War And Love

War And Love
Episode 4



Hari sudah malam, tidak ada tanda-tanda Reynard akan kembali ke kamar. Ara berjalan mondar mandir di kamar itu sendirian. Perutnya benar-benar lapar. Seharian penuh dia tidak makan apa-apa.


" Kenapa Tuan Rey tidak kembali. " Ucapnya sambil memegang perutnya yang lapar.


Tok tok. Ara menoleh ke pintu. " Itu pasti Tuan Rey. " Sambil tersenyum dia berjalan menuju ke pintu.


Ceklek. Pintu terbuka. Ara bersiap untuk tersenyum menyambut Tuan Rey penolongnya. Ya, setelah diselamatkan oleh Tuan Rey, baginya Rey adalah sang penolong.


Senyumnya memudar ketika melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang. Laki-laki yang tadi ditemuinya bersama Tuan Rey.


" Hai manis. " Ucap Adelio dengan tampang menggodanya.


" Apa Reynard tidak ada di dalam? " Tanya Adelio sambil melirik ke dalam kamar. Dia tahu Reynard tidak ada di dalam, dia bertanya hanya untuk berbasa-basi saja.


Ara menggeleng. " Tidak ada Tuan. " Jawabnya lemah. Adelio tersenyum.


" Apa kau sungguh tidak ingat aku? " Tanya Adelio menatap lekat wajah Ara yang sedari tadi menunduk.


Ara menggeleng. Pikiran Adelio kembali pada beberapa hari yang lalu. Ketika dia baru saja menjemput Keisya dari bandara. Selama ini Keisya tinggal di sebuah pulau yang tersembunyi, hanya Adelio yang tahu. Baru beberapa hari yang lalu Keisya datang kemari dan sekarang sedang berada di apartemen milik Adelio. Adelio Menyukai Keisya semenjak melihat Keisya di televisi. Waktu itu Keisya menjadi bintang iklan pemutih wajah. Adelio bukan orang yang suka menonton tv, waktu itu dia berjalan di lobi hotel dimana disana ada tv yang menempel di dinding. Seketika dia mengehentikan langkahnya melihat seorang perempuan cantik yang ada di tv.


Perempuan cantik itu terlihat dewasa dan anggun. Adelio terpana dengan gaya dia mengiklankan produk pemutih itu. Semenjak saat itu, dia bertekad akan mendapatkan Perempuan itu. Awalnya perempuan itu menolak, namun karena kelicikannya dia berhasil mendapatkan perempuan itu. Keisya meminta Adelio untuk membawanya ke tempat yang tidak seorang pun tahu. Entah apa alasannya, Adelio tidak mau tahu, yang penting dia bisa mendapatkan Keisya.


Lalu beberapa hari lalu setelah menjemput Keisya, Mobil yang ditumpangi dia dan Keisya hampir menabrak seorang gadis SMA. Adelio tidak keluar dari mobil, pengawal yang menyetir mobillah yang keluar untuk mengecek gadis itu. Adelio tertegun ketika melihat pengawalnya dimarahi oleh gadis SMA itu. Gadis yang berani, padahal tubuh pengawal Adelio sangat besar dan tinggi. Tapi gadis itu dengan tubuh kecilnya berani memarahi pengawal Adelio.


Dari dalam mobil Adelio merasa gemas dengan gadis itu. Kalau saja tidak ada Keisya, mungkin Adelio sudah membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Adelio hanya melihat gadis itu mulai menjauh setelah puas memarahi pangawalnya.


Sekarang, gadis yang menggemaskan itu sudah ada di hadapannya.


" Adik, boleh aku masuk? " Tanya Adelio.


Ara gelagapan. Dia benar-benar takut dengan Adelio. " Maaf Tuan, Tuan Rey tidak ada di dalam. " Ucap Ara ketakutan.


" Aku tidak mencari pengawal itu. Aku ingin menemuimu. " Ucapnya sambil mengedipkan mata.


Ara benar-benar jijik dengan kedipan mata itu. Laki-laki yang ada dihadapannya ini memang tampan, tapi tetap lebih tampan Tuan Rey.


" Tuan muda... " Adelio dan Ara menoleh ke sumber suara. Terlihat Reynard berjalan menghampiri mereka.


Ara menghembuskan nafas lega. Akhirnya dewa penolongnya datang.


" Tuan Muda mencari saya? " Tanya Reynard menunduk hormat meskipun tatapannya menunjukan kebencian.


" Tidak. Aku hanya mengunjungi kucing kecil. " Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari Ara. Yang dipandang hanya menunduk takut.


Reynard mengerti maksud tatapan mata Adelio. Dia menatap Ara seperti serigala menatap mangsanya.


Reynard menyerahkan kantong plastik kepada Ara. Ara dengan bingung menerimanya.


" Maaf Tuan Muda. Kucing kecil peliharaanku ini pasti lapar. Biarkan dia makan dulu. " Ucapnya menarik Ara masuk ke dalam.


