
"Ngapain lo di depan rumah gue?" tanya Vio saat baru saja sampai rumah dan disuguhi oleh pemandangan seorang cowok yang tengah duduk santai di kursi ayunan yang berada di halaman rumahnya.
"Gue mampir lah, kek biasa," sahut Galen santai.
"Sorry, rumah ini lagi nggak nerima tamu," sahut Vio ketus.
"Sebentar aja Vi," pinta Galen dengan wajah memelas.
Kruyuk kruyuk! Suara perut Galen terdengar sampai ke telinga Vio, hal itupun membuat Galen cengengesan karena sedikit malu.
"Gue laper banget, mau numpang makan disini. Gue mau nagih imbalan karena gue udah bantuin lo bersihin gudang," ucap Galen.
"Huft," Vio hanya menghembuskan nafasnya kasar, kemudian masuk ke dalam rumahnya dan diikuti oleh Galen dibelakangnya.
"Di rumah ini nggak ada makanan," ucap Vio apa adanya.
"Lo masakin buat gue lah, itung-itung latihan jadi istri yang baik," pinta Galen yang membuat Vio mengerutkan keningnya.
"Maksud gue, lo kan kelak bakal jadi istri, nanti suami lo mau makan apa coba, kalo lo nggak bisa masak?" tanya Galen.
"Gue bukannya nggak bisa masak, gue cuma males aja masakin buat lo," sahut Vio.
"Kalo lo nggak mau masakin buat gue, gue bakalan tetep disini," sambung Galen.
"Huft, oke lo tunggu sini," sahut Vio pada akhirnya, karena ia tidak ingin cowok itu berlama-lama di rumahnya.
Alasannya karena ia tidak ingin membuat perasaannya lebih dalam lagi terhadap cowok itu.
Vio berjalan menuju dapur dan berkutat dengan peralatan masaknya. Ia membuat nasi goreng spesial dengan telur mata sapi diatasnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Vio selesai, ia membawa dua piring nasi goreng tersebut ke meja makan, yang ternyata Galen sudah menunggunya disana.
"Kok cuma nasi goreng?" tanya Galen.
"Kalo lo nggak mau, nggak usah dimakan," sahut Vio seraya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Galen mencoba memakan nasi goreng tersebut, dan ternyata rasanya diluar dugaannya.
"Gila, ini enak banget, lebih enak dari buatan Bunda," ucap Galen tanpa sadar.
"Lain kali masakin gue lagi ya," ucap Galen setelah selesai menghabiskan makanannya.
Tok tok tok!
Suara pintu diketuk oleh seseorang, hal itupun membuat Galen dan Vio berjalan menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu.
"Hallo Vio," sapa Citra yang juga datang bersama dengan Daffa dan Vian.
"Masuk," ucap Vio mempersilahkan ketiga remaja itu untuk masuk.
"Lo ngapain disini?" tanya Vian saat menyadari ada keberadaan Galen disana.
"Gue main lah, emang gak boleh?" tanya Galen membalikkan pertanyaan.
"Tumben lo kesini Gal? Emang pacar lo nggak marah gitu?" tanya Citra.
"Ya nggak lah, dia kan juga sahabatnya Vio," sahut Galen berbohong, padahal Sella tidak tahu sama sekali jika Galen sedang berada di rumah Vio.
"Vi, lo udah makan?" tanya Daffa.
"Udah, baru aja selesai," sahut Vio seraya tersenyum.
"Lo nggak pulang?" tanya Vian menatap Galen.
"Gue masih mau disini," sahut Galen yang membuat Vian dan yang lainnya bingung.
"Mending lo pulang," saran Vian.
"Biarin aja kali Ian," sahut Citra.
"Tapi kan-"
"Biarin aja kalo dia masih masih mau disini," timpal Daffa yang membuat Vian bingung kenapa Citra dan Daffa membiarkan cowok itu masih berada disana.
