
"Ahahaha.....Ahahah...."
"Yah, Hari yang sudah aku nantikan, keinginan terbesar ku. Akan segera terwujud"
"Ahahahaha...."
Tawa nyaring menggelegar di ruangan gelap, hanya obor kecil yang memberikan cahaya.
Brankly, penguasa kegelapan. Dia baru saja mendapat laporan dari mata matanya, bahwa kekuatan yang selama ini dia nantikan telah bangkit.
Ratu Immortal telah bangkit, kekuatan yang selama ini dia idam idamkan.
"Sebentar lagi, Sebentar lagi hahaha...."
Orang orang kepercayaan Brankly hanya ikut tersenyum, melihat raja mereka tertawa bahagia. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani ikut tertawa.
"Klan kita Sebentar lagi akan menjadi penguasa!"
"Yah, kita akan menjadi yang terkuat"
Begitulah sahutan dari anak buah Brankly. Mereka ikut senang dengan kabar ini.
"Manusia dan hewan busuk itu, tidak akan mampu menindas kita lagi!" gumam Brankly tersenyum licik. Dia berjalan mendekati anak buahnya, lalu menepuk wajah mereka pelan.
"Kerja keras kita sebentar lagi akan terwujud."
"Yea King, kami tidak sabar lagi"
Barulah mereka tertawa bersama, menantikan kemenangan yang sebentar lagi akan menjadi milik mereka.
"Sekarang, pergilah cari wanita itu, bawa dia kehadapan ku!"
"Siap!" jawab mereka serempak. Secara mistis, mereka langsung menghilang menjadi kepulan asap hitam dan hilang.
Brankly tersenyum, menutup matanya, membayangkan wanita cantik itu ada di hadapan nya. Dia akan memiliki dia dan juga kekuatan nya.
...----------------...
Di packhouse Goldenmoon, Rania tengah duduk di taman belakang. Dia masih memikirkan apa yang telah terjadi pada dirinya dan hidupnya.
*Mengapa hidup ku menjadi seperti ini? mengapa aku tidak bisa kembali hidup normal?
Apakah aku benar-benar bukan manusia? lalu siapa aku*?
"Kamu seorang peri!"
Rania membalikkan tubuhnya,dia melihat Claudia tengah berjalan kearahnya.
"Bibi, dari mana saja kamu? mengapa kamu meninggalkan aku di sini sendirian?"
Claudia memeluk keponakan nya, mengecup puncak kepala Rania penuh rasa cinta.
"Sayang, aku tidak pernah meninggalkan mu. Jiwa dan raga ku, akan dipersembahkan untuk melindungi kamu"
Rania tidak menjawab, dia hanya memejamkan matanya merasakan hangat nya pelukan bibi nya.
Setelah merasa lebih baik, barulah Rania melepaskan pelukan nya pada Claudia. Mereka duduk di kursi yang tadi Rania tempati seorang diri.
"Bi, jelasin sama aku. Mengapa kita bisa menjadi seperti ini?" tanya Rania penasaran.
Claudia tersenyum, dia menggenggam tangan keponakan nya. Menyalurkan rasa positif agar emosi keponakan nya terkontrol.
"Sayang, dari awal kita memang sudah seperti ini. Hanya saja, aku tidak memberitahu mu!"
"Kenapa?" sela Rania.
"Karena aku tidak ingin kau memiliki beban pikiran. Aku ingin kau menjalani hidup normal, hingga waktu nya tiba, kau memahami semua ini" jelas Claudia.
Rania tertunduk, dia masih sulit memahami nya. Dia masih aneh dengan rasa tubuh yang dia miliki saat ini.
"Aku tidak bisa memahami nya"
Claudia menggeleng pelan, menarik dagu Rania agar menatap matanya.
"Kamu bisa sayang, kamu harus bisa. Keselamatan dunia, ada di tangan kamu Rania." ucap Claudia pelan, dia tidak mau Rania merasa tertekan oleh keadaan dan membuat emosinya tidak terkontrol.
Hal itu akan berakibat fatal untuk Rania.
"Satu yang membuat ku bingung, apakah orang tua ku juga bukan manusia?"
"Yah, kamu dan semua keluarga kita bukan manusia!" jawab Claudia.
