
Adam membawa Rania ke dalam kamar, membaringkan secara pelan agar mate nya tidak merasakan kesakitan.
Terlihat Rania menggeliat pelan, tubuh nya pasti terasa seperti remuk oleh pertarungan tadi.
"Maafkan aku mate, tapi ini harus kamu lakukan, ah bukan tapi kita" gumam Adam berbisik di telinga Rania.
Adam beranjak dari sisi mate nya, menutup segala pintu yang ada. Baik itu jendela maupun balkon.
Setelah merasa semua pintu telah di tutup, Adam membacakan sebuah mantra, untuk mengunci ruangan ini. Agar tidak ada yang bisa masuk, kecuali setelah Adam membuka mantranya.
Setelah mengunci nya, Adam kembali mendekati mate nya. Menatap wajah cantik mate nya yang sangat menggairahkan.
"Adam..." Panggil Rania pelan.
"Iya mate, aku di sini. Selalu di sini" sahut Adam.
Rania mulai membuka mata nya, menatap wajah Adam yang sangat dekat dengan nya.
"Mate..."
Rania memejamkan matanya kembali, merasakan hangatnya hembusan nafas Adam menerpa kulit wajah nya.
Adam semakin bergairah, apalagi melihat mate nya yang lemas dan terlihat pasrah di hadapan nya.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Rania, namun tidak membuat wanita itu membuka matanya. Malah, Rania semakin memejamkan matanya, kemudian kedua tangan nya langsung mengakung pada leher Adam.
"Apa syarat selanjutnya? Apa kita harus making?"tanya Rania terdengar sensual di telinga Adam.
"Apa kamu sudah siap?"
Rania mengangguk, tentu saja dia sudah siap. Entah efek apa, Rania merasa tubuhnya bergairah.
"Aku sangat menginginkan kamu" Rania langsung menarik Adam, menempelkan kembali bibir mereka.
Namun, kali ini bukan hanya sekedar menempel saja. Tapi, juga permainan yang Adam ajarkan pada Rania.
Adit menggeram di dalam sana, dia mampu merasakan hangatnya ciuman Adam dan Mate nya.
Rania memejamkan matanya dalam, dia berusaha menikmati permainan Adam. Membiarkan pria itu mencumbu rayu tubuh nya. Memberikan kepuasan yang teramat besar.
Cukup lama mereka saling merayu, Kini Adam mulai melucuti pakaian milik Rania satu persatu.
"Ahh..." Lenguhan pelan keluar dari bibir Rania, saat Adam dengan sengaja menelusuri gunung kembar milik Rania, dengan lidah nya.
"Apapun yang kamu rasakan, ini adalah bentuk rasa cinta ku pada mu mate"tutur Adam.
Rania sudah tidak peduli lagi, dia hanya ingin menuntaskan semua ini.
"Ahh...Adam..." Lenguh Rania lagi.
Melayang, Rania merasa jiwa nya melayang saat ini. Buaian Adam sungguh luar biasa.
Saat ini mereka berdua sudah tidak mengenakan sehelai benang pun. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka yang saling menempel.
Adam menatap mate nya yang terbaring di bawah nya. Pusakanya sudah menempel di depan pintu masuk ke sarang nya.
"Mate..." Bisik Adam.
Rania membuka matanya, menatap lekat ke manik mata Adam.
"Aku menginginkan nya" ujar Rania memberikan surat ijin pada Adam, agar segera melakukan nya.
Adam tersenyum, ternyata tidak sesulit yang dia pikirkan.Rania terlihat pasrah ketika dia ingin melakukan nya sekarang.
"Aku pasrah, demi kebaikan kita semua." Lirih Rania.
Sebelum melakukan ritual making, Adam harus menandai mate nya terlebih dulu.
Adam menjilati kulit leher Rania yang berada di dekat bahu nya. Memberikan sensasi yang luar biasa bagi Rania.
"Mungkin ini akan sedikit menyiksa mu, tapi percayalah, hanya sebentar saja" bisik Adam meyakinkan mate nya.
Setelah merasakan anggukan kepala Rania, barulah Adam mengeluarkan gigi taringnya. Kemudian, menusukkan gigi taring yang terlihat sangat runcing ke pangkal leher Rania.