Ara terkejut mendengar ucapan Reynard. Tadi laki-laki itu yang menyebutnya kucing kecil, sekarang Reynard juga menyebutnya kucil kecil, ralat.. Kucing kecil peliharaan. Menyebalkan.


Reynard dengan gaya sopan yang dibuat-buat menutup pintu itu perlahan. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, dia mengangguk hormat kepada Adelio, yang ditatap sinis oleh orang itu.


Setelah pintu tertutup, Reynard menatap tajam Ara yang sudah duduk di ranjang.


" Kau tidak mendengar kata-kataku? " Ucapnya dengan sorot mata yang terlihat mengerikan bagi Ara.


" Ma.. Maaf Tuan. Saya kira tadi yang mengetuk pintu Tuan Rey.. " Ucapnya terbata.


" Harusnya aku membiarkanmu dibawa oleh pengawal penjara tadi. " Reynard benar-benar kesal. Dia benar-benar khawatir dengan Ara.


Ara semakin menundukan wajahnya. Dia merasa dirinya sudah berubah. Padahal sejak kecil dia terkenal dengan keberaniannya. Hidup sendiri tanpa orang tua pun dia berani. Tapi sekarang, menghadapi orang-orang seperti mereka benar-benar membuatnya takut setengah mati.


Terdengar hembusan nafas dari Reynard.


" Makanlah. Kau pasti lapar. " Ucapnya sambil menetralkan emosinya.


Ara membuka kotak nasi yang ada di kantong plastik. Karena dia sudah sangat lapar, dia makan dengan lahap tanpa mempedulikan orang yang ada di depannya. Apalagi dia tidak pernah makan makanan seenak dan semahal ini. Biasanya juga warteg dekat kosannya, atau kalau lagi irit cuma makan mie instan.


Sedangkan orang yang ada di depan Ara tanpa sadar menarik ujung bibinya, membentuk senyuman tipis. Melihat gadis itu makan dengan lahap membuat Reynard terserang perasaan aneh.


Beberapa menit kemudian Ara sudah selesai dengan makannya. Dia mendongak menatap Reynard. " Tuan Rey, bolehkan aku meminjam kamar mandi? " Tunjuk Ara pada kamar mandi yang ada di kamar Reynard.


" Terserah. " Jawab Reynard.


Ara berjalan ke arah tong sampah yang ada di dekat pintu. Lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Belum sempat dia membuka pintu, dia menengok ke Reynard.


" Tuan.. Bolehkan saya.. Em.. Meminjam baju? " Ucapnya ragu-ragu.


Reynard memperhatikan penampilan Ara yang memang sudah kotor. Tanpa menjawab, dia mengambil sebuah celana pendek yang berkaret, setidaknya walaupun besar tidak akan melorot di perut Ara. Lalu mengambil kaos warna hitam miliknya. Meskipun ukurannya lebih kecil dari yang lain, tapi pasti masih kebesaran di tubuh Ara.


" Terima kasih. " Ucap Ara kemudian masuk ke kamar mandi.


Reynard kembali ke lemari untuk mengambil baju. Dengan segera dia mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Setelah selesai dia kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana sambil mengecek pesan yang ada di ponsel.


Ada pesan dari Ayahnya. Ayahnya menyuruh Reynard untuk pulang sementara.


Reynard bingung, kalau dia pulang, bagaimana dengan Ara? Tidak aman jika Ara ditinggal di sini sendiri. Apa mungkin dia membawa Ara pulang?


Reynard masih sibuk dengan pikirannya, tidak lama Ara keluar dari kamar mandi dengan baju kaos kedodoran dan celana pendek kedodoran juga. Reynard meneguk ludahnya dengan susah payah melihat pemandangan di depannya. Ara benar-benar seksi dengan pakaian kedodoran itu, ditambah bada Ara yang sudah bersih karena baru saja mandi.


Ara merasa risih ditatap seperti itu oleh Reynard. Dia berjalan ke arah ranjang. Dengan pelan-pelan dia mengambil bantal yang ada di samping Reynard. Semua pergerakan Ara tidak lepas dari mata Reynard. Termasuk ketika Ara meletakan bantal di lantai dan membaringkan tubuhnya di sana.


" Pindah. " Baru saja Ara akan memejamkan matanya tiba-tiba terdengar suara Reynard.


" Ada apa Tuan? " Tanya Ara masih dalam posisi berbaring di lantai.


" Pindah ke atas. " Ucap Reynard tanpa melihat Ara.


Ara terkejut mendengar perintah Reynard. Tidak mungkin dia pindah ke ranjang. " Tidak apa Tuan. Saya di sini saja. " Ucapnya pelan.


" Kau berani membantah? " Reynard sudah menoleh ke posisi Ara berbaring.


Meskipun Reynard berbicara pelan tapi dari nada suaranya mengandung perintah yang tidak bisa dibantah. " Dia ini pengawal tapi berjiwa bos. " Ucap Ara dalam hati.


