
Rania membuka mata, dia tergeletak di atas rerumputan hijau.
Apa ini yang di namakan surga?.
Gadis itu segera bangun, dia melihat ke sekeliling nya. Ada berbagai hamparan bunga bunga yang sedang bermekaran.
Terlihat indah mengayun, ketika bunga bunga itu tertiup angin.
Taman? Waw, ini naman yang sangat indah.
Rania berjalan menyusuri taman indah itu, dia tidak menemukan titik masuk dan keluar. Dia hanya melihat luasnya keindahan.
Sehingga gadis itu berpikir dia benar-benar berada di surga.
Cahaya apa itu?.
Rania memicingkan kedua matanya, bahkan tangan nya terangkat untuk melindungi matanya dari cahaya itu.
Perlahan cahaya itu semakin terang, dan muncullah seorang wanita dari dalam cahaya itu.
"Hei..Buka mata mu"
Rania tersentak, dia membuka matanya dan terkejut melihat seorang wanita cantik di hadapan nya.
"Siapa kamu?"
wanita itu tersenyum, dia menarik tangan Rania menuju ke sebuah bangku. Entah sejak kapan di sana ada bangku, Rania tidak tahu.
Mereka duduk di bangku itu, menghadap ke sebuah taman yang di bawah sana ada kolam ikan.
Sejak kapan kamu berada di atas bukit?
Rania semakin tercengang di buat oleh wanita ini.
"Kamu Rania kan?" tanya wanita cantik , dia adalah Dewi bulan.
Rania mengangguk, matanya tak lepas dari wajah wanita itu.
Siapa dia? mengapa dia sangat cantik. Kupu-kupu juga tahu itu, lihat lah mereka terbang di dekatnya.
"Jangan memuji ku seperti itu" kekeh Dewi bulan.
Rania gelagapan, dia terkejut wanita itu tahu apa yang tengah dia bicarakan dalam hati.
"Aku Dewi bulan, bangsa serigala memanggil ku Moon goddess. "
"Benarkah?" decak Rania kaget.
Dewi bulan mengangguk, dia memeluk bahu Rania.
"Waktu kamu tidak banyak, ada seseorang yang sedang menunggu kamu bangun."
"Siapa?"
Dewi bulan hanya tersenyum, lalu dia menunjuk kearah tepi kolam ikan.
Rania mengikuti arah tunjuk tangan moon goddess. Dia terkejut, di sana ada kedua orang tuanya yang tengah melambaikan tangan kepadanya.
"Mama, papa??"
Rania menoleh pada dewi lagi, dia tersenyum senang.
"Ingat lah Rania, apapun yang kamu rasakan, itulah yang harus kamu lakukan. Semua ada di tangan kamu!"
"Maksud Dewi?"
Rania kembali di buat bingung, dia ingin bertanya kembali tapi, Dewi hanya menjawab.
"Waktu kamu hanya sebentar Rania, mengobrol lah dengan kedua orang tua kamu"
Wusssh...
Dewi pun menghilang di bawa cahaya putih. Rania membuka kedua matanya setelah rasa silau itu menghilang.
Kemana dia pergi?
Rania mencari cari Dewi, lalu mata nya tertuju pada kedua orang tuanya di bawah sana.
Mama papa.
Rania segera berlari menuruni bukit, dia mendekati mama dan papa nya.
"Mama!!! Papa!!"
"Anak ku!"
Mereka saling memeluk, melepas rasa rindu yang sudah lama mereka tahan.
"Anak ku sudah besar, kamu sangat cantik" ungkap papa Rania.
"Mama papa, Rania kangen banget" lirih Rania, dia menangis. Meneteskan air mata hari.
Setelah sekian lama, akhirnya Rania bisa melihat dan berkumpul bersama keluarga nya.
Mama Rania ikut menangis, namun dia menghapus air matanya cepat. Waktu mereka tidak banyak, hanya tersisa beberapa menit lagi.
"Nak, kamu dengar yah" ucap mama Rania. Dia memegang kedua bahu putrinya.
"Ada apa ma?" tanya Rania menatap kedua orang itu bingung.
"Nak, waktu kita tidak banyak" ujar Papa Rania.
Rania semakin bingung, mengapa kedua orang tuanya terlihat seperti di kejar waktu.
Kring!!!!!!!!
Suara lonceng terdengar keras, kedua orang tua Rania terlihat semakin panik.
"Nak, kamu harus dengar ini. Kamu harus kuat, apapun yang kamu jalani itu adalah jalan yang tepat! kamu harus percaya kepadanya" ucap mama Rania.
"Sama siapa ma?"
Rania semakin bingung, kepada siapa dia harus percaya? memilih apa yang kedua orang tuanya katakan.
"Ma, pa, Rania tidak mengerti"
Kring!!!!!!!
