WHO ARE YOU

WHO ARE YOU
Belum mau sadar



Adam membaringkan tubuh mate nya di atas ranjang. Kondisi Rania sangat buruk, tubuh nya lemah. Dia pingsan setelah roh penyihir keluar dari tubuhnya.


"Rania, maafkan aku. Aku tidak berhasil menjaga mu"


Adam ikut berbaring di samping mate nya, memeluk tubuh ramping mate nya dari samping.


Mawar dan Guntur memilih untuk pergi, mereka sedikit merasa lega. Rania berhasil di tolong.


Di dalam rumah besar milik Claudia. Brain tengah bersujud di hadapan bibi Rania.


"Aku mohon, katakan pada ku. Di mana Rania?"


"Tidak, aku tidak akan memberitahu mu raja Vampir."


"Aku tidak akan membahayakan nyam Aku sangat mencintai nya!"


Brain terus memohon. Dia sangat ingin bertemu dengan wanita itu.


Untuk pertama kali nya, calon pemimpin berlutut di hadapan peri.


Demi Rania, Brain rela melakukan ini. Dia tidak mau membuat keributan, mendapatkan Rania hanya bisa dengan kelembutan.


"Berdirilah pangeran vampir, aku tidak mau orang lain salah paham melihat ini"


Claudia berusaha membawa Brain berdiri. Namun, pria itu tetap kukuh di posisi nya.


"Tolong, katakan padaku. Dimana Rania. Aku ingin bertemu dengan nya!"


"Sudah cukup Brain, kamu tidak bisa menemukan dia. Rania adalah mate dari alpa king. Kamu tidak di takdirkan bersama dengan nya"


Claudia sudah kehabisan kesabaran, pria vampir ini sangat keras kepala.


Wanita itu berdiri, dia menatap Brain dengan tatapan jengah. Lalu dia berbalik hendak pergi meninggalkan brain.


Brak!


Pintu rumah terbuka lebar, di gebrak dari luar oleh seseorang.


Claudia berbalik, dia terkejut melihat siapa tengah berjalan masuk ke dalam rumah nya.


"Sudah cukup Claudia, sudah cukup kau mempermalukan kaum ku!"


"Mama, Papa?"


Brain berdiri, dia berjalan mendekati kedua orang tuanya. Ini tidak baik, brain tidak bisa membiarkan kedua orang tuanya mengamuk di sini.


"Tidak ma, pa. Ini salah paham, aku akan menjelaskan di istana!"


"Sudah cukup Brain!" Raja Vampir menatap putranya dengan tatapan kemarahan. Dia sudah tidak tahan lagi melihat putra nya yang kini di perbudak oleh cinta.


"Permisi para penghisap Darah, jika kalian ingin bertengkar. Mohon di rumah kalian sendiri!" ucap Claudia santai.


Suasana semakin mencekam, raja vampir dan ratu vampir terlihat tidak menyukai Claudia.


"Sudah cukup kau berlindung di dalam dunia manusia Claudia. Wanita itu tidak akan selamanya bisa kau sembunyikan!" kata Ratu vampir.


Brain mengerut, dia tidak mengerti apa yang sedang papa nya katakan.


Melihat kebingungan di mata putranya, raja vampir tersenyum miring.


"Kau masih terlalu muda, kau tidak akan mengerti apa apa!" dengus nya.


Huh, apa mereka sudah tahu siapa Rania? apa mereka sudah menyadarinya?


"Seperti nya kamu sudah mulai takut" raja vampir tersenyum sinis.


Claudia berdecih, sama sekali dia tidak merasa takut. Dia tahu jika keponakan nya akan aman bersama Alpa king.


"Cih, kalian pikir. Akan mudah bagi kalian mendapatkan keponakan ku? hahaha.... Alpa king tidak akan membuat kalian menyentuh mate nya"


"Waw..Lihat lah peri kecil ini, dia berkata seolah lupa peperangan, 1000 tahun yang lalu" sahut Ratu vampir.


"Hahaha...Dia lupa siapa yang telah membasmi seluruh keluarga golden moon pack." sambung Raja.


Brain hanya diam, dia terus menyimak pembicaraan tetua ini.


"Huh, kalian juga lupa. Siapa yang hampir membunuh raja kegelapan bodoh itu" Claudia tersenyum sinis.


Ratu vampir terpancing emosi, dia hendak menyerang Claudia. Namun,di tahan oleh raja vampir.


"Tidak sayang, kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk melawan wanita tua ini!"


"Tapi aku tidak suka melihat wajah nya yang sangat angkuh itu" geram Ratu Vampir penuh emosi.


