
Sudah sejak kemarin Ara terkurung di dalam penjara ini. Tidur tidak nyenyak, makanan pun tidak ada yang dia sentuh. Dia hanya minum air putih. Gio yang katanya mau menemui juga tidak datang. Mungkin pengawal itu sibuk.
" Bagaimana rasanya tidur di penjara.. " Ara menatap kesal perempuan yang baru saja datang.
" Kenapa kau ada di sini? " Tanya Ara sinis.
" Reynard yang mengizinkanku datang ke mansion ini, dan aku dengar kau di penjara. Kasihan sekali. " Tersenyum mengejak.
" Itu artinya, Kak Rey akan kembali ke perempuan bernama Keisya ini? " Ara bertanya dalam hatinya. Rasanya sakit sekali. Suaminya membiarkan wanita lain datang ke rumahnya.
" Sudahlah. Aku tidak suka berlama-lama di sini. Lebih baik aku ke atas. Menemui Reynard. Kekasihku.. " Sebelum Keisya pergi dia sempat menatap sinis Ara.
Ara memegang dadanya yang sakit. Ditambah tubuhnya yang terasa semakin lemas.
" Apa aku akan mati disini? " Ucapnya lirih.
" Mama Papa.. Aku rindu kalian. " Dia teringat kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal. " Aku juga rindu Ayah.. " Dia tersenyum mengingat kebaikan Ayah Harry.
" Tunggulah.. Sebentar lagi, aku akan menyusul kalian.. " Dia menikmati rasa sakit yang mulai menyerang tubuhnya.
Menit berganti menit.. Jam berganti jam.. Ara kesal karena dia belum mati juga. Dia hanya merasakan tubuhnya semakin lemas.
Ingatannya kembali berputar saat dia dipenjara di rumah Adelio. Di sana dia juga tidak memakan apapun yang diberikan penjaga di sana. Sampai akhirnya dia diselamatkan oleh Reynard.
Dia tersenyum mengingat moment itu. Senyumnya memudar ketika dia ingat, sekarang justru penolongnya lah yang memasukannya ke dalam penjara.
" Jika aku mati nanti. Maka aku akan menghantuimu. Dasar suami jahat. " Dia tersenyum kecil menertawakan nasibnya.
" Apa ini sudah malam? " Tanyanya pada diri sendiri. Dia merasa pandangannya semakin tak jelas. Buram.
Dia memejamkan mata menikmati detik-detik nafasnya yang mulai tak teratur. Dadanya semakin sesak, tubuhnya semakin lemas, dan kepalanya juga mulai pusing.
Ara tersenyum kecil, masih memejamkan mata. " Apa kau malaikat pencabut nyawa? " Bergumam kecil tapi masih bisa didengar orang yang berdiri di depan selnya.
" Lakukanlah. Aku sudah siap. " Ucapnya pelan.
Sudah menunggu lama tapi Ara merasa tidak ada sesuatu yang terjadi padanya.
" Hei kenapa lama sekali.. Mama Papa dan Ayah Harry sudah menungguku. Cepat. " Dia meracau tidak jelas dalam gumamannya.
" Sudah waktunya.... Iya.. " Dia tidak melanjutkan ucapannya karena perlahan kesadarannya hilang.
" Buka pintunya cepat!!!!!!! " Teriak Reynard di depan sel yang mengurung Ara.
Pengawal dengan cepat membuka pintu sel. Setelah pintu terbuka, Reynard langsung menghampiri Ara dan mengangkat tubuh kecil itu keluar dari sel.
Dia berjalan cepat meninggalkan ruang bawah tanah. Membawa Ara ke kamarnya.
" Panggilkan dokter. " Ucapnya kepada pengawal yang mengikutinya.
" Baik Tuan. " Pengawal itu pergi untuk mendatangkan dokter pribadi keluarga Harry.
Reynard membaringkan Ara di kasur miliknya. Menyelimuti tubuh lemah itu. Lalu duduk di samping posisi Ara terbaring.
" Maaf. Karena kebodohanku aku menyakitimu. " Ucapnya pelan penuh penyesalan.
" Seharusnya aku tidak menyalahkanmu. Aku yang datang terlambat. Kalau saja aku cepat datang, pasti kau dan Ayah akan baik-baik saja. " Ucapnya lagi.
" Pengawal... Mana dokternya!!!!! " Teriak Reynard karena dokter belum datang juga.
.........