
Aaarrrrggg!!!
Rania mengerang kesakitan, mata nya terbuka lebar. Melotot melihat keatas langit langit kamar.
Adam yang berada di sisi mate nya, menjadi terkejut. Dia berusaha untuk menenangkan mate nya agar tetap tenang.
"Mate, ada apa? Yang mana sakit?"
Adam terlihat semakin panik, di tambah lagi ocehan Adit di dalam sana.
"Mate, tenang lah. Aku di sini bersama mu"
"Adam! Arrgg..."
Rania terus merasakan sakit di sekujur tubuh nya. Dia menggeliat kesakitan.
"Ada apa kak? Mengapa Luna berteriak seperti itu?" tanya Mawar yang buru buru masuk ke dalam kamar kakaknya, ketika mendengar suara teriakan Rania.
"Aku tidak tahu, dia tersadar dan tiba-tiba seperti ini" jelas Adam.
Mawar menatap Rania, berusaha memegang tangan nya dan mencoba untuk melihat apa yang saat ini terjadi pada tubuh kakak iparnya.
Diarr..
Mawar terpental, kekuatan yang sangat dahsyat melemparnya jauh dari Rania.
"Mate" pekik Guntur, dia langsung mengejar mate nya dan membantunya berdiri.
"Ada apa?" Tanya Adam. Dia menatap adik nya dengan tatapan penasaran.
"Kak, seperti nya kekuatan besar sedang memasuki tubuh kakak ipar"
"Apa? Kamu jangan bercanda!" Tegas Adam.
"Dia tidak bercanda! Saat ini bukan purnama tingkat sempurna. Kekuatan yang bersemayam di tubuh Rania, tengah mengumpulkan kekuatan alam."
Adam dan mawar menoleh kearah pintu, Claudia berjalan masuk ke dalam kamar milik Adam.
"Claudia?" Gumam Adam.
Sedangkan Mawar dan Guntur hanya menatap Claudia saja, mereka tidak mengenalinya.
"Luna tengah beradaptasi dengan kekuatan nya. Sebaik nya kita lindungi pack ini, sebelum kaum kegelapan merasakan aurah nya." ujar Claudia.
Mereka berkumpul, membentuk satu lingkaran. Lalu, bersimpuh di lantai sambil kedua lutut mereka saling beradu.
Claudia membacakan sebuah mantra, seketika cahaya berwarna emas membulat seperti bola muncul di sekitar mereka. Semakin lama, cahaya itu semakin besar dan menutup seluruh packhouse.
Arrggg....
Semakin lama, teriakan Rania semakin kuat. Dia merasa tubuhnya seperti di cabik cabik, di banting dan di patahkan seluruh tulangnya.
"Apa yang terjadi pada diri ku?" pikir nya bertanya tanya.
Rania semakin terkejut, dia merasakan tubuhnya semakin terangkat dan mengambang di udara.
Kilatan cahaya besar berwarna putih, menyelimuti tubuh Rania. Di situlah Rania merasa semua siksaan itu terasa secara bersamaan, hingga membuat dirinya tidak merasakan apapun lagi.
Cukup lama tubuh nya di selimuti cahaya itu, akhirnya Rania merasakan kebahagiaan, merasa tubuhnya ringan dan sangat segar.
Perlahan cahaya itu memudar, membawa Rania turun, berdiri di samping ranjang.
Adam membuka mata, dia melihat Luna nya tengah berdiri dengan senyum manis.
"Dia Rania?"gumam Mawar bingung. Dia juga membuka matanya setelah kakak nya membuka nya.
Adam segera berdiri, dia mendekati calon istri nya yang sudah berubah penampilan nya.
"Mate, kamu luar biasa. Sangat cantik"puji Adam menatap Rania dengan tatapan memuja.
Rania tersenyum tipis, sejujurnya dia masih belum bisa memahami situasi ini. Namun, saat melihat Adam terkagum padanya, membuat hati Rania menghangat.
"Dia sudah menjadi peri terkuat sesungguhnya" gumam Claudia.
Rania memeluk Adam, kemudian dia beralih pada Claudia.
"Bibi di sini juga?" tanya Rania heran.
Claudia hanya tersenyum, dia memeluk keponakan nya.
"Bukan kah sudah pernah aku katakan, di mana ada Rania, di situ ada??"
"Ada Claudia"sambung Rania senang. Mereka semakin berpelukan erat.
"Terimakasih bi, aku senang bibi selalu menemani ku"gumam Rania.
Setelah acara peluk pelukan,mereka semua berkumpul di ruangan keluarga. Rania duduk di samping Adam, dia mendengarkan semua cerita yang baru pertama kali dia mengerti.
Dulu,ketika teman teman nya bercerita tentang hal yang di anggap mitos oleh nya, malah di ledek oleh Rania.
Namun sekarang, dia malah terperangkap di dalam kenyataan, bahwa dirinya merupakan bagian dari cerita mitos itu.
"Jadi, aku seorang peri?" Tanya Rania seakan tidak percaya.
"Iya sayang, kamu dan aku adalah keturunan peri. Dan kamu merupakan keturunan ke 27. Kamu pewaris segala kekuatan peri, demon, Vampir dan juga serigal" jelas Claudia.
Rania menggeleng, dia tidak bisa menerima cerita omong kosong itu. Namun, di saat tangan nya memegang mahkota yang tiba-tiba muncul di atas kepalanya, Rania seakan di tampar oleh kenyataan.
