
Reynard membawa gadis itu ke kamarnya. Kamar khusus pengawal sekelas dirinya. Cukup mewah karena dia masuk dalam pengawal dengan pangkat tinggi di sini.
Gadis itu menunduk takut, apakah ini akhir dari masa mudanya? Entahlah. Membayangkan apa yang akan terjadi dengannya dia sama sekali tidak berani.
Reynard bejalan menuju ke ranjang lalu mendudukan dirinya di pinggiran ranjang. Matanya menatap tajam ke arah gadis yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
" Mau sampai kapan kau berdiri di situ. " Ucapnya tanpa menghilangkan tatapan tajamnya.
" Orang ini tampan tapi menakutkan. " Ucap gadis itu dalam hati.
" Kemari. " Dengan ragu-ragu, Gadis itu berjalan menghampiri Reynard.
" Siapa namamu. " Tanya Reynard ketika Gadis itu sudah berada tiga langkah dari posisinya duduk.
" A.. Ara Tuan.. " Jawab Gadis bernama Ara dengan terbata.
Reynard mengerti pandangan gadis bernama Ara itu. Pasti dia ketakutan. " Aku tidak akan menyakitimu. Duduklah. " Menepuk sebelah posisinya duduk.
Meskipun masih takut, Ara tetap patuh dan duduk di samping Reynard.
" Ceritakan. " Ara kebingungan. Ceritakan apa? Laki-laki ini menyuruhnya menceritakan tentang apa.
" Ck. Ceritakan, kenapa kamu bisa berada di penjara itu? " Reynard kesal dengan otak gadis ini. Ck. Memang anak kecil.
" Apa keluargamu akan mencarimu? " Tanya Reynard. Pandangannya masih lurus ke depan.
" Saya sudah tidak punya keluarga. Saya tinggal seorang diri dikosan. " Jawab Ara tanpa mengalihkan pandangannya dari bawah.
" Lalu bagaimana sekolahmu? Makan, bayar kosan? Dari mana kamu membayar semua itu? " Tanya Reynard. Ini pertama kalinya Reynard mengobrol dengan seseorang sesantai ini. Dengan Keisya dia hanya mendengarkan ucapan Keisya seputar jadwal pemotretan dan pekerjaan Keisya. Bahkan dengan Ayahnya pun dia tidak pernah mengobrol santai, yang dibahas hanya masalah pekerjaan, bisnis, dan misi-misi dunia mafia.
" Saya dapat beasiswa Tuan. Sedangkan untuk makan dan kos saya bekerja di lestoran sepulang sekolah dan menjadi pengantar koran ketika libur sekolah. " Jawab Ara sudah mulai melepas cengkraman tangannya pada baju. Dia sudah mulai mengusai kegugupan dan ketakutannya.
Reynard terkejut mendengar jawaban Ara. Gadis sekecil ini harus bekerja di luar jam sekolah untuk mencukupi kebutuhannya.
" Kau tetaplah di sini. Jangan berani keluar atau kau akan ditangkap pengawal lain. Kunci pintunya ketika aku tidak ada di sini. Tidak ada yang akan masuk kamar ini kecuali hanya untuk mencariku. " Ucap Reynard berdiri dari duduknya, merapihkan jasnya sebentar.
" Baik Tuan. " Ara menunduk menjawab.
Reynard melangkahkan kakinya keluar tanpa menoleh ke Ara. Dia hanya membantu Ara, baginya Ara Hanya gadis kecil yang beruntung ditolong olehnya.
Ara menatap kepergian seseorang yang baru saja menyelamatkan hidupnya. Sejak tadi jantungnya berdebar duduk bersampingan dengan laki-laki tadi. Reynard. Dia ingat, nama laki-laki itu adalah Reynard.
Ara berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam sesuai perintah Reynard. Dia tidak mau ada pengawal lain yang melihatnya, apalagi laki-laki yang tadi bertemunya di lorong belakang mansion besar ini. Laki-laki yang berjalan bersama orang tua tadi. Ara merasa laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang Ara tidak mengerti, yang jelas tatapan itu terlihat mengerikan bagi Ara.
Bersambung.....