
Malam hari pun tiba, Rania bersiap di depan api yang di buat tinggi. Di sana sudah berkumpul semua orang lengkap dengan senjata mereka.
Di atas panggung yang di hias Seperti malam pengantin, Rania melihat Brankly berdiri menatap kearahnya penuh nafsu.
Mata hijau milik Rania tiba-tiba berubah menjadi warna gelap. Dia merasakan tubuhnya membara, seakan nafsunya tiba-tiba naik ketika merasakan sinar rembulan menerpa permukaan kulit nya.
Semua orang bersorak, menyemangati langkah Rania yang berjalan menaiki panggung pengantin itu. Brankly juga tersenyum melihatnya.
"Akhirnya, kamu datang juga sayang. aku sudah lama menunggu moment ini"
cup.
Rania membiarkan Brankly mengecup lehernya. mengusap dan mengendus setiap wajahnya.
Brankly membaringkan Rania di atas ranjang yang telah di sediakan, dia terus mengecup dan menjilati leher Rania.
Aneh sekali, Rania tidak bergairah sama sekali. Hatinya malah marah pada Brankly yang seakan melecehkan dirinya.
Namun, Rania berusaha untuk menahan rasa marah nya. Dia memang sedang bergairah, namun bukan kepada Brankly.
Saat Berganti posisi, Rania memanfaatkan Brankly yang sudah di telan nafsu.
Rania berada di atas tubuh Brankly, ketika ada kesempatan
"Akh..."
Brankly berteriak menahan sakit di leher nya. Rania mencengkram kuat dengan kuku kuku nya yang panjang leher Brankly.
Senyum menyeringai terlihat jelas di bibir Rania, matanya berubah menjadi warna merah. warna mata vampir.
"Kau pikir aku wanita bodoh? aku tahu siapa diri mu. kau berusaha untuk mengambil kekuatan ku bukan?"
cih.
"Kau tidak akan mendapatkan hal itu. Mungkin aku akan bergairah, tapi bukan kepada mu. Tapi pada mate ku!"
Rania berdiri, dia mengangkat tubuh Brankly dengan cara mencengkram lehernya.
"Lihat lah! raja kalian! aku sudah menaklukkan nya. Siapa yang ingin mengikuti dia? angkat tangan kalian!!" seru Rania dengan amarah yang menggebuh.
Salah satu anak buah setia Brankly berusaha memanah dan membacakan mantra untuk menyerang Rania.
Rania melirik kearah mereka, dalam sekali jentikan. mereka langsung berubah menjadi asap hitam.
"Lepaskan aku Rani! kamu akan menyesal setelah membunuh ku. Hanya aku yang mengetahui seluk beluk keluarga mu!" ucap Brankly.
Rania tersenyum miring,dia menatap Brankly dengan tatapan mengejek.
"Aku sudah tahu semuanya, aku bisa membaca masa lalu. Kau tidak perlu repot repot menceritakan nya pada ku"
Terlihat ekspresi terkejut di wajah Brankly, dia tidak menyangka Rania akan selicik ini.
"Kalian hanya di perbudak" seru Rania.
"Rania!"
Rania menoleh, dia melihat Adam dan bibi nya berdiri di bawah sana. Mereka sudah siap dengan pasukan nya.
Rania tersenyum, dia menatap seorang pria yang yang sangat dia rindukan.
Sinar rembulan semakin meresap ke dalam kulitnya. Rania tidak sadar cengkraman tangan nya di leher Brankly longgar .
Dengan kesempatan yang ada, Brankly menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri.
"Hyattt"
"Rania!!" Adam berteriak melihat Brankly menyerang mate nya hingga terpental ke bawah.
"Serang!!!!!!" seru Brankly pada pasukan nya.
Brak!
Rania jatuh tepat di depan Adam. kepala nya terbentur kuat.
"Rania, mate!!"
"Rania" pekik Claudia.
Mereka mendekati Rania, Adam memeluk mate nya yang tidak berdaya.
"Adam" lirih Rania tersenyum, meskipun dia tidak sanggup berkata kata lagi. Tapi, dia senang melihat mate nya lagi.
"Serang!!!"
Adam dan Claudia panik, mendengar teriakan dan anak buah Brankly yang berlari kearah mereka.
Mau tidak mau,mereka harus melawan pasukan Brankly.
"Serang!! jangan beri kehidupan sedikit pun!" teriak Adam penuh emosi.
Dia mengangkat tubuh mate nya, kemudian menyandarkan di bawah pohon.
"Tetap lah di sini, aku akan segera kembali setelah menebas kepala Brankly" janji Adam.
Dengan keadaan lemah, Rania hanya bisa mengedipkan matanya sebagai jawabannya.
"Tolong jaga Rania" ujar Adam pada Claudia yang juga berdiri di sana bersama nya
Adam kembali ke pertempuran, dia akan mengalahkan Brankly seperti yang sudah dia janjikan pada mate nya.
"Rania, keponakan ku" tangis Claudia memeluk keponakan nya.