Violetta

Violetta
Bab 8



Galen menaiki anak tangga satu per satu menuju ke rooftop sekolah. Ia sedari tadi mencari keberadaan Vio karena berniat ingin meminta maaf perihal masalah tadi, karena ia telah menuduh Vio yang telah membuat masalah.


Saat Galen membuka pintu rooftop, ia terkejut karena melihat Vio yang tengah berpelukan erat dengan Vian. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiran Galen.


Entah kenapa Galen tidak suka saat melihat kejadian itu. Ia ingin menegur mereka karena telah membolos saat jam pelajaran berlangsung, namun ia takut Vio akan semakin marah padanya.


Galen kemudian menutup pintu penghubung rooftop dengan pelan, kemudian meninggalkan mereka berdua dengan perasaan aneh.


"Darimana Gal?" tanya Justin, saat Galen baru saja kembali ke kelasnya.


"Rooftop," jawab Galen seadanya.


"Patroli lagi?" celetuk Fahri.


"Nyari Vio," sahut Galen.


"Vio? Pacar lo kan Sella, ngapain nyariin Vio?" tanya Justin.


"Ngerasa bersalah kali Jus," ujar Fahri.


"Ya mana gue tau kalo kejadian yang sebenarnya kayak gitu, gue kan baru selesai rapat OSIS waktu itu," ujar Galen.


"Makannya jangan suka mandang orang dari


penampilannya," titah Fahri.


"Betul tuh, kalo dilihat-lihat Vio cantik juga, cuma auranya aja yang dingin sama sikapnya yang badgirl," timpal Justin.


"Menurut kalian, penyebab Vio kayak gitu kenapa ya?" tanya Galen.


"Masalah keluarga mungkin, atau masalah cinta, atau mungkin karena faktor ekonomi juga bisa," sahut Fahri.


"Vio kan orang kaya ogeb, gak kayak lo," celetuk Justin.


"Ia juga ya, berarti antara opsi pertama atau opsi kedua mungkin," ujar Fahri. "Kenapa lo jadi kepo amat sama kehidupannya Vio?" tanya Justin curiga.


Seketika Galen teringat saat kejadian yang terjadi di ruang BK. Bahkan ia juga tak menyangka kalau Ayah Vio akan berkata kasar kepada anaknya sendiri, terlebih lagi Ayah Vio seorang pebisnis sukses. Hal itu membuat Galen semakin penasaran dengan kehidupan Vio.


"G-gue cuma penasaran aja," jawab Galen sedikit gugup.


...****************...


"Ayo pulang Sel," ajak Galen.


"Bentar ya Gal," jawab Sella.


"Nungguin apaan Sel?" tanya Galen menatap Sella yang celingukan seperti mencari seseorang.


"Vio, lo pulang bareng kita ya," pinta Sella saat Vio baru saja datang dengan Vian.


"Plis Vi, lo kan udah bantuin gue tadi, Galen mau kok nganterin lo juga," ucap Sella yang kini memegang tangan Vio.


Sebenarnya Vio tidak ingin pulang bersama mereka, hanya saja ia tidak enak jika harus menolak ajakan Sella karena ia tidak punya alasan yang tepat saat ini. Terlebih lagi ia tidak mau dibuat cemburu melihat orang yang ia suka bermesraan dengan sahabatnya sendiri.


"Vio pulang bareng Gue, sorry ya Sel," ucap Vian.


"Gak bisa gitu dong, Vio harus pulang bareng kita," ucap Galen tanpa sadar.


"M-maksud gue, kasian Sella, dia dari tadi kepikiran Vio terus," sambung Galen.


"Udah, gak papa Gal, mungkin mereka ada urusan," ujar Sella berusaha menengahi.


"Kita duluan ya, bye-bye," pamit Vian seraya merangkul pundak Vio. Hal itu tak luput dari pandangan Sella dan Galen.