"Sstt...Mate, kamu tidak perlu pusing. Kamu hanya cukup menjalani nya saja" ucap Adam lembut. Dia menatap mate nya penuh dengan kasih sayang, membuat hati Rania luluh.
"Tapi Adam, aku tidak mengerti mengapa aku bisa masuk dan menjadi bagian dari semua ini"
"Kamu tidak masuk Rania, kamu memang sudah menjadi bagian dari kami sejak kamu di lahirkan!" Seru Mawar, oh bukan itu adalah Laura. Terlihat dari gaya bahasa dan nada bicaranya, itu sudah sangat jelas Laura.
Rania menatap Laura, dia terkejut melihat mawar berbicara sangat kasar.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu!" ucap Rania menunjuk Mawar, seketika itu telunjuk Rania langsung muncul kobaran api kecil.
Hal itu menunjukkan bahwa Rania sudah tersinggung.
"Ah.." Rania terkejut sendiri melihat ada api di jarinya.
"Mate, tenang kan diri mu. Kamu harus mengendalikan diri mu"
Rania seakan tidak mendengarkan Adam, dia masih sibuk dengan kepanikan nya sendiri.
Semakin lama Rania semakin histeris. Dia merasa dirinya sudah gila dengan ilusi seperti ini.
"Arrgg....Kenapa aaku seperti ini??? Bibi tolong aku!!!" Teriak Rania berlari mendekati bibi nya.
"Rania, kamu tenang. Tarik nafas, hembuskan ....."
Brak!
Seketika meja yang ada di depan mereka melayang di udara.
"Aku panik, mengapa kau suruh aku diam!" Marah Rania pada Claudia.
Rania berdiri, kepungan asap berwarna merah mengelilingi tubuh Rania. Seakan asap itu berkobar seperti emosi Rania saat ini.
"Kau harus kendalikan diri mu Rania, jangan mau di bodohi oleh kekuatan!" Teriak Laura, dia juga terpancing emosi dengan perbuatan Rania.
"Kau membentak ku! Siapa kau, mengapa kau berani pada ku!"teriak Rania.
Wusss....
Dalam satu amkali ayun, Rania langsung tiba di hadapan Mawar. Dia mencengkram batang leher mawar kuat. Membuat wanita hamil itu kesulitan bernafas.
"Hentikan Luna!! Istri ku bisa mati" lerai Guntur mencoba melepaskan istri nya, namun Rania malah menepis Beta itu.
Brak!
Tubuh Guntur melayang dan terhempas pada dinding.
Melihat mate nya di perlakukan seperti itu, tentu saja membuat Laura semakin murka. Dia berusaha untuk melepaskan diri dan melawan Rania. Namun, tubuh nya seakan kaku. Dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan nya sama sekali.
"Hahahaha......Apa kau tidak bisa bergerak? Hahahah..." Rania tertawa terbahak bahak melihat ketidak berdayakan mawar/Laura.
Adam mendekati Rania, dia berusaha untuk menenangkan mate nya dari emosi yang belum stabil.
"Mate" gumam Adam. Dia langsung memeluk Rania dari belakang.
Perlahan mata Rania berubah seperti warna sebelum nya. Kobaran asap emosinya pun mulai memudar dan menghilang.
Cengkraman tangan Rania di leher Luar perlahan memudar.
"Mate..."lirih Adam lagi.
Slep..
Tubuh Rania melemah, dia sudah normal kembali. Dengan cepat, Adam membalikkan tubuh matenya, dan langsung memeluknya erat.
Melihat hal ini, mereka semua menjadi tahu. Adam adalah kelemahan Rania. Dia akan kembali tenang jika dia berada di dekat Adam.
"Adam..." Gumam Rania lemah.
"Sttt...Tenang, semuanya sudah baik baik saja." Bisik Adam menenangkan.
Mawar bernafas lega, dia menoleh pada mate nya. Lalu dengan langkah cepat, mawar berlari mendekati mate nya.
"Mate"
"Mawar.... Sayang, kamu baik baik saja?" Balas Guntur berusaha untuk segera bangkit, lalu dia memeluk mate nya.
"Maafkan aku, karena aku kamu celaka" lirih mawar, dia langsung menangis di dalam pelukan suaminya.
"Sttt...Tidak sayang. Kamu gak salah, semuanya tidak apa apa sekarang " bujuk Guntur, dia mengusap air mata yang keluar dari pelupuk mata indah istri nya, belahan jiwanya.
"Syukurlah, semuanya baik baik saja" Claudia bernafas lega. Dia mendekati keponakan nya, lalu menyuruh Adam untuk membawa mate nya masuk ke dalam kamar
"Sebaiknya bawa Luna beristirahat alpa"
Adam pun setuju, dia menggendong istri nya pergi ke kamar. Rania tidak melawan, dia hanya pasrah dan memeluk leher Adam.
Rania tersenyum sambil memejamkan mata, menikmati aroma wangi yang dia cium dari tubuh Adam
"Mengapa aroma tubuh Adam terasa sangat menenangkan" batin Rania, dia semakin menempel pada kulit leher Adam. Membuat pria itu menggeram menahan sesuatu yang saat ini mendesak ingin keluar.
"Mate, kau membuat ku ingin memakan mu di kamar"geram Adam.
Bukan nya takut, Rania malah merasa itu seperti lelucon dari mulut Adam.
Bukan nya berhenti, Rania malah semakin mengendus endus leher Adam, bahkan dia memberikan jilatan kecil.