
Ara menikmati makan malamnya dengan tidak tenang. Bagaimana tidak? Reynard sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Ara. Laki-laki itu tetap mengunyah makanannya dengan tenang, tetapi matanya fokus menatap Ara yang duduk di depannya.
" Biasanya juga duduk di samping. " Ucap Ara dalam hatinya. Selama Ara tinggal di sini, mereka selalu makan bertiga di meja makan. Ayah Harry duduk di kursi kepala keluarga, sedangkan Reynard akan duduk bersampingan dengan Ara. Reynard yang terkenal datar dan dingin akan menjadi hangat ketika bersama Ara. Sesekali menjahili Ara yang sedang makan di sampingnya.
Sekarang, Reynard memilih tempat duduk yang berhadapan dengan Ara. Tidak mengajak bicara atau menjahili Ara seperti biasanya, tapi hanya menatap Ara dengan tatapan yang Ara tidak mengerti.
" Rara.. " Ara menoleh ke ayah Harry.
" Iya Ayah. " Jawab Ara.
" Apa kamu ingin kuliah? " Tanya Harry setelah menyelesaikan makan malamnya.
Ara terkejut dengan pertanyaan Harry. Kuliah? Tentu saja dia ingin. Tapi bagaimana dengan biaya kuliahnya? Dia sendiri sudah tidak punya apa-apa lagi. Makan tidur saja numpang di sini.
" E.. Sebenarnya ingin Ayah. Tapi.. " Ara ragu melanjutkan ucapannya.
Laki-laki tua berwajah tampan itu tersenyum. Seperti mengerti masalah Ara.
" Katakan.. " Ucap Laki-laki tua berwajah campuran Indonesia Inggris itu.
" Aku kan tidak punya uang Ayah. Makan dan tidur saja menumpang di sini kan? " Dia menunduk malu.
Reynard masih mendengarkan percakapan mereka. Matanya sesekali memperhatikan keduanya, dia akan berhenti lama ketika matanya bertemu dengan wajah cantik Ara.
Harry tersenyum lembut. " Ayah yang akan membiayai kuliahmu. Kamu sudah seperti putri ayah. Putri Ayah harus menjadi anak yang pintar. " Harry mengelus puncak kepala Ara dengan lembut.
" Benarkah Ayah? Tapi apa ini tidak terlalu berlebihan? " Ara menatap lekat wajah itu dengan perasaan bahagia.
" Jangan pikirkan apapun. Ayah akan mengurus pendaftaran kuliahmu. " Harry tersenyum lembut.
Reynard memperhatikan wajah Ayahnya yang sedari tadi tersenyum kepada Ara. Ara menjadi perempuan ketiga yang mendapat senyuman dari ayahnya. Seumur hidup, Reynard hanya melihat ayahnya tersenyum kepada mendiang Oma dan Ibunya. Sekarang, Ayahnya juga tersenyum kepada Ara.
" Tapi Ayah.. Aku takut. " Wajah bahagia Ara berubah menjadi khawatir.
" Apa yang kau takutkan Nak? " Tanya Harry.
" Orang yang tadi mau membawaku. Aku takut bertemu dia lagi. " Ara kembali teringat kejadian tadi siang saat tiba-tiba Adelio datang bersama anak buahnya. Beruntung Harry cepat datang.
" Adelio tidak akan berhenti mencarimu. Tapi Ayah sudah memikirkan semuanya. Ayah akan menikahkan kamu dengan Reynard. " Reynard dan Ara kompak terkejut.
" Dengan menikah, Adelio tidak akan mengganggumu lagi, kecuali kalau dia bodoh seperti Bapaknya yang menculik istri orang lain. " Lanjut Harry sambil menahan kemarahannya ketika mengatakan itu. Dia benar-benar menyesal tidak bisa menyelamatkan istri dan calon anaknya.
" Aku setuju Ayah. Memang sebaiknya begitu. " Reynard yang sejak tadi diam langsung berbicara ketika mendengar Harry akan menikahkan dia dengan Ara. Dia tersenyum penuh kemenangan ketika mendapat tatapan tajam dari Ara.