" Dalam hitungan ke tiga, jika kau tidak pindah aku akan mengembalikanmu ke penjara. " Ucapnya penun penekanan. Ara menoleh ke arah Reynard.


" Tiga " Dengan gelagapan Ara bangun dan langsung naik ke ranjang. Membaringkan dirinya di samping Reynard. Apa-apaan Tuan Rey, belum menyebut angka satu tiba-tiba sudah tiga saja.


Ara tidur dengan posisi membelakangi Reynard. Dia benar-benar gugup. Ini pertama kalinya dia tidur seranjang dengan laki-laki, berpegangan tanganpun dia tidak pernah. Maklum, hidupnya dia habiskan untuk sekolah dan bekerja, mana sempat dia memikirkan laki-laki.


Reynard menatap langit-langit kamarnya, ini juga pertama kalinya dia tidur seranjang dengan perempuan. Dulu Keisya sering mengajaknya menginap di apartemen, tapi Reynard selalu menolak dengan alasan sibuk. Ketika mereka bermesraan pun bukan kemauan Reynard, Keisya lah yang mengajaknya duluan. Sebagai laki-laki normal tentu dia tidak menolak. Tapi Reynard tahu batasannya, dia hanya sebatas mencium tanpa melakukan hal lebih.


" Hei.. Apa kau sudah tidur? " Tanya Reynard.


Ara membuka matanya. Dia memang memejamkan mata tapi dia belum tidur.


" Ada apa Tuan? " Tanya Ara tanpa merubah posisi tidurnya.


" Besok aku akan pulang. " Ucap Reynard.


Ara terlihat berpikir. Apa Reynard akan pulang ke rumahnya. Dia akan izin dari pekerjaannya sebagai pengawal? Lalu bagaimana dengan dirinya. Apa Reynard akan mengembalikannya ke penjara? Tidak, dia tidak mau.


Ara membalikan posisinya mengahadap ke Reynard. Reynard menoleh ke Ara, dengan posisi masih terlentang.


" Tuan.. Saya mohon jangan kembalikan saya ke penjara itu lagi. " Ucapnya dengan mengatupkan dua telapak tangannya.


Reynard mengubah posisinya menghadap ke Ara. Sekarang mereka berhadap-hadapan.


" Aku akan membawamu pulang bersamaku " Ucapan Reynard membuat hati Ara berdesir.


" Aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini. Aku akan membawaku pulang. " Ucap Reynard memandang lekat wajah teduh Ara.


Ara menggeleng. " Tidak usah Tuan. Bawa aku keluar saja bersamamu. Setelah itu aku akan kembali ke kos. " Ucap Ara.


Reynard sedikit menggeser posisinya lebih dekat ke Ara, sedangkan Ara hanya diam merasakan detak jantungnya semakin cepat.


" Tidak bisa. " Ucapan Reynard membuat Ara bingung. " Adelio sepertinya tidak akan melepaskanmu. Dari tatapan matanya aku tahu kalau dia mengincarmu. " Lanjut Reynard.


" Adelio? " Ucap Ara kebingungan.


" Laki-laki yang tadi datang ke kamar. " Ucap Reynard paham dengan kebingungan Ara.


" Tinggalah di rumahku. Kau akan aman di sana. Di sana banyak pengawal yang akan menjagamu. Ayahku pasti akan senang denganmu, setelah ibuku dan adikku meninggal, dia sangat kesepian. Ayahku akan melihatmu seperti anak perempuannya. Dia sangat menginginkan anak perempuan. " Reynard berbicara dengan sangat pelan. Ini pertama kalinya dia berbicara masalah pribadi dengan orang lain. Biasanya, mulutnya hanya membicarakan pekerjaan.


" Tapi.. jika ayah Tuan tidak suka denganku bagaimana? " Tanya Ara dengan ragu.


" Kau gadis yang manis dan baik. " Ucap Reynard sambil mengelus lembut kepala Ara. Jantung Ara semakin tidak bisa dikondisikan.


" Ayahku sangat pandai menilai orang. Meskipun nantinya dia mendiamkanmu, kalau dia suka padamu, dia tidak akan mengusirmu. " Ucap Reynard.


" Apa teman perempuan Tuan yang lain juga diperlakukan seperti itu oleh Ayah Tuan? " Tanya Ara.


Reynard diam sebentar. " Aku tidak pernah mengajak perempuan ke rumah. Hanya dia yang pernah, tapi Ayahku tidak menyukainya. " Ingatan Reynard kembali pada Keisya. Ayahnya memang tidak mengatakan tidak suka pada Keisya, tapi dari sorot pada ayahnya, Reynard tahu ayahnya tidak suka dengan Keisya.


" Dia siapa Tuan? " Ara kebingungan.


" Sudahlah. Lebih baik kau tidur. " Reynard merubah posisi tidurnya membelakangi Ara. Ara juga ikut membelakangi Reynard. Mereka tidur dengan posisi saling membelakangi..


Bersambung....