Alasannya karena Citra dan Daffa tahu jika Vio memang menyukai Galen, itulah sebabnya mereka membiarkan cowok itu masih berada disana.
...****************...
"Din, kok gue ngerasa Galen semakin jauh dari gue ya?" tanya Sella.
"Jauh gimana?" tanya Dina bingung.
Saat ini mereka berdua tengah berada di rumah Sella karena memang Dina tengah berkunjung ke rumah Sella.
"Sibuk sama duo curut paling Sell, gue lihat Galen orangnya setia kok," sahut Dina mencoba menenangkan Sella.
"Gue harap gitu Din, gue cuma takut aja kalo Galen suka sama orang lain, soalnya dari habis pulang dia belum bisa dihubungin," ucap Sella dengan raut sendu.
"Tenang aja Sell, jangan negatif thinking dulu," titah Dina.
"Nah ini kebetulan di Justin telfon gue, biar gue tanyain, siapa tau mereka lagi bareng," ucap Dina menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan panggilan dari Justin.
"Hallo Jus," sapa Dina.
"Hallo Din, lo lagi ngapain?"
"Gue lagi di rumah Sella,"
"Oh, berarti ada Sella juga?"
"Ya iyalah Jus, orang gue lagi di rumah Sella, ya pastinya ada Sella dong,"
"Hehe, iya juga ya,"
"Em, Galen lagi sama lo nggak?"
"Nggak Din, tadi waktu di sekolah dia emang janji ke gue sama Fahri, katanya mau kumpul di tempat biasa, tapi sampai saat ini dia belum dateng tuh,"
"Emang kalian lagi dimana?
"Di Cafe biasa Din, emang Sella juga nggak tau Galen dimana?"
"Dia juga nggak tau, makannya gue nanyain ke elo,"
"Mending kalian berdua kesini aja Din, siapa tau nanti Galen juga kesini,"
"Oke, kita kesana,"
...****************...
"Ok, kita mulai permainannya, siapa dulu nih yang mau muter botolnya?"tanya Vian.
"Gue duluan," sahut Citra.
Mereka saat ini tengah duduk memutari sebuah meja yang berada diruang keluarga. Mereka memainkan game truth or dare, dan Citra bertugas memutar botol untuk yang pertama.
Botol yang Citra putar berhenti dengan ujung botol mengarah pada Daffa.
"Truth or dare?" tanya Vian.
"Truth," sahut Daffa.
"Ok, lo nganggep Vio itu apa?" tanya Citra menatap Vio sekilas, kemudian kembali menatap Daffa.
"Vio, dia sahabat yang baik buat gue," jawab Daffa apa adanya, karena memang Vio tidak menyukai Daffa.
"Tapi lo suka sama Vio kan?" tanya Citra lagi.
"Perjanjiannya cuma bisa nanya satu kali, jadi gue nggak perlu jawab pertanyaan yang kedua," sahut Daffa.
"Ok lanjut, kini giliran gue," ucap Galen.
Kali ini giliran Galen yang memutar botol tersebut dan berhenti mengarah pada Vian.
"Gue pilih truth," ucap Vian sebelum ditanya dulu oleh Galen.
"Siapa orang yang ada di hati lo saat ini?" tanya Galen.
"Gue yakin jawabannya pasti Vio," batin Galen.
"Citra," sahut Vian mantap.
"Lo serius? Bukannya Vio ya?" tanya Galen bingung, karena Galen memang tidak tahu apa-apa. "Dia kan pacaran sama Citra, ya kali si Vio yang ada di hati Vian," celetuk Daffa yang membuat Galen terkejut.
"****, kok gue nggak tahu," umpat Galen.
"Lo kudet Gal," ucap Citra.
"Sekarang giliran lo Vi," ucap Vian menyerahkan botol itu kearah Vio.
"Truth or dare?" tanya Vio menatap tajam Galen.
"Truth," sahut Galen.
"Apa alasan lo pacaran sama Sella?" tanya Vio menatap datar Galen.