War And Love

War And Love
Episode 13



Hari ini Ara sedang mengurus administrasi pendaftaran kuliahnya dengan diantar oleh Ayah Harry. Semenjak Harry melimpahkan tugasnya kepada Reynard, laki-laki itu jadi lebih sibuk. Harry merasa dirinya sudah tua dan ingin pensiun. Baginya, menghabiskan waktu bersama menantu kecilnya adalah ide yang baik. Dia akan menjadi ayah yang menjaga kemanapun anaknya pergi.


Sepulang dari Universita, mereka mampir di sebuah restoran mahal yang letaknya tidak jauh dari Universitas itu.


" Kamu mau pesan apa Nak? " Tanya Harry kepada menantunya.


" Ara bingung Yah. Terserah Ayah saja. " Ara memang tidak paham dengan nama-nama yang tertulis di daftar menu makanan.


Harry membaca menu mencari makanan yang sekiranya disukai oleh menantunya. Tidak ada pengawal yang berdiri di sekitar mereka, pengawal berjaga di pintu masuk lestoran.


Baru saja Harry akan menyebutkan makanan yang dia pesan, sudah terdengar gaduh dari luar lestoran.


" Gawat. " Harry paham apa yang terjadi. Dia langsung menarik tangan Ara membawa gadis itu ke tempat yang aman.


Harry membawa Ara keluar dari lestoran lewat pintu belakang. Dia sedikit kesusahan karena banyak orang yang berlari kesana kemari. Mereka pasti ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri.


" Sial. " Sesampainya di pintu belakang Harry dan Ara dicegah oleh Adelio dan beberapa anak buahnya.


" Ayah.. Aku takut. " Harry merangkul menantunya. Adelio membawa pasukan seperti mau perang. Banyak sekali.


" Anak buahmu sudah aku kepung di depan. Selama tidak ada anakmu, aku tidak takut melawanmu. " Adelio berkata dengan sombong.


Harry semakin mempererat rangkulannya pada Ara. Apapun yang terjadi dia akan melindungi menantu yang sudah seperti putrinya. Dia tidak ingin apa yang dialaminya dulu, juga dialami oleh putranya. Harry tidak akan membiarkan Reynard kehilangan cintanya.


" Tuan.... " Harry tersenyum lega saat melihat dua pengawalnya berlari ke arahnya. Mereka adalah pengawal yang terhebat, mampu melepaskan diri dari kepungan pengawal Adelio yang berjumlah puluhan itu. Adelio benar-benar niat sampai membawa semua pengawalnya.


Doorrrrrr.... Ara terkejut tak percaya melihat apa yang terjadi di depan matanya. Ayah Harry tertembak. Adelio benar-benar nekat memanfaatkan musuh yang sedang lengah.


Harry memegang dadanya yang tertembak.


" Ayah..... " Teriak Ara. Air matanya sudah tidak terbendung lagi.


Dua pengawal Harry segera menghalangi Tuannya dan Nonanya.


" Hei pengawal bodoh. Minggir kau. " Ucap Adelio hendak berjalan ke arah mereka.


" Tidak. Rara tidak akan meninggalkan Ayah. " Memeluk erat tubuh Ayah mertuanya. Dia benar-benar sudah menyayangi Harry seperti ayahnya sendiri.


" Ara.. Ikutlah denganku. Maka aku akan melepaskan Harry dan dua pengawal bodoh ini. " Ucap Adelio berjalan lebih mendekat ke Ara.


Ara menatap tajam Adelio. " Aku tidak sudi ikut denganmu!!!! " Ara berteriak marah.


Adelio semakin berjalan mendekat ke arah Ara diikuti pengawalnya. Dua pengawal Harry yang menghalangi juga sudah bersiap dengan pistolnya. Mereka pengawal yang setia. Rela menaruhkan nyawa demi melindungi Tuannya.


Ara sudah memejamkan matanya sambil memeluk tubuh lemah Ayah Harry, pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Adelio!!!!!!!! " Ara membuka matanya saat mendengar teriakan seseorang yang dia kenal.


" Kak Rey? " Lirihnya. Ara tersenyum bahagia melihat suaminya berjalan ke arahnya bersama para pengawal.


Adelio gelagapan. Dia tidak mungkin melawan jumlah seimbang dengan Reynard. Dia tidak bisa melawan Reynard.


" Mundur... " Adelio berjalan mundur menjauh.


" Kejar mereka. " Perintah Reynard kepada pengawalnya. Reynard hendak ikut mengejar tapi dia urungkan saat melihat Harry yang sudah terduduk lemas memegangi dadanya.


" Ayah. " Reynard berjongkok memegangi Ayahnya.


" Tidak apa-apa. Sepertinya sudah waktunya... Rey... Kau.. Kau ja.. ga menantu Ayah dengan ba..ik.... " Ucap Harry terbata menahan rasa sakit di jantungnya.


" Ayahhh.... " Ara menangis sejadi jadinya. Dia benar-benar merasa bersalah.


Harry tersenyum manis kepada Ara. Mengelus lembut puncak kepala gadis itu. Sebelum akhirnya dia memejamkan mata dengan wajah tersenyum damai.


" Ayahhhh...... " Teriak Ara.


Reynard menundukan kepalanya. Menarik nafas dalam-dalam. " Adelio..... " Berucap dengan kemarahan yang memuncak. Tangannya sudah mencekram kuat. Matanya memerah merasakan sedih sekaligus marah.


...........