War And Love

War And Love
Episode 5



Sepasang manusia sedang menikmati sarapan mereka dengan tenang. Ara benar-benar canggung, dia makan tidak lahap seperti biasanya.


" Habiskan makananmu. Kita akan pergi. " Ucap Reynard dengan wajah datar. Reynard lebih bisa menguasai kegugupannya.


Ara mengangguk. Dia masih teringat kejadian tadi saat mereka bangun. Mereka bangun dengan posisi saling berpelukan. " Ah malu sekali. " Ucap Ara dalam hati.


Reynard mengambil ponsel di sakunya dan membaca pesan dari ayahnya. Ayahnya menyuruh dia pulang karena salah satu mata-mata Ayahnya mengatakan bahwa Bojes mencurigai Reynard dan akan merencanakan penjebakan kepada Reynard.


" Ayo. " Reynard menarik tangan Ara dan mengajaknya keluar kamar.


" Tapi belum selesai. " Ara melirik makanannya yang masih tersisa banyak.


Reynard menarik tangan Ara keluar dari kamar. Beruntung ini masih sangat pagi, jadi dia hanya berpapasan dengan pengawal yang berjaga di mansion.


" Tuan Rey. Bisakah anda pelan-pelan? " Ucap Ara masih mengimbangi langkah Reynard. Dia bahkan harus berlari kecil untuk menyamai langkah lebar Reynald.


Reynald membawa Ara ke halaman yang ada di belakang mansion. Jalannya tidak beraspal, hanya hamparan tanah luas sedikit miring dan sekelilingnya adalah kebun teh. Memang, mansion Bojes berada di sekitar kebun teh.


Setelah jarak mereka cukup jauh dari mansion, Reynald lebih memelankan jalannya.


" Huh capek. " Ucap Ara ditengah langkahnya.


Reynald menghentikan langkahnya, diikuti Ara yang berdiri di sampingnya. Ara menyipitkan matanya saat angin berhembus kencang karena ada heli kopter yang akan mendarat tak jauh dari hadapan mereka.


Reynald kembali menarik tangan Ara dan membawanya lari ke arah heli itu. Ara sempat menoleh ke wajah Reynard. Siapa sebenarnya Reynard, bukankah dia hanya seorang pengawal?


Sedangkan di dalam pesawat, Harry, Ayah Reynard memperhatikan putranya yang berlari ke arahnya dengan menggandeng tangan seorang gadis cantik. Harry tersenyum tipis.


Berbulan-bulan putranya pergi dari rumah dan pulang membawa seorang gadis? Anak ini. Senyumnya memudar ketika dari jauh dia melihat Bojes, Adelio, dan beberapa pengawalnya. Matanya memicing ketika melihat perempuan yang ada di samping Adelio. " Cih. " Harry berdecih melihat perempuan itu.


" Reynard!!!!!!! " Teriakan menggema dari belakang Reynadr mengejutkan Reynard.


Dengan sigap dia mengangkat tubuh Ara dan mengarahkannya ke pintu heli. Tubuh Ara langsung diraih oleh pengawal yang ada di pintu Heli. Setelah itu Reynard melompat ke pintu dan masuk ke heli.


" Tembak! " Perintah Bojes kepada pengawalnya.


Pengawalnya sudah akan menembak heli yang dinaiki Reynard. Tapi tiba-tiba dicegah oleh Adelio.


" Delio. Apa yang kau lakukan? " Teriak Bojes geram.


" No Dad. Di sana ada Ara. " Ucap Adelio menatap Dadynya.


Bukkk.. Satu pukulan dilayangkan Bojes ke wajah Adelio. Keisya sampai terkejut melihatnya. " Anak bodoh. Kau jatuh cinta pada bocah ingusan itu? " Adelio tidak menjawab Dadynya.


" Sial. " Bojes menggeram kesal lalu meninggalkan Adelio dan Keisya.


Adelio sendiri bingung dengan perasaannya, kenapa dia tidak mau Ara terluka.


" Delio. Apa maksudnya? " Adelio menoleh. Dia lupa bahwa ada Keisya di sini. Tanpa menjawab, Adelio pergi meninggalkan Keisya. Ah rasanya dia sudah bosan dengan perempuan matre ini. Hanya diiming-imingi kemewahan, dia rela meninggalkan kekasihnya. Adelio tidak tahu bahwa kekasih yang ditinggalkan Keisya adalah Reynard.


Keisya tidak mengejar Adelio. Dia berdiri mematung memikirkan sesuatu. Reynard. Baru saja dia melihat Reynard bersama gadis lain. Hatinya benar-benar sakit. Dia memang masih sangat mencintai Reynard. Dengan Adelio dia hanya ingin kemewahan yang dijanjikan Adelio. Dia sebenarnya tahu kalau Reynard tidak kalah kaya dengan Adelio, tapi melihat Reynard yang tidak pernah diakui Harry sebagai anaknya di depan publik, Keisya ragu harta Harry akan diwariskan ke Reynard. Tapi dia salah, Harry menyembunyikan identitas Reynard karena ingin melindungi Reynard.