"Lalu, di mana keluarga ku? mengapa hanya dirimu yang tersisa. "Rania terdiam sejenak, dia menghapus kasar air matanya. Dia menatap lekat manik mata Claudia.
"Apakah mama dan papa ku mati tidak wajar? mereka mati bukan karena kecelakaan kan?"
Deg.
Claudia terasa tersambar petir, dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia jawab sekarang, maka sebuah kesalahpahaman akan terjadi.
"Nak, kamu akan tahu nanti. Sekarang kamu harus mengontrol diri kamu dulu. Kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu sayang" alih nya.
"Honey, ternyata kamu di sini"
Rania dan Claudia menoleh, Adam tersenyum dan mendekati mereka.
"Adam" sahut Claudia. wanita paru baya itu bernafas lega, Adam datang di saat yang tepat.
"Bi, kamu belum menjawab nya"
"Sayang, bukan kah kita janji ingin melatih kekuatan mu?"ujar Adam mengingat janjinya dengan Rania.
"Sebentar Adam, aku sedang bicara dengan bibi ku!"
Rania kembali menoleh pada Claudia, tapi wanita itu sudah pergi lebih dulu.
"Isss ..."
Brak!
Rania melampiaskan kemarahan nya pada kursi kayu taman beli. Sekali hentakan, kursi itu langsung roboh.
Melihat Rania yang mulai emosi, Adam dengan segera memeluk mate nya. Mengecup cerek leher yang membuat Rania kegelian.
"Adam... " Desis Rania merem melek.
"Mate, kamu marah?"
"Tidak, aku hanya kesal" jawab Rania jujur.
"Kalau begitu, kita batalin saja latihan nya. Kita ke kamar saja" putus Adam, membuat Rania menggeleng cepat.
"Tidak Adam, aku ingin segera latihan. Aku harus mengendalikan diri ku sendiri!"
""Kamu yakin?"
"Yah Adam,aku yakin!"
"Cium dulu" ucap Adam menunjuk pipi nya.
Dengan malu malu, Rania pun mengecup pipi pujaan hatinya. Yah pujaan hati, Rania mulai menyadari perasaan nya pada Adam.
"Love you "
cup.
Rania tersenyum malu, ketika Adam mengecup bibirnya.
"Love you too" balasnya.
Setelah puas bermesraan di taman belakang, mereka pun akhirnya memutus pergi ke tempat latihan.
Rania dan Adam bergandengan tangan. Jiwa muda nya membuat dirinya sangat bucin pada Adam.
Melihat kemesraan itu, Mawar yang sedang hamil mengusap perutnya.
"Humm...Jadi pengen masuk kamar" gumam nya.
"Ayok" sahut Guntur
Mawar langsung melotot, dia tidak bisa making bersama suaminya sekarang, karena semalam barusan mereka making. Dokter menyarankan untuk mereka mengurangi making. Hal ini akan memperburuk janinnya, karena insiden kemarin.
"Heh..Aku kan cuma memenuhi saja, kalau gak mau yah sudah" cicit Guntur.
"Dasar" dengus Gamma. Di sini hanya dia yang tidak memiliki pasangan. Gamma belum menemukan mate nya.
"Alpa, Luna. Semuanya telah siap" ucap Gamma memberitahu.
"Bagus, kita akan memulai nya sekarang!"jawab Adam.
Rania membalas tatapan Adam, dia tahu arti tatapan itu yang menanyakan kesiapan dirinya.
"Aku siap!" jawab Rania mantap.
Adam pun menuntun Mate nya masuk ke dalam lapangan. Dia akan berhadapan langsung untuk melatih mate nya.
Kekuatan besar Rania, hanya tertandingi oleh kekuatan besar Adam.
Mereka adalah pemegang gelar King Alpa dan Queen Luna.
Namun, kekuatan Rania bisa berubah menjadi kekuatan kegelapan, apabila dia menikah dengan penguasa kegelapan.
"Kamu sudah siap sayang???" tanya Adam.
Rania mengangguk, bahwasanya dia sudah siap dan akan selalu siap.
*Jika aku sudah menguasai diriku sendiri. Maka aku akan mencari tahu, siapa keluarga ku sebenarnya dan siapa yang telah melenyapkan mama papa.
Tunggu aku ma, pa, aku akan mencari tahu semuanya. Agar kalian lebih nyaman di alam sana*.