Raja vampir menggeleng pada istri nya. Lalu, dia menatap Claudia dengan tatapan tak suka.


"Lihat saja, ketika raja kegelapan muncul. Kau pasti akan ketakutan!"


Setelah mengatakan hal itu, Raja vampir pun pergi dari sana.


"Ayo kita pergi!"


Pria itu masih lemah di bandingkan dengan papa dan mama nya. Seluruh kekuatan nya akan segera bangkit, setelah dia menikah dan menerima tahta dari kedua orang tuanya itu.


"Aku harus segera memberitahukan ini kepada Alpa.!"


...----------------...


sudah 2 hari Rania terbaring di atas kasur milik Adam. Dia masih belum bisa sadar.


Adam sudah meminta tabib untuk memberikan obat obatan pada mate nya secara alami. Namun, tetap saja mate nya tidak sadar.


"Apa yang terjadi? mengapa mate ku tidak sadar???" Adam marah, dia mencekik leher tabib yang mengobati mate nya.


Gamma dan Guntur terkejut, mereka berusaha menahan alpa nya, lalu menariknya menjauh dari tabib itu.


Uhuuk.. uhuk..


Tabir terbatuk batuk, dia merasakan sakit di batang leher nya.


"Maaf Alpa, saya sudah melakukan semampu yang saya bisa. Tapi, Luna seperti nya sedang tidak ingin bangun"


Adam melepaskan pegangan tangan Guntur dan Gamma. Dia kembali mendekati tabib yang terlihat ketakutan di depan nya.


"Apa maksud dari ucapan mu! mengapa mate ku tidak mau bangun!"


Tabib menunduk ketakutan, dia menjelaskan apa yang dia lihat pada Luna nya.


"Jika di lihat dari kondisi tubuh Luna, dia sudah baik baik saja. Harusnya dia sudah sadar. Namun, Luna masih memilih untuk tetap di alam bawah sadarnya "


"Apa?"


"Mohon alpa, jaga Luna baik baik. Jangan sampai penyihir itu mendekati alam bawah sadar Luna dan mengunci jiwa nya!" imbuh Tabib mengingatkan Adam.


Adam menatap wajah mate nya, guratan wajah Rania berubah ubah. Kadang mengerut, kadang tenang.


Apa sebenarnya yang sedang kamu alami mate?.


Guntur membawa Tabib keluar dari kamar. Sedangkan Gamma mendekati alpa nya.


"Alpa, sebaiknya. Mawar dan Guntur di suruh berjaga di luar"


Gamma dapat merasakan sesuatu yang buruk sedang mengarah ke pack mereka.


"Lakukan apapun yang terbaik! aku akan menjaga mate ku!"


"Baik alpa!"


Setelah memberi hormat, Gamma pun berlalu pergi keluar.


Kini, tinggallah Adam dan Rania di dalam kamar itu. Tatapan mata Adam tak lepas mengawasi mate nya.


*Segeralah bangun mate, aku sangat merindukan mu.


Aku juga*! sahut Adit.


Adam memutar bola mata nya, dia mengabaikan ucapan Adit.


Saat ini, fokus Adam hanya pada mate nya. Namun, pengawasan pack tetap kuat.


Gamma dan Guntur tetap mengawasi pack dari musuh yang menunggu mereka lengah.


Mawar berjalan mondar mandir, dia tampak khawatir dengan keadaan Luna.


Guntur merasa pusing melihat mate nya yang terus bolak balik.


"Sayang, kamu kenapa mondar mandir begitu sih? aku pusing melihat nya!"


Huh.


Mawar menghela nafas berat, dia berhenti, lalu duduk di samping mate nya.


"Bagaimana aku tidak mondar mandir sayang, aku sedang memikirkan keadaan Luna. Aku takut jiwa nya terkunci, makanya dia tidak bisa bangun!"


"Ssttt...." Guntur berusaha menenangkan mate nya.


"Sayang, tenang lah. Luna akan baik baik saja. Kamu dengarkan apa yang Tabib itu katakan. Luna sedang tidak ingin bangun!"


"Itu kan cuma perkiraan saja, bagaimana jika penyihir licik itu menguncinya!"


Guntur menggeleng, ketakutan mate nya terlalu besar.


"Sudah yah sayang, kamu jangan terlalu panik. Kasian tuh bayi kita, jadi ikut tidak tenang!" Guntur mengusap perut istri nya.


Mawar pun berhenti, dia menoleh dan memegangi tangan Guntur yang mengusap perutnya.


"Huff...Mungkin kamu benar sayang, aku hanya terlalu cemas"


Guntur mengangguk, lalu memeluk mate nya. Agar dia semakin tenang.