
Sudah sejak seminggu pingsannya Ara di penjara, kesehatan Ara sudah pulih. Dia sudah beraktivitas seperti biasanya.
" Percuma tinggal di mansion besar. Tapi setiap hari kesepian. " Ara memakan makanannya dengan malas. Sudah beberapa hari ini dia tinggal sendirian di mansion, hanya ada pengawal dan pelayan. Reynard? Jangan tanya laki-laki itu. Sejak Ara bangun dari pingsannya dia belum bertemu laki-laki itu.
" Permisi Nona.. " Ucap salah satu pengawal yang baru saja datang.
Ara menoleh. " Gio??? " Terkejut karena ternyata pengawal yang memanggilnya adalah Gio.
" Bagaimana kondisi Nona? " Tanya Gio masih berdiri di samping Nonanya.
" Gio? Kamu mau berdiri terus? Ayo duduk. Temani aku makan. " Mempersilahkan Gio untuk duduk di sampingnya.
" Tidak apa Nona. Saya berdiri saja. Saya tidak pantas duduk di samping Nona. " Gio menolak dengan sopan.
" Jangan sungkan Gio. Kamu itu kan temanku. " Ara berbicara dengan senyum menghias di wajahnya.
" Nona menganggap saya teman Nona? " Tanya Gio keheranan.
Ara mengangguk antusias. " Kamu orang pertama yang menjadi temanku di sini. "
Gio tersenyum manis. Laki-laki tampan ini memang sudah lama mengagumi Nona Ara. Hanya sebatas kagum, tidak lebih.
" Gio.. Apa di sekitar mansion ini hanya ada hutan? Apa tidak ada tempat yang bisa didatangi? " Tanya Ara kembali mengaduk-aduk makananya.
Gio tersenyum tipis melihat wajah cemberut Nonanya. Ara mengingatkan Gio kepada adiknya yang ada di rumah. Sepertinya dia seusia dengan Ara.
" Apa Tuan Reynard tidak pernah mengajak Nona berkeliling hutan? " Tanya Gio.
" Huh. Dia kemana saja aku tidak tahu. " Ara semakin mencebikan bibirnya kesal.
" Dulu, semasa hidupnya Tuan besar suka berkeliling hutan dengan menaiki kuda atau motor cross. Ada jalur khusus untuk akses motor dan kuda. Di sana juga ada danau yang indah. Jelas Gio.
" Benarkah? " Tanya Ara sudah menoleh ke Gio.
Gio mengangguk. " Tuan Reynard juga sering melakukannya. " Lanjut Gio.
Ara berdiri dari duduknya menghadap ke Gio.
" Nona.. Jangan seperti ini.. " Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Janji dulu ajak ke sana. " Menampilkan wajah imutnya. Ah sial, Gio merasa semakin gemas.
" Nona bisa meminta izin kepada Tuan Reynard. " Ucap Gio menyarankan.
" Tidak usah. Laki-laki juga tidak akan peduli. " Mood Ara jadi rusak jika mengingat perlakuan Reynard kepadanya.
" Pengawal!!!!!!! " Teriak Ara. Ini pertama kalinya dia berteriak memanggil pengawal.
Beberapa pengawal langsung sigap menghampiri Nonanya.
" Siap Nona.. " Ucap mereka bersamaan.
" Ayo. Kita berkeliling hutan dan lihat danau. " Ucap Ara dengan antusias.
Mereka nampak kebingungan mendengar ajakan Nona Ara. Ara mengerti wajah kebingungan mereka.
" Kalian tidak akan membiarkan aku kesana sendirian kan? " Mereka semua kompak mengangguk.
" Kalau begitu ayo. Aku butuh pengawalan, dan juga... butuh teman.. " Ara cekikikan sendiri.
Para pengawal terpesona dengan senyum manis Nonanya. Mereka memang tahu kalau Ara masih sangat muda. Tidak heran jika kadang-kadang tingkahnya semenggemaskan ini.
" Tapi Nona, Kita harus menaiki motor cross. Apa Nona bisa mengendarainya? " Tanya salah satu pengawal itu.
" Aku akan membonceng salah satu dari kalian. Tidak susah bukan? " Jawab Ara enteng.
" Ayo.." Berjalan keluar mansion. Diikuti pengawal-pengawal itu.
Salah satu pengawal berhenti, mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang. " Maaf Tuan. Nona Ara mengajak para pengawal untuk berkeliling hutan dan melihat danau. " Pengawal itu memberi kabar kepada Tuan Reynard. Dia tidak mau kena marah Tuannya jika tidak mengabari apa yang dilakukan Nona Ara.
Sedangkan di seberang telpon, Reynard uring-uringan sendiri. Dia sudah berhari-hari tidak pulang. Selain karena urusan pekerjaan dan beberapa misi rahasianya, dia juga takut Ara marah padanya. Mengingat perlakuan buruknya kepada Ara waktu itu.
.......