadi, aku juga memiliki kekuatan serigala yang Adam miliki??" Pikir Rania terkejut. Dia dan Adam juga sudah melakukan penyatuan.
"Eh iya, ada apa?" Kaget Rania.
"Ihh Luna diam aja, mikirin apa sih?"gerutu Felicia menatap intens wajah Rania.
"Gak ada, udah deh kamu pergi dulu. Aku lagi mau sendiri!" usir Rania.
"Eh aku di usir?"
"Terus kenapa?" tantang Rania, membuat Felicia mengerucutkan bibirnya.
"Baru saja nongol, sudah di suruh pergi! Entah bagaiy lah diri ini" gerutu Felicia sembari berlalu pergi. Dia terbang dAn menghilang ketika berada di luar mansion.
Kini tinggal Rania sendiri di kamar besar itu. Dia menatap gambar mama dan papa nya yang tertempel di dinding.
"Mama...Papa...Kenapa takdir ku seperti ini? Kenapa harus cinta ku berhimpitan dengan takdir dendam ku" setetes air mata berhasil jatuh di pipi nya.
Wusss.....
Tiba-tiba angin kencang datang menerpa seisi kamar besar milik Rania. Dia menutup wajah nya agar debu tidak masuk ke dalam mata.
Aneh nya,angin hanya memberantakan barang, namun tidak dengan Rania yang masih duduk di tepi ranjang.
Brak!
Bingkai lukisan gambar mama papa nya pun terjatuh di tiup angin. Kemudian dalam sekejap angin itu pergi begitu saja.
Rania bergegas mengambil bingkai gambar orang tua nya. Kaca bingkai pecah, seperti hati Rania saat melihat gambarnya rusak.
"Bagaimana ini bisa terjadi? mengapa hanya gambar ini saja yang jatu" gumam Rania marah. Dia mengambil kertas gambar kedua orang tuanya, tanpa sengaja dari belakang kertas itu terdapat sebuah kertas kecil yang terlipat.
"Apa ini?" Gumam Rania bingung. Dia membereskan semuanya, kemudian membawa kertas gambar mama, papa nya, dan juga kertas terlipat kecil itu.
Rania penasaran, kertas apa ini, mengapa ada di dalam bingkai gambar mama dan papa nya.
Rania kembali duduk di tepi ranjang nya, membuka lipatan demi lipatan.
Seketika mata nya melebar, dia melihat tulisan demi tulisan di dalam kertas yang ternyata lembaran besar.
Rania pun mulai membaca nya, dia mengartikan sendiri apa yang di tulis di kertas itu.
Dear anak ku sayang, mama yakin kamu pasti akan membuka kertas ini. Sekarang mungkin kamu sudah dewasa, sudah mengetahui segalanya tentang jati diri mu sendiri. Mama harap kamu cerdas dalam menggunakan kekuatan mu.
Jadilah Queen yang baik, jangan seperti mama yang sangat bodoh, sehingga mudah di serang musuh.
Mate, apa kamu sudah menemukan Mate mu? Mama tebak pasti sudah. Percayalah nak, mate mu pasti sangat baik. Ketika kamu masih kecil, mama sudah meramal siapa yang menjadi mate mu. Dia pria yang baik, tampan dan rela mati demi diri mu.
Hmm..Sayang. Mungkin mama sudah menulis terlalu panjang. Tapi setidaknya mama bisa lega jika kamu sudah membaca surat ini.
Kekuatan mu sangat dahsyat, mama harap kamu jangan tertipu muslihat kegelapan. Itu hanya akan membahayakan dirimu sendiri. Kerajaan kita hancur karena mereka, mereka yang licik merampas semuanya.
Mungkin kamu sudah tahu apa yang terjadi pada mama dan papa. Tapi percayalah, satu satunya orang yang bisa kamu percaya adalah bibi Claudia. Mama sengaja meninggalkan kamu bersama dia.
Sayang, Claudia bibi kamu yang menyelamatkan satu satunya keturunan kita. Yaitu kamu.
Brankly -.-
Rania membolak balik kertas itu, dia tidak bisa menemukan kelanjutan nyam mama nya terhenti di kata Brankly. Seperti nya mama nya tidak sempat menuliskan kelanjutannya.
Rania juga menemukan bercak berwarna hitam di bagian bawah kertas. Seperti nya itu adalah bercak darah.
"Apa yang terjadi? Mengapa mama hanya menulis nama Brankly. Siapa dia sebenarnya??" batin Rania.
Rania merasa seolah di beri teka teki oleh mama nya. dia harus memecahkan sendiri tentang situasi kehidupan nya.
"Mama.. Rania tidak tahu harus berbuat apa. Rania bingung " pekik nya dalam hati.