
Setelah mengantar Keisya pulang, Reynard merebahkan dirinya di kasur. Sebenarnya dia ingin pulang ke apartemen. Tapi entah kenapa dia memutuskan untuk tidur lagi di mansion.
Sebenarnya Keisya meminta menginap satu malam lagi di sini, tapi Reynard melarangnya dengan alasan masih banyak pekerjaan. Reynard menaruh curiga pada perempuan itu. Dia bahkan memerintahkan pengawal yang bertugas menjaga akses masuk ke hutan ini untuk melarang siapapun yang akan masuk, termasuk Keisya.
Dia teringat ketika dia membawa Ara ke heli waktu itu. Dia sempat menoleh ke arah Bojes dan Adelio. Dia ingat betul, perempuan yang ada di samping Adelio adalah Keisya. Meskipun hanya sekilas, tapi dia sudah lama mengenal Keisya.
Reynard tidak membohongi dirinya kalau dia masih menaruh hati pada perempuan itu. Dia bahkan terhanyut dalam ciuman yang diberikan Keisya kemarin, sampai melupakan keberadaan Ara. Sekarang pikirannya kacau, dia masih menyimpan rasa untuk Keisya tapi pikirannya tidak pernah lepas dari Ara. Ah, gadis kecil itu. Melihat Ara yang bersikap cuek seperti tadi benar-benar membuat hatinya sakit. Dia tidak mau Ara mengacuhkannya.
" Lihat saja kau anak nakal. Aku akan menghukummu karena berani mengacuhkanku. " Tersenyum penuh arti.
Reynard melirik jam yang ada di dinding. Sudah sore tapi Ayah dan Ara belum juga kembali. Reynard mengambil posisi nyaman dalam tidurnya, pikirannya kembali berkelana saat pertama kali melihat Ara, kemudian hari-harinya bersama Ara di mansion ini. Ara yang pertama kali dia lihat sangat ketakutan dan pendiam, perlahan menjadi gadis yang cerewet dan menyenangkan. Reynard tahu, itulah Ara yang sebenarnya.
Dia selalu menyukai tawa gadis itu. Wajah cemberutnya ketika sedang digoda.
" Aku akan mendapatkan senyummu lagi Ara. " Ucap Reynard memejamkan matanya.
Baru saja Reynard memejamkannya matanya, dia mendengar suara bising dari luar. Pintu kamarnya memang tidak sepenuhnya dia tutup rapat. Jadi dia masih bisa mendengar.
Reynard segera turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Dia terkejut melihat Ayah Harry berjalan dengan menggendong Ara sambil memarahi pengawal yang ikut mengantarnya ke sekolah Ara.
Reynard segera menghampiri Ayahnya. " Ayah, ada apa dengan Ara? " Tanya Reynard khawatir.
" Ceritanya panjang. Ayah akan membawa Rara ke kamar. Biar dia istirahat. " Ucap Harry membawa Ara ke kamar gadis itu.
" Tapi Ara tidak apa-apakan Yah? " Tanya Reynard lagi. Mengikuti langkah Ayahnya.
" Dia hanya shock. Karena melihat orang berkelahi. " Ucap Harry setelah sampai di kamar Ara, dan meletakan gadis itu di ranjang.
" Berkelahi? " Ucap Reynard bingung.
" Tadi ada Adelio dan anak buahnya. Ayah benar-benar menyesal meninggalkan Rara tadi. Waktu ayah datang sudah terjadi perkelahian antara pengawal yang menjaga Rara dan anak buah Adelio si brengsek itu. Beruntung kami bisa membereskan mereka. " Harry menarik selimut untuk menutupi tubuh Ara. " Rara, pasti ketakutan melihat banyak orang berkelahi di depannya. Ayah tidak akan membiarkan dia keluar dari mansion ini lagi. Sepertinya Adelio mengincar Rara. " Lanjut Harry menatap lembut gadis yang tertidur di ranjang.
Reynard menggeram kesal mendengar cerita Ayahnya. Adelio sudah berani terang-terangan ingin mengambil Ara darinya. " Setelah dulu dia mengambil Keisya, sekarang dia akan mengambil Ara? Kali ini tidak akan kubiarkan. " Ucap Reynard dalam hati.
Harry masih terbayang kejadian tadi, di depan matanya dia melihat gadis yang sudah seperti putrinya menangis ketakutan sambil menutup matanya melihat orang-orang di depannya saling memukul. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Ara memang pernah melihatnya memarahi pengawal, karena Hary selalu menahan dirinya untuk tidak memukul orang di depan Ara. Ara bukan gadis yang terbiasa dengan pemandangan itu.