"Hati-hati di jalan Vi," teriak Sella saat Vio sudah menjauh.


"Mereka pacaran?" tanya Galen.


"Yaudah yuk pulang," ajak Sella.


...****************...


Saat ini Vian dan Vio sedang dalam perjalanan pulang. Mereka mengendari motor sport milik Vian yang berwarna hitam.


Setelah beberapa menit akhirnya motor Vian sampai di halaman rumah Vio.


"Thanks," ucap Vio tersenyum samar, bahkan hampir tak terlihat.


"Bokap lo gimana? Lo pasti bakalan kena marah karena masalah di sekolah," ucap Vian yang nampak khawatir.


"Mereka belum pulang," jawab Vio seadanya, karena ia tahu mobil Ayahnya belum terparkir di garasi, jadi Ayahnya pasti belum pulang dari kantor.


"Kalau 'dia'? tanya Vian ragu.


Vio tahu kalau 'dia' yang Vian maksud adalah Lia, Ibu tirinya sekaligus Ibu kandung Vian.


"Gak tau," sahut Vio.


"Gue takut lo diapa-apain sama mereka. Apa perlu gue tungguin mereka sampai pulang, biar lo nanti gak dimarahin" ujar Vian.


"Gak usah, lo pulang aja," titah Vio.


"Ya udah gue balik. Kalo ada masalah, langsung hubungi gue ya. Bye-bye adikku," pamit Vian seraya melambaikan tangannya kearah Vio dan dibalas oleh Vio.


Meskipun raut wajahnya masih datar, tapi dalam hati Vio, ia merasa senang karena telah dipertemukan dengan Vian. Setidaknya ia mempunyai seseorang yang mengerti akan kondisinya.


...****************...


"Vio, dimana kamu?" teriak seseorang dari lantai bawah, Vio tahu jika Ayahnya lah berteriak memanggilnya, jelas sekali dari suaranya jika ada kemarahan yang tersimpan.


Mau tak mau Vio menuruni anak tangga, menghampiri Fajar dan Lia yang tengah berdiri menunggu kedatangan Vio.


Plakkk!


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Vio, Vio hanya diam dan memegangi pipinya yang terasa sakit.


"Kamu buat masalah apa lagi di sekolah hah? Kamu mau malu-maluin saya? Dasar anak nggak becus!" ucap Fajar memaki Vio.


"Kamu itu cuma jadi beban buat keluarga ini," timpal Lia.


"Kenapa kamu nggak mati aja hah? Saya malu punya anak kayak kamu!" ucap Fajar.


"Saya bahkan lebih malu punya Ayah seperti anda!" ucap Vio dengan lantang.


Fajar yang mendengar penuturan Vio sangat marah, ia mencengkram erat lengan Vio kemudian mendorongnya sampai Vio terjatuh dan kepalanya membentur tembok.


"Dasar anak kurang ajar!"


"Kamu itu sama saja seperti Ibu kamu, pengganggu!" ucap Lia.


"Jika Ibu saya pengganggu, lantas anda apa? Wanita yang merebut suami orang, dan meninggalkan seseorang hanya demi ambisi dan kekayaan," lirih Vio dengan nada datarnya namun penuh penekanan.


"Kamu ngomong apa hah?" Lia menjambak rambut Vio dengan kasar, kemudian menampar Vio dengan keras, sedangkan Fajar hanya menatap mereka.


Plakk!


"Ini buat kamu yang sudah berani kurang ajar sama saya," ucap Lia.


"Ayo mas, kita istirahat aja ke kamar, biarin aja anak sialan ini sendiri," ajak Lia.


Selepas kepergian Fajar dan Lia, Vio masih tertunduk di lantai. Ia merasakan sakit pada sebagian tubuhnya.


Ia berusaha untuk bangkit, kemudian melangkah keluar dari rumah. Ia benar-benar ingin pergi dari rumah yang mirip neraka baginya.