"Ahhk!!!!!!" Rania berteriak keras, rasanya kulit leher nya tercabik cabik saat taring Adam menancap pelan ke sana.
Duarr....Duarr...
Di luar langsung terdengar suara gemuruh petir, angin bertiup kencang. Seakan sedang bersorak menyemangati ritual yang Adam sedang lakukan.
Claudia dan Mawar mondar mandi di ruangan keluarga. Mereka menunggu dengan rasa khawatir yang kuat.
Di saat kekuatan Rania yang sudah semakin kuat, kemungkinan terjadinya making sangat sulit. Mereka berpikir Rania akan menolak dan melawan Adam.
Namun, yang terjadi di luar perkiraan mereka. Rania mendesah keras, saat Adam selesai menandainya dan menjilati bekas gigitan nya.
Adam tersenyum, melihat tanda yang baru saja dia buat. Tato Cakar serigala dan burung merpati yang saling berhimpitan.
"Sangat indah" gumam Adam, dia kembali menjilati tanda itu, dan Rania semakin mengerang.
"Ahh...Adam.." lenguh nya.
"Yes baby, aoa kamu sudah siap dengan ritual yang kedua?"
Rania mengangguk, apapun itu dia akan selalu siap. Dia sudah percaya pada Adam, jadi dia akan menurut saja.
Adam membelai wajah mate nya, wanita yang akan menempati dirinya hingga akhir hayat.
cup.
kecupan lembut Adam hadiahkan untuk mate nya. Kemudian, dia mulai melancarkan aksinya.
menggauli tubuh mate nya yang terlihat sangat indah.
"love you"
"Love you too"
Adam menciumi seluruh area sensitif Rania. menggoda agar mate nya semakin terangsang.
"aAhh...".
"Adam...Ahh.."
"Yap..Di sana..."
lenguhan demi lenguhan mulai terdengar memenuhi kamar.
Rania terlihat semakin gila, dia menggeliat tidak karuan oleh perbuatan Adam.
Wanita itu menatap mata Adam, membelai rahang tegas milik Adam.
"aku bahagia, kamu hadir di hidup ku. menjaga ku dari penyihir jahat. Jika seandainya sesuatu terjadi. maka kamu harus ingat. Aku mencintai mu! aku tidak akan membuat mu terluka! Janji ku Adam.Janji seorang ratu besar!"
Cup.
Adam tersenyum, dia mengecup kembali bibir mate nya.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu itu terjadi pada mate ku. Kita akan selamanya bersama. Sekarang, atau nanti. Di kehidupan sebelum nya, di kehidupan sekarang, atau pun di kehidupan selanjutnya. Kita akan bersama mate" ucap Adam.
Mendengar kalimat itu, membuat Rania tersenyum senang. Dia sangat bahagia mendengar nya.
"Ahh...Ahh...Adam, yahhh Di sana" lenguh Rania keenakan. Adam pun semakin mencium mate nya semakin panas.
Menciumi leher, gunung, dan kini Adam berada di antara pembatas goa surgawi.
Dia cukup lama menatap lobang goa tersebut. kemudian mencoba untuk menjilati.
Menggoda Rania dengan lidah nya yang bermain main di sana.
"Ahh...Adam geli...Geli Adam.."
"Nikmati mate, nikmati lah...."
Adam terus menjilatinya, membuat Rania menggeliat ke kiri dan ke kanan.
Setelah merasa sudah cukup menggoda mate nya. Adam pun kembali menindih Rania. Mengecup singkat bibir ranum Rania.
"Kamu siap beb??"
"Yahhh Ahhh..." lenguh Rania merasakan sesuatu mulai terasa memasukinya.
Adam melakukannya secara pelan, agar mate nya tidak merasakan sakit.
Hari itu, mereka resmi menyatu seutuhnya. Adam telah menjadikan mate nya menjadi milik nya seutuhnya.
"Ahh ..Ahh..."
"Ahh...Ahh..."
Hanya lenguhan kenikmatan yang terdengar di dalam ruangan kamar.
Tanpa Adam dan Rania sadari, kamar itu perlahan berubah menjadi kamar pengantin.Hiasan indah terbentuk dengan sendirinya mengikuti perintah hati Rania.