
Ara memegang erat tubuh Gio yang duduk di depannya. Sekarang mereka sedang menaiki motor cross melewati jalur motor yang ada di dalam hutan. Dia memegang erat memang karena takut jatuh. Jalur motor di sini berbeda dengan jalan raya.
Mereka tidak sendiri, banyak pengawal yang ikut. Mereka membawa motor cross mengikuti motor yang dinaiki Gio dan Ara.
" Ini seru sekali Gio.... " Suara Ara berperang dengan suara motor cross mereka.
Setelah melewati jalur yang terjal akhirnya mereka sampai di sebuah danau yang sangat indah. Ara turun tergesa-gesa menuju ke pinggiran danau.
" Wah... Indah sekali.. " Menatap takjub danau di depannya.
Para pengawal hanya memerhatikan tingkah lucu Nona Ara.
" Gio... Kemari. " Gio yang merasa namanya dipanggil menghampiri Ara.
" Iya Nona.. " Gio menunduk hormat.
" Ayo bermain di pinggiran sana. " Tunjuk Ara ke pinggiran danau.
Gio terlihat berpikir. Bagaimana mungkin dia menemani Nona Ara bermain. " Tapi Nona.. " Belum selesai Gio menyelesaikan ucapannya, tangannya sudah ditarik oleh Ara.
Ara berlarian kesana kemari. Gio hanya memperhatikan Nona Ara sambil sesekali tersenyum.
" Nona... " Ara menoleh ke Gio.
" Iya Gio. " Sahut Ara.
" Sebaiknya kita kembali ke mansion. " Ucap Gio.
" Yah. Padahal aku masih asik bermain air. Yasudah. " Gio mengikuti Nona Ara berjalan menuju ke motor.
Gio membantu Ara memakai helemnya dan jaket agar lebih safety. Gio terlebih dulu naik motor, lalu diikuti Ara.
" Pegangan Nona. " Ucap Gio.
" Wah.. Kau mau modus yaa... " Ledek Ara. Gio gelagapan sendiri. Bisa-bisanya Nonanya ini menggodanya. Kalau saja dia bukan istri bosnya, mungkin sudah dia bawa kabur.
" Nanti Nona akan jatuh kalau tidak pegangan. " Ara tertawa melihat Gio salah tingkah.
" Iya iya.... " Ara melingkarkan tangannya di perut Gio. Ara senang, akhirnya di mansion dia punya teman.
Mereka kembali menyusuri jalur terjal hutan ini. Ara tersenyum tipis. Setidaknya, hari ini dia sedikit terhibur. Mengingat hubungannya dengan Reynard yang sedang tidak baik-baik saja, membuat hatinya sakit. Dia merindukan laki-laki itu.
Mereka memasuki halaman mansion yang luas. Ara turun dari motor dengan dibantu pengawal yang sudah siaga menyambut Nonanya kembali.
Dia tersenyum manis kepada Gio. " Terima kasih Gio. "
Gio sempat mengangguk sopan sebelum Ara berlalu meninggalkan dia dan berjalan masuk ke mansion.
" Nona.. " Ara sudah disambut dua pelayan pribadinya sebelum dia masuk ke kamar.
" Aku tidak butuh apa-apa. Mau istirahat. " Ucap Ara. Kedua pelayan itu mengangguk hormat lalu berlalu dari Ara.
Ara masuk ke dalam kamarnya. Mengambil pakaian di lemari dan berjalan ke kamar mandi. Secepat kilat dia membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian yang tadi dia ambil.
Keluar dari kamar mandi, Ara menyisir rambutnya di depan cermin.
Tok tok. Terdengar pintu diketuk.
" Masuk saja. " Ara menyahut dari dalam.
Pintu terbuka menampakan seorang pengawal. Pengawal itu berdiri di ambang pintu.
" Ada apa? " Tanya Ara.
" Tuan Reynard menyuruh Nona menemuinya di kamar. " Ucap pengawal itu.
Ara langsung berdiri dari duduknya. " Kak Rey sudah pulang? " Tanya Ara.
Pengawal itu mengangguk. " Iya Nona. "
" Yasudah. Sebentar lagi saya kesana. " Ucap Ara
" Saya permisi dulu Nona. " Pengawal itu menjauh dari kamar Ara.
Setelah pengawal itu menghilang, Ara berjingkrak kesenangan. " Kak Rey udah nggak marah kan sama aku? " Ucapnya menenangkan hatinya.
Sedetik kemudian senyumnya memudar.
" Tapi kemana selama ini dia pergi. Apa dia menemui perempuan itu? Waktu di penjara dia juga datang ke sini. "
" Oke. Aku temui saja. Aku akan balas perlakuannya. Memangnya cuma dia yang bisa bersikap acuh? " Ara melangkahkan kakinya keluar menuju ke kamar Reynard.
.......