War And Love

War And Love
Episode 11




Ara tidak percaya, beberapa jam lalu statusnya sudah berubah menjadi istri seorang laki-laki. Ayah Harry akan menikahkan mereka satu minggu lagi, tapi Reynard sudah bertindak lebih dulu. Dia menyiapkan semuanya dalam waktu singkat, dan sekarang mereka resmi menikah.


Tidak ada pesta, pernikahan dilakukan dengan sederhana agar tidak ada musuh yang mengacaukan proses janji suci mereka.


" Sudah malam, aku harus bagaimana? " Ara menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


" Aku tidak mau bertemu Kak Rey. Dia pasti akan...... " Ara menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba muncul.


" Malam ini aku tidak akan ke kamar. Aku harus sembunyi. " Ara bangun dari duduknya. Langkahnya menuju ke lorong belakang mansion. Selama dia tinggal di sini, ini pertama kalinya dia menginjakan kaki di sini.


" Nona? Kenapa Nona ada di sini? " Ara berpapasan dengan pengawal yang sedang berjaga di area lorong.


" Emm.. Apa.. Di sana masih ada ruangan? " Ara bertanya sedikit ragu.


Pengawal itu sejenak berpikir. " Ada Nona. Tapi ini bukan jalan ke taman. Jika anda ke kiri akan menghubungkan ruang bawah tanah. Tapi jika lurus, di sana akan ada bangunan yang isinya kamar para pelayan. " Jelas pengawal itu.


" Pelayan? " Ara jadi ingat kedua pelayan yang selalu membantu mengurusi keperluannya.


" Iya Nona. " Jawab Pengawal itu.


" Baiklah. Terima kasih. Saya mau menemui Lita dan Linia. " Lita dan Linia adalah pelayan yang selalu membantu Ara.


" Nona bisa menyuruh seseorang untuk memanggil mereka. " Ucap Pengawal itu.


" Emm tidak tidak.. Saya yang akan kesana. Sekalian saya ingin melihat lihat belakang. " Ara menolak ucapan pengawal.


" Baiklah Nona. Apa Nona mau diantar? " Tanya pengawal itu lagi.


" Tidak usah. " Ara tersenyum sopan ketika pengawal itu mengangguk hormat padanya.


Ara melanjutkan langkah kakinya menerobos lorong yang panjang dengan lampu yang tidak terlalu terang. " Menyeramkan. " Ucapnya.


Dia berhenti ketika melihat sebelah kiri ada sebuah lorong lagi. " Pasti ini jalan menuju ruang bawah. " Ara terlihat ragu-ragu untuk masuk. Tapi rasa penasarannya lebih tinggi.


Langkah demi langkah terdengar suara kakinya yang sedikit menggema. Penerangan juga semakin minim. " Di sini lebih menyeramkan. " Ucapnya tapi masih melanjutkan langkahnya.


Sampailah dia di sebuah ruangan luas yang ada di sana. Matanya melebar tak percaya. Ruangan bawah tanah ini berisi sel-sel jeruji besi yang di dalamnya ada orang dengan keadaan berbeda-beda. Ada yang masih sehat, ada juga yang lemah dengan banyak luka disekujur tubuhnya. Tubuh Ara semakin merinding ketika beberapa pasang mata yang ada di dalam penjara melihat ke arahnya.


Salah seorang pengawal menghampiri Ara, mengangguk hormat kepadanya. " Nona, apa yang anda lakukan di sini? Tuan besar dan Tuan Muda Reynard akan marah jika anda di sini. " Ucap pengawal itu tanpa mengurangi kesopanannya.


" Apakah mereka korban penculikan? " Matanya melihat satu persatu jeruji besi yang ada di sana.


Pengawal itu mengikuti arah pandang Nonanya. " Bukan Nona. Mereka semua adalah tahanan dan tawanan. " Jelas Pengawal itu. " Tuan Besar tidak pernah memenjarakan orang yang tidak bersalah. Mereka yang ada di penjara ini memang orang-orang yang pantas mendapat hukuman. " Lanjut pengawal itu.


" Nona. Sebaiknya Nona kembali ke atas. Di sini tidak baik untuk Nona. " Ucap pengawal itu.


Ara mengangguk. Sebelum dia berbalik dia sempat melihat beberapa tahanan yang menatapnya tajam sambil tersenyum mengerikan. Buru-buru Ara berjalan menjauh dari penjara itu.


" Kenapa mengikuti? " Tanya Ara ketika sadar pengawal tadi mengikutinya.


" Saya akan mengantar Nona sampai lorong. " Ucap pengawal itu. Ara tidak menanggapi lagi, dia melanjutkan langkahnya menuju ke lorong.


Pengawal itu mengangguk hormat dan mengucapkan permisi ketika sudah mengantar Ara sampai ke lorong.


" Apa yang terjadi dengan hidupku. " Ara bergumam sendiri menyusuri lorong menuju ke ruang utama mansion.


" Dulu aku hanya anak sekolah yang bekerja mati-matian untuk melanjutkan hidup. Hidupku hanya belajar dan bekerja. Tapi sekarang? Bahkan mereka bersikap seolah-olah aku ini seorang putri. " Ara masih bergumam dalam bingungnya.


Lampu terasa semakin terang. Langkahnya terhenti ketika dia melihat di depan sana ada seorang laki-laki yang menatapnya tajam.


" Matilah aku. " Ucapnya lirih ketika laki-laki itu berjalan ke arahnya.


" Baru saja aku mau menjemput anak nakal yang kabur ke penjara bawah tanah. " Ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Reynard. Reynard berdiri tegak di hadapan Ara.


" Apa? Dia tahu aku kesana? " Ara berbicara dalam hati.


" Sekali lagi kau berani ke sana, akan kupenjarakan kau di sana. " Reynard berbicara pelan namun nadanya terlihat tegas.


" A. .Aku hanya penasaran. " Ara benar-benar gugup. Wajah dingin dan menyeramkan milik Reynard sepertinya sudah kembali.


Reynard maju satu langkah lebih dekat dengan Ara. " Bahaya. " Ucap Ara dalam hati memberi alarm bahaya. " Aku kan tadi mau sembunyi. " Berpikir keras agar bisa kabur dari laki-laki menyeramkan di depannya.


" Ayah.... " Reynard mengikuti arah pandang Ara. Hal itu digunakan Ara untuk lari secepatnya.


" Sial. " Reynard sadar kalau dia berhasil dibohongi Ara.


" Ara... Berhenti Ara.. " Teriak Reynard dari tempatnya. Tapi yang dipanggil semakin cepat berlari menuju ke tangga. Menaiki tangga agar cepat-cepat sampai ke lantai atas.


Ara mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.


" Huh. Akhirnya bisa tidur nyenyak tanpa gangguan. " Ucapnya lalu berjalan ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.


Dia menarik selimut sampai ke perutnya. Bersiap untuk memejamkan mata.


" Selamat tidur suamiku... " Tertawa cekikikan membayangkan wajah kesal Reynard.


Bersambung......