Violetta

Violetta
Bab 35



"Lo nggak papa kan Vi?" tanya Citra menatap Vio khawatir.


"Emang gue kenapa?" tanya Vio santai.


"Harusnya tadi lo nggak usah tunjukkin video itu," sambung Vio seraya menatap tajam Vian.


"Gue cuma mau lindungi adek kesayangan gue," ujar Vian seraya merangkul bahu Vio.


"Tapi-"


"Nggak ada tapi-tapian," ucap Vian memotong ucapan Vio.


"Huft," Vio menghembuskan nafasnya kasar.


Tiba-tiba Daffa menarik tangan Vio pelan, membuat sang empu terjekut dan menatap sang pelaku.


"Mau kemana?" tanya Vio bingung.


"Rooftop," sahut Daffa.


"Gue mau ngomong sama lo," sambung Daffa yang membuat Vio semakin dibuat bingung.


Sesampainya di rooftop, Daffa melepaskan tangan Vio, kemudian menatap gadis itu yang kini tengah berdiri didepannya.


"Gue tahu di hati lo masih ada orang lain dan gue juga tahu kalo lo belum ada perasaan sama gue, tapi gue janji akan berusaha agar lo bisa lupain dia dan mau nerima gue, gue harap gue bisa jadi orang spesial dalam hidup lo lebih dari sekedar sahabat Vi,"


"Apa lo mau jadi pacar gue?" tanya Daffa seraya menatap manik Vio.


"Gue bingung harus jawab apa Daff, lo tahu sendiri gimana perasaan gue," jawab Vio yang masih bertatapan dengan Daffa.


"Gue terima itu Vi, gue nggak masalah kalo di hati lo masih ada orang lain, karena gue yakin suatu saat perasaan lo pasti akan berubah dan seiring berjalannya waktu, lo pasti bisa terima gue," ujar Daffa yang membuat Vio tidak bisa berkata-kata lagi.


Vio masih terdiam seraya menatap Daffa. Mereka bahkan masih bertatapan tanpa mengalihkan pandangan mereka.


"Gue..,"


...****************...


"Maksud kamu apa Gal? Kamu putusin aku?" tanya Sella tak percaya.


"Gue udah berusaha buka hati gue buat lo Sell, tapi sampai saat ini perasaan gue ke lo itu masih sama kek dulu, gue cuma bisa anggep lo sebagai sahabat, nggak lebih," ujar Galen yang mempunyai membuat Sella kecewa juga marah.


"Tapi aku nggak mau putus Gal," rengek Sella seraya memegang lengan Galen dengan erat.


"Sorry Sell, gue nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri. Gue nggak mau bikin lo tambah sakit hati nantinya, karena perasaan gue," ujar Galen lirih.


"Pasti karena Vio kan? Kamu putusin aku karena dia kan? Karena kamu tahu kalo Vio itu suka sama kamu, iya?" tanya Sella seraya menahan air matanya agar tidak keluar.


"Bukan karena dia Sell, lo jangan salah paham dulu. Kita masih bisa temenan kok," ujar Galen.


Tatapan Sella tertuju pada Vio dan juga Daffa yang baru saja turun dari rooftop, hal itupun membuat Sella kesal karena melihat wajah gadis itu.


Vio dan Daffa baru saja turun dari rooftop, mereka berniat akan pergi ke kelas, namun langkah mereka terhenti kala Sella meneriaki nama Vio dan menyuruh gadis itu untuk mendekat.


Vio menatap Daffa bingung, sedangkan Daffa hanya mengedikkan bahunya acuh karena ia juga tidak tahu apa maksud Sella memanggil Vio, terlebih lagi Sella sedang bersama Galen.


Mau tak mau Vio mendekat kearah Sella dan Galen, dengan diikuti oleh Daffa dibelakangnya.


"Kenapa?" tanya Vio ketus seraya menatap Sella.


"Kenapa lo bilang?" tanya Sella seraya


berdecak kesal.


"Lo itu udah rebut Galen dari gue," ujar Sella yang membuat Vio mengerutkan keningnya pertanda bingung.


"Gue tahu, lo pasti godain Galen kan? Lo pasti pengaruhi dia buat putusin gue?" bentak Sella, namun Vio masih menatap Sella santai.


Seketika mereka menjadi tontonan banyak orang, karena suara Sella yang lumayan kencang, sehingga menarik perhatian murid lainnya.


"Asal lo tahu Vio, lo berhasil buat gue sama Galen putus," ujar Sella seraya mendorong Vio.


"Gue udah jelasin, ini semua bukan karena Vio Sell. Gue sadar, selama ini gue cuma sebatas kagum sama lo," ujar Galen.


"Bilang aja lo udah tertarik sama cewek murahan ini kan?" kesal Sella.


"Gue benci sama lo Vio, gue benci! Lo selalu rebut apa yang gue punya. Asal lo tahu, bahkan sejak SMP, gue udah benci sama lo,"


"Dulu waktu SMP, orang yang gue sayang suka sama lo, dan sekarang, lo juga mau rebut Galen dari gue? Jahat lo Vio!"


"Lo selalu dapetin apa yang lo mau. Rumah mewah, kekayaan, lo punya itu semua, sedangkan gue, gue cuma anak dari kalangan biasa, lo nggak tahu gimana rasanya diposisi gue, kenapa lo jahat sama gue Vio, kenapa?"


"Dari dulu lo selalu dapat peringkat kelas, padahal lo nggak pernah belajar, lo juga sering bolos, gue iri sama lo Vio. Kehidupan lo tercukupi, lo bebas ngelakuin apapun yang lo mau, karena lo punya kekayaan itu,"


"Tapi kenapa lo rebut Galen dari gue? Dia salah satu kebahagiaan gue, kenapa lo tega Vio?" ucap Sella air matanya.


Semuanya hanya diam mendengarkan penuturan dari gadis itu, bahkan Vio memberikan ruang kepada Sella untuk untuk mengutarakan isi hatinya itu.


"Vio udah nggak suka sama Galen, lo tenang aja," celetuk Daffa yang membuat Sella menatap kearahnya.


"Hari ini, gue udah resmi jadian sama Vio, gue harap lo buang pemikiran buruk lo tentang dia! Gue nggak mau pacar gue dibawa-bawa sama masalah kalian," ujar Daffa seraya menatap Sella dan Galen secara bergantian.


"Pacar?" gumam Sella.


"Asal lo tahu Sell, pemikiran buruk lo tentang gue itu semuanya salah," ujar Vio memulai mengutarakan isi hatinya.


"Meskipun lo benci sama gue, tapi gue nggak pernah sekalipun benci sama lo. Mungkin menurut lo, persahabatan kita udah berakhir, tapi gue masih anggep lo sebagai sahabat gue."


"Lo bilang hidup gue bahagia, karena gue kaya dan punya segalanya? Lo salah besar Sell, lo salah besar karena iri sama kehidupan gue."


"Karena sebenernya gue yang dari dulu iri sama kehidupan lo Sell. Gue emang kaya, gue punya segalanya, tapi ada satu hal yang nggak bisa gue dapetin, yaitu kasih sayang. Gue bahkan nggak pernah rasain gimana rasanya kehangatan keluarga, mungkin dulu gue pernah rasain itu sebelum Bunda gue meninggal, tapi setelah itu, hidup gue hancur Sell, gue bahkan nggak punya siapa-siapa buat utarain perasaan gue,"