
Ayahnya sudah dikebumikan di samping kuburan Ibunya. Reynard berdiri tegak menatap lurus dua kuburan itu. Matanya memang tidak meneteskan air mata, tapi hatinya tidak bisa dibohongi kalau dia sangat bersedih atas kematian Ayahnya.
Ara menghapus air matanya. Berjalan mendekat ke arah suaminya. " Kak Rey. Sudah hampir sore. Ayo kita pulang. " Ucapnya.
Reynard masih diam menatap dua kuburan itu. " Kak? " Panggil Ara menyentuh bahu suaminya.
Reynard membalikkan badannya tanpa menunggu Ara, dia berjalan menjauh dari pemakaman. Ara sedikit heran dengan sikap suaminya. Tapi kemudian dia sadar, Reynard masih terpukul atas kepergian Ayah Harry.
Keheranan Ara semakin bertambah ketika mobil yang ditumpangi Reynard melaju terlebih dahulu meninggalkannya. Padahal tadi mereka satu mobil.
" Nona. Mari pulang. " Ucap salah satu pengawal mempersilahkan Ara masuk ke mobil yang dibawa pengawal.
Ara mengangguk lalu masuk dan duduk di kursi penumpang. Matanya menatap jendela. Dia juga sedih kehilangan Ayah Harry. Bagaimanapun juga Ayah Harry memperlakukan dia seperti putri kandungnya sendiri.
Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan hutan rimba menuju mansion keluarga Harry.
Sesampainya di mansion, Ara langsung berjalan cepat untuk menemui suaminya.
Ara menatap kasihan suaminya yang sedang duduk di sofa sendirian. Pengawal yang berdiri tak jauh dari posisi Reynard duduk juga menampakan wajah sedih. Pasti mereka kehilangan Tuan mereka.
Ara mendudukan tubuhnya di samping Reynard. " Kak... " Dielusnya punggung suaminya itu.
Ara terkejut saat Reynard menepis tangan Ara dengan kasar. " Pengawal.. Bawa perempuan ini ke penjara. " Bukan hanya Ara yang terkejut, pengawal yang mendengar juga terkejut.
" Kay Rey... Apa maksudnya? " Ara bertanya dengan nada khawatir. Dia tidak mau masuk penjara seperti dulu lagi. Itu sangat menakutkan.
" Karena kau. Karena melindungimu, Ayahku meninggal... " Ucap Reynard tanpa memandang ke arah Ara .
" Maafkan aku Kak Rey. Tapi sungguh aku tidak bermaksud... " Ara terisak sambil memohon kepada Reynard.
" Kak Rey... " Ara berkata lirih. Sampai dirinya tak nampak lagi di hadapan suaminya karena sudah dibawa ke penjara bawah tanah.
" Maafkan kami Nona. Kami terpaksa melakukan ini. " Pengawal itu mengunci jeruji besi dimana di dalamnya ada Ara. Mereka sebenarnya tidak tega. Mereka juga tahu kalau Tuan Harry sangat menyayangi gadis ini.
Ara terduduk lemah setelah pengawal yang membawanya ke penjara pergi dari tempat itu. Dalam sel ini dia sendirian. Meskipun tidak ada orang lain, dia merasa ketakutan karena banyak mata yang menatapnya dari sel-sel lain. Mereka seperti tersenyum mengejek.
" Semua ini memang salahku.. " Ucapnya menyalahkan dirinya sendiri. " Ayah Harry meninggal karena melindungiku.. " Lanjutnya menahan sesak di dada.
" Nona? " Ara mendongak ke pintu sel. Di sana berdiri seorang pengawal yang waktu itu menemuinya ketika Ara datang ke sel ini.
" Saya turut prihatin. Nona tenang saja. Saya memang bertugas berjaga di sini. Saya akan melindungi Nona. " Ucap pengawal itu.
" Terima kasih. Emm.. Siapa namamu? " Tanya Ara.
" Nama saya Gio Nona. " Jawab Gio.
" Gio. Terima kasih. Aku pasti akan kesepian jika tidak ada kamu. "
" Jangan sungkan Nona. Nona adalah putri kesayangan Tuan besar. Saya akan melindungi siapapun yang disayangi Tuan besar. " Ara mengacungi jembol kesetiaan para pengawal Ayah Harry.
" Saya tinggal dulu Nona. Nanti saya akan kesini lagi. " Pengawal itu mengangguk hormat. Kemudian berlalu pergi.
Sekarang Ara sendirian lagi. Kenapa nasibnya sekasihan ini.....
......