Suara itu semakin keras, Rania mulai merasa kedua orang tuanya semakin jauh dan tidak bisa ia gapai.
"Mama!!!! Mama!!!! Papa!!!"
"Jangan tinggalkan aku!!!"
Rania berusaha mengejar mereka, namun seakan jarak mereka terlalu jauh, akhirnya kedua orang tua Rania menghilang dari pandangan mata nya.
Rania tersungkur, air matanya terus mengalir deras.
"Hikss...Hiks...Mama...Papa..."
"Menangis seorang diri tidak akan membuat kamu menemui mereka"
Rania menoleh, dia kembali melihat sosok wanita cantik yang tadi dia temui.
"Dewi, kamu tahu segalanya. Tolong antar aku bertemu dengan orang tua ku!" mohon nya.
Tapi, Dewi bulan menggeleng sambil tersenyum.
"Belum saat nya Rania, kamu belum di takdirkan untuk bersama kedua orang tua mu!"
"Tidak!!! aku tidak mau kemana mana lagi, aku hanya ingin bersama mereka, aku mohon. Bantu aku!"
Dewi bulan tersenyum, dia menarik bahu Rania berdiri di depan nya. Lalu, Dewi pun memeluk Rania.
"Apa kamu tidak kasian? pada dia?" ucap Dewi sambil menunjuk kearah pria yang sedang berdiri sambil memandangi mereka.
Adam?
"Yah anak ku, dia sedang menunggu mu. Pria yang sangat mencintai mu!" ujar Dewi lagi.
Rania menatap kearah sang Dewi, lalu kembali menatap Adam.
"Pergilah Rania, kejar cinta mu. Lindungi cinta mu, dan hidup lah dengan bahagia" bisik Dewi bulan di telinga Rania.
Lalu, setelah itu Dewi pun pergi. Rania ingin mengejar, tapi cahaya putih lebih dulu menghampiri nya dan membawanya masuk ke dalam ke gelapan.
Ada apa ini, mengapa aku berada di dalam kegelapan??
"Hiks...Hiks...Mate, bangun lah. Aku merindukan mu, bangun lah....Ayo buka mata mu!",
Bukan kah itu suara Adam? mengapa dia menangisi ku?.
Rania masih berada di dalam ke gelapan. Dia mendengar semua yang terjadi di sekitarnya. Namun, dia tidak bisa membuka mata nya, seakan tubuhnya terkunci.
Ceklek.
Rania mendengar suara pintu terbuka, dia menebak nebak siapa yang masuk, atau mungkin Adam yang keluar.
"Salam Alpa!"
Mendengar suara penjaga, Rania bisa menebak jika yang masuk adalah seorang penjaga.
Apa hanya Adam berada di kamar ini? apa tidak ada orang lain? mengapa warior itu hanya menyapa Adam?.
Rania mulai gelisah, tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuh nya Bahkan, untuk membuka matanya saja dia tidak bisa.
"Bagaimana kondisi perbatasan? apa sudah banyak penyihir dan pasukan Brankly menyusup?"
Warior itulah menunduk, lalu menjawab pertanyaan Adam.
"Sejauh ini, masih belum ada terlihat tanda tanda adanya penyusup alpa, tapi ada beberapa keanehan yang terjadi!"
"Keanehan apa?" Adam menatap tajam warior tersebut.
"Dari gerbang packhouse, kami melihat ada cahaya putih terang dari langit. Lalu menghantam kamar ini. Karena itu lah saya datang untuk memeriksanya."
"Cahaya putih?" gumam Adam.
"Ya alpa!"
Adam terdiam sejenak, lalu menginterupsi pada warior nya untuk segera pergi.
"Pergilah, tetap awasi segalanya. Apapun itu, segera lapor padaku!"
"Baik alpa!"
Setelah memberi hormat, warior itu segera pergi dari kamar Adam.
"Hm..Cahaya putih? apa penyihir mulai menyerang. Atau parang bangsa Demon???" gumam Adam.
Pria itu kembali menatap mate nya, dia terlihat mengerutkan keningnya.
"Mate!!" gumam Adam spontan, ini pertanda baik. Rania sudah memberikan pergerakan.
"Mate.."
Adam menggenggam tangan Rania, lalu membawanya untuk di cium.
"Sadar lah mate, aku sangat merindukan mu"
Deg.
Rania merasakan sebuah kekuatan merasuk ke dalam tubuhnya. Dia mencoba untuk membuka mata.
"Mate" panggil Adam lagi, dia terlihat sangat bahagian Akhirnya Rania membuka matanya.
"Adam..."
"Iya sayang, aku di sini. " sahut Adam antusias.
Rania kembali memejamkan matanya sebentar, menahan sebuah himpitan yang terasa di atas dada nya.