" Ayah. Biar aku yang menjaga Ara. " Ucap Reynard menyentuh pundak Ayahnya.
" Baiklah. Kau jaga dia. " Reynard mengangguk.
Harry menutup pintu pelan setelah keluar dari kamar Ara.
Reynard duduk di sudut ranjang, memandan lekat wajah gadis yang memejamkan mata di ranjang. Matanya menyipit ketika melihat mata Ara berkedut dan hidungnya yang sedikit kembang kempis. Reynard tersenyum miring.
Reynard mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Ara. Kini wajahnya tepat di depan wajah Ara. " Kau masih mau pura-pura tidur eh? " Ucap Reynard semakin mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan.
Reynard memundurkan wajahnya beberapa centi. " Kalau kau belum juga bangun, aku akan memberimu nafas buatan. " Senyum menyeringai.
Ara terkejut mendengar ucapan Reynard. Dengan cepat dia membuka matanya. Matanya melotot melihat wajah Reynard berada tepat di depan wajahnya.
" Anak nakal ini perlu dihukum rupanya. " Reynard menaikan kakinya ke ranjang dan mengukung tubuh kecil Ara dengan tubuhnya.
" A.. Apa yang kau lakukan. " Ucap Ara terbata merasakan tubuhnya yang merinding dengan posisi sedekat ini dengan Reynard.
" Apalagi. Menghukum anak nakal sepertimu. " Reynard tersenyum menggoda.
" Menjauh dariku. Aku tidak mau dekat dekat denganmu. " Mendorong dada Reynard berharap laki-laki itu menjauh.
Reynard menarik kedua tangan Ara dan mencekalnya di atas kepala hanya dengan satu tangan Reynard.
Reynard mengelus pipi Ara dengan tangan satunya yang tidak digunakan untuk mencekal. Telunjuknya mengelus lembut pipi mulus itu. Beralih ke dagu, dan terakhir ke bibir mungil leci milik Ara. Ara membeku ketika merasakan jemari Reynard mengelus bibirnya.
" Katakan, kenapa kau mengacuhkanku. " Ucap Reynard dengan suara lembut. Jarinya masih mengelus lembut bibir ceri Ara.
Ara memandang Reynard heran. Kenapa Reynard jadi aneh begini sih. " Kak. Aku mau bangun. " Rengek Ara yang justru terlihat menggemaskan di mata Reynard.
Reynard memandang lekat-lekat wajah Ara. Dulu dia tidak pernah ingin melakukan hal seperti ini kepada Keisya. Berciuman pun selalu Keisya yang mulai. Tapi kenapa dengan Ara dia ingin sekali memiliki gadis ini.
" Pipi ini. " Reynard mengelus pipi cabi Ara.
" Hidung ini. " Beralih mengelus hidung mancung minimalis Ara. " Dan... Bibir ini. " Mata Reynard memandang lekat bibir milik Ara. " Semua yang ada pada dirimu.. Adalah milikku. "
Ara membelalakan matanya ketika Reynard tiba-tiba mencium bibirnya. Apa ini? Dengan seenaknya Reynard menciumnya setelah tadi malam dia berciuman dengan perempuan lain di depan matanya. Dasar laki-laki menyebalkan.
Ara menggelengkan kepalanya ketika ciuman Reynard semakin tidak terkendali. Reynard melepaskan cengkramannya pada tangan Ara, lalu tangannya memegang wajah Ara agar gadis itu berhenti menggeleng.
Setelah puas dengan kegiatannya, Reynard melepaskan ciumannya. Nafas mereka terengah-engah. Reynard tidak pernah merasa seindah ini ketika berciuman dengan Keisya.
Kening mereka saling menempel. " Ara, menikahlah denganku. " Reynard menatap mata Ara dengan sorot mata membara.
Sedangkan Ara, jangan ditanya ekspresinya sekarang seperti apa. Dia benar-benar terkejut.
Ara mendorong kuat tubuh Reynard sehingga kini Reynard menjatuhkan tubuhnya di samping Ara. Ara mengambil kesempatan ini untuk bangun dan langsung mengambil langkah seribu. Secepat mungkin dia keluar dari kamar. Dia benar-benar merinding melihat tatapan mata Reynard tadi. Ini pertama kalinya dia melihat Reynard menatapnya seperti itu. Seperti singa yang mau menerkam mangsanya. Benar-benar mengerikan. Begitu pikir Ara.
Reynard membiarkan Ara keluar dari kamar, atau dia akan kehilangan kendali jika Ara masih berada di sini.
" Apa yang kau lakukan padaku Ara? " Reynard tersenyum sendiri mengingat apa yang baru saja dia lakukan kepada Ara.
Bersambung....