" Persetan dengan kemewahan. Aku harus mendapatkan Reynard kembali. " Ucapnya dengan tersenyum licik.


Sedangkan di dalam heli kopter, Ara masih menetralkan jantungnya yang berdetak cepat. Dia tadi mendengar teriakan di belakang mereka. Dia benar-benar takut akan ditangkap kembali oleh penjahat-penjahat itu.


Lamunannya pudar ketika ada tangan yang menyodorkan jas kepadanya. Ara mendongak menatap pria tua yang memberikannya jas. Di umurnya yang sudah tua, dia masih terlihat sehat dan berwibawa.


Ara meraih jas itu dengan ragu-ragu kemudian memakainya dengan perlahan. Tubuhnya tidak sedingin tadi berkat jas ini.


" Terima kasih Pak. " Harry hanya tersenyum menanggapi. Perempuan ini masih sangat muda.


Reynard yang melihat interaksi Ara dan Ayahnya sedikit terkejut. Sejak kapan Ayahnya bersikap manis seperti itu kepada orang lain. Dengannya saja selalu bersikap tegas. Apa tadi? Nak? Ayahnya memanggil Ara dengan itu? Reynard memandangi wajah Ara dari samping. Entah sihir apa yang dia pakai.


Heli kopter mereka mulai terbang di atas hutan-hutan lebat. Tak berselang lama heli itu mendarat di halaman luas depan mansion keluarga Harry. Pengawal turun terlebih dahulu baru disusul Harry dan Reynard. Ketika Ara akan turun, pengawal bersiap akan membantu Ara, tapi tangan pengawal itu langsung ditepis oleh Reynard. Mendapat tatapan tajam dari Reynard, pengawal itu mundur dengan takut.


Reynard membantu Ara turun dari heli dengan pelan. " Terima kasih. " Ucap Ara ketika kakinya sudah menginjak bumi.


Mulut Ara menganga tak percaya saat banyak orang berpakaian rapi berjajar menyambut mereka. " Kenapa banyak sekali pengawal. " Ucap Ara dalam hati. Jadi siapa sebenarnya Reynard? Dia bukannya pengawal juga kan? Tapi kenapa pengawal menunduk hormat kepadanya juga.


Mereka memasuki mansion yang sangat luas dan megah. Ara menyebutnya sebagai istana. Benar-benar mewah.


" Ara.. Pak Tur akan mengantarmu ke kamar. " Ara terkejut mendengar Reynard memanggil namanya. Ini pertama kalinya lelaki itu memanggil namanya. Pandangan Ara beralih pada laki-laki tua yang berdiri tak jauh dari mereka.


" Mari Nona. " Ucap laki-laki itu. Ara menebak pasti bapak tua ini yang bernama Pak Tur.


Ara mengangguk mengikuti langkah Pak Tur menaiki sebuah tangga. Sambil sesekali melihat isi rumah yang lebih cocok dibilang istana ini.


Ara berhenti di depan sebuah pintu mengikuti Pak Tur. " Ini kamar Nona. " Pak Tur membukakan pintu dan mempersilahkan Ara masuk.


" Beristirahatlah Nona. Nanti akan ada pelayan yang akan membantu Nona. " Ucap Pak Tur.


" Terima kasih Pak. " Ucap Ara sopan.


Ketika Pak Tur akan pergi, Ara kembali memanggilnya. " Ada yang bisa saya bantu Nona? " Tanya Pak Tur.


" Em.. Jangan memanggil Nona Nona begitu Pak. Saya tidak enak. Panggil saja Ara. " Ucap Ara kikuk.


Pak Tur tersenyum. " Permisi Nona. " Tanpa menjawab ucapan Ara, Pak Tur keluar dari kamar.


Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Sudahlah. " Ucapnya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Lagi, dia dibuat kagum dengan kamar mandinya. Luas, mewah, dan bersih. Bahkan luasnya saja melebihi kamar kosnya.


Secepat kilat Ara membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia membalut tubuh polosnya dengan handuk yang ada di kamar mandi.


Matanya terkejut saat melihat dua orang perempuan berpakaian seperti pelayan sedang menunggunya di depan kamar mandi.


" Permisi Nona. Saya membawakan baju untuk Nona. " Ucap salah satu pelayan itu.


Ara menerima baju yang diberikan pelayan. Kemudian masuk kembali ke kamar mandi. Pelayan itu bahkan mau ikut masuk dengan alasan akan membantu, tetapi dengan halus Ara menolaknya. Dia tidak terbiasa berganti baju diawasi orang, sekalipun itu perempuan.


Ara keluar dengan memakai dress rumahan berwarna merah muda. Sangat cocok untuk usianya yang masih delapan belas tahun. Dia duduk di depan cermin, pelayan yang tadi membantunya menyisir rambut dan menata rambutnya.


" Em.. Mbak. Apa ini tidak berlebihan? Saya bisa kok menata rambut sendiri. " Ucap Ara memandang pelayan yang sedang menyisirnya dari cermin.


" Tidak apa Nona. Ini sudah tugas kami. " Jawabnya sambil tersenyum sopan.


Ara menghembuskan nafas pasrah.


Bersambung....