" Tapi aku tidak setuju Ayah. " Ucap Ara membuat Reynard tersedak makanannya. Dia buru-buru mengambil minum.
" Hei. Kau berani menolakku. " Reynard sudah mulai kesal.
" Iya kenapa? Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang sudah punya pacar. " Reynard kali ini diam. Dia memang belum putus dengan Keisya.
" Rey, apa kau masih menyukai perempuan pengkhianat itu? " Tanya Harry kepada putra tunggalnya itu.
" Namanya Keisya Yah. " Reynard menaruh gelas di meja. " Aku mau menikahi Ara Yah. Tidak perlu membahas Keisya. Ayah hanya perlu percaya padaku. Aku tidak mungkin menikahi perempuan yang tidak aku cintai. " Ucapan Reynard membuat Ara terdiam. Secara tidak langsung, Reynard mengakui kalau dia mencintai Ara?
" Yasudah kalau dipaksa. " Ucap Ara menahan senyum di bibirnya.
" Hei. Jadi kau terpaksa? Menikah denganku? " Reynard sudah menatap tajam Ara.
Bukannya menjawab, Ara malah meledek Reynard dengan menjulurkan lidahnya. Harry geleng-geleng kepala melihat sepasang manusia di depannya.
" Baiklah. Kalian bisa bicarakan masalah ini berdua. Sebelum Ara kuliah, kalian harus sudah menikah. " Harry berdiri dari duduknya. Lalu berjalan menjauh dari meja makan menuju ke ruang kerjanya.
" Kak. " Ucap Ara menatap tajam Reynard dengan raut wajah dibuat serius. Satu kata untuk Ara dari Reynard, menggemaskan.
" Apa sayang????? " Reynard memangku dagunya dengan satu tangan lalu matanya memandang Ara.
Ara memicingkan matanya mendengar panggilan Reynard. Apa tadi? Sayang?
Dia kembali menormalkan perasaannya. Detak jantungnya selalu saja tidak karuan jika berada di dekat Reynard.
" Kak. Jawab aku. Kenapa kakak mau menikahi aku? Padahal baru kemarin bermesraan dengan perempuan lain. Cih. " Reynard tidak percaya Ara yang sekarang berani berdecih di depannya.
" Entahlah. Semenjak ada kamu. Semuanya berubah dengan begitu cepat. Percayalah Ara. Kakak akan menjagamu dengan segenap jiwa raga kakak. " Ucap Reynard menatap lekat mata gadis yang duduk di depannya.
Ara terpesona dengan tatapan teduh laki-laki tampan di depannya.
" Tapi Kak, apa ini tidak terlalu cepat? Memangnya Kakak sudah siap? " Tanya Ara karena jujur saja tidak pernah terpikir olehnya akan menikah secepat ini.
" Kakak sangat siap. Jutru lebih cepat lebih baik. Soalnya..... " Reynard menggantung kata-katanya.
Ara menunggu penasaran. " Soalnya? " Tanya Ara.
Reynard berdiri dari duduknya lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Kepalanya sudah sampai di tengah meja dengan posisi menghadap ke Ara.
" Soalnya... " Ara menunggu ucapan Reynard.
" Soalnya.. Kakak sudah tidak tahannnnnn.... " Lanjut Reynard dengan seringai menggoda di wajahnya.
Ara menggeram kesal. " Kakak!!!!!! " Teriak Ara ingin memukul Reynard tapi Reynard sudah lari menjauh dari meja makan.
" Hihhh Dasar... " Ara menggerutu melampiaskan kekesalannya.
Tanpa mereka sadari, banyak pasang mata dan telinga terkejut tak percaya dengan tingkah anak bosnya. Tuan Muda Reynard yang terkenal dingin dan kejam, tadi bersikap aneh seperti itu kepada Nona Ara? Cinta benar-benar merubah apapun.
Bersambung.....
.
.
.
.
.
Aku harus baca banyak novel romantis biar bisa nulis cerita yang romantis juga. Aku suka bingung.. Mau dibuat mesra kok akunya malu sendiri... Hahahhaa.... Tapi yasudahlah...