
"Lihat noh kelakuan pacar lo Sel," ucap Dina menunjuk Galen.
"Gue yakin banget, kalo Galen tuh iri sama Daffa, makannya sok-sokan nantangin Vio," ujar Dina.
"Galen lakuin itu bukan karena Vio kan?" batin Sella.
Sella hanya menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia merasa cemburu dengan kedekatan mereka karena memang posisi mereka berdekatan. Bahkan Galen sesekali tertawa lebar saat berhasil memasukkan bolanya kedalam ring, sedangkan Vio hanya tersenyum simpul.
Mereka bahkan baru tahu jika Vio sangat berbakat dalam bermain basket, karena selama ini Vio tidak pernah menunjukan kemampuannya, bahkan Galenpun terkejut karena Vio memang lebih mahir bermain darinya.
Selama ini Galen tidak pernah kalah jika bermain basket dengan siswa yang lain, ia bahkan selalu menjadi pemenang, namun kali ini ia berhasil dikalahkan oleh Vio.
"Selama ini gue belum pernah dikalahin sama siapapun, kecuali 'dia', tapi kali ini gadis itu berhasil ngalahin gue juga," batin Galen tersenyum miring mengingat teman masa kecilnya yang tidak pernah bisa ia kalahkan saat bermain basket, namun kali ini ia bahkan tidak tahu dimana keberadaannya sekarang.
Galen masih menatap Vio yang kini tengah meminum sebotol air mineral yang diberikan oleh Daffa. Ia merasa kesal karena gadis itu berhasil mengalahkannya, namun disisi lain ada perasaan aneh saat dekat dengan gadis itu.
"Ini Gal minum dulu, kamu pasti capek," ucap Sella yang baru saja datang dengan Dina dan menyerahkan sebotol air mineral.
"Thanks Sell," ucap Galen yang langsung menerimanya, dan meneguknya hingga tersisa setengah.
"Kapten basket kok bisa kalah," ejek Dina seraya tersenyum miring.
"Mana gue tau kalo dia sejago itu," sahut Galen.
"Makannya gak usah sok nantangin orang, gue tahu lo itu iri karena Daffa jadi pusat perhatian kan, makannya lo sok-sokan nantangin Vio," ujar Dina.
"Gue bahkan gak tahu kenapa gue lakuin itu, gue cuma gak suka aja liat kedekatan mereka," batin Galen.
"Udah Din, jangan ejekin Galen terus," tegur Sella.
"Iya deh, nanti pacarnya marah kalo cowoknya gue ejekin terus," ucap Dina dengan nada menggoda.
"Makannya lo cari pacar, biar nggak ngrecokin kita mulu. Dasar jones!" ucap Galen mengejek Dina.
"Gue itu udah suka sama seseorang," ucap Dina seraya tersenyum lebar.
"Ya udah si tinggal ngomong ke orangnya, susah amat," sahut Galen.
"Siapa Din?" tanya Sella.
"Ada deh pokoknya,"
"Kita itu harus pastiin dulu, perasaan yang kita miliki itu rasa suka atau obsesi, atau bahkan sekedar rasa kagum. Gue nggak mau nanti kalo udah pacaran, ternyata perasaan gue salah," ujar Dina sok bijak, tapi mampu membuat Galen dan Sella terdiam.
...****************...
"Ini dia sang ketua OSIS sekaligus kapten tim basket kita yang berhasil dikalahkan oleh seorang cewek," ucap Justin dengan keras saat Galen baru saja memasuki kelas.
"Kepada teman-teman sekalian, silahkan beri dia ejekan, cacian, atau hinaan yang menohok," ucap Fahri meniru gaya bicara Justin yang seolah-olah sedang menjadi MC.
"Sialan lo berdua!" umpat Galen.
"Kok lo bisa kalah si Gal?" tanya Lia.
"Betul tuh, masa seorang Galen bisa dikalahkan oleh seorang cewek,"
"Apalagi ceweknya kek Vio," ujar yang lainnya.
"Santai dong Gal," ujar Justin.
"Kalian perhatiin gak sih? Akhir-akhir ini Vio jadi lebih ceria setelah kehadiran anak baru itu," ucap Fahri.
"Gue rasa juga gitu," sahut Justin.
"Tapi dia berubah cuma ke Daffa sama sahabatnya aja kan, ke orang lain mah sama aja," sambung Justin.
"Kenapa jadi pada bahas Vio? Ganti topik kek!" ucap Galen dengan kesal.
"Kenapa jadi lo yang sewot?" celetuk Justin.
"Tau, terserah kita dong mau bahas siapa, lagian Vio juga lagi jadi trending topik di sekolah. Lo kan udah punya pacar, ya pikirin aja pacar lo," timpal Fahri.
"Atau jangan-jangan, lo suka sama Vio?" goda Justin.
"Nah bener tuh kata Justin. Lo suka ya sama Vio?" ucap Fahri dengan nada menggoda.
"Gak mungkin kali kalo gue suka sama dia!" elak Galen dengan nada sedikit keras.
"Ya santai dong!," sahut Justin.
...****************...
"Dari dulu, lo masih belum bisa kalahin gue," batin Vio tersenyum miring.
"Vio, ya ampun, tadi lo keren banget sumpah," ucap Dina dengan semangat.
"Kok lo bisa main basket Vi? sejak kapan?" tanya Sella.
"Sejak kecil," jawab Vio seadanya.
"Pantes lo jago banget," sahut Sella.
"Gue bangga deh sama lo, kapan-kapan ajarin gue main basket ya," pinta Dina yang dibalas anggukan oleh Vio.
Setelah beberapa menit akhirnya guru Sejarah pun masuk. Semua murid mendadak mengantuk saat mendengar guru itu menjelaskan tentang materi yang ia sampaikan.
Banyak yang sudah tertidur mendengar penjelasan guru itu, terutama murid pada bangku bagian belakang, rasanya mereka seperti sedang dibacakan dongeng tentang masa lalu negara ini.
Vio sudah memposisikan dirinya untuk tidur dengan bantalan tangannya, namun ia masih belum bisa terpejam. Ia bahkan sudah mengganti posisi menghadap ke kanan, juga ke kiri, namun ia masih belum menemukan posisi yang pas.
Saat sedang menghadap ke arah Daffa, cowok itu tiba-tiba meletakkan tangannya diatas kepala Vio dan mengelus-elus pucuk kepala Vio dengan lembut, meskipun pandangannya masih mengarah ke depan.
"Gue cuma mau bantuin lo biar bisa tidur," ucap Daffa melirik Vio sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke depan lagi, dengan tangan yang masih mengelus-elus kepala Vio.
Vio memperhatikan cowok itu, entah kenapa cowok itu begitu baik kepadanya. Ia pun bingung apa alasan sebenarnya Daffa melakukan ini semua, bahkan Daffa selalu ingin berada di dekatnya.
"Sel, lihat deh kebelakang," bisik Dina kepada Sella, sehingga sela mengalihkan pandangannya kebelakang.
"So sweet banget gila, gue juga mau digituin," gumam Dina.
"Nanti kalo lo udah punya pacar," bisik Sella.
"Gue jadi iri sama Vio, beruntung banget dia bisa deket sama Daffa, mana romantis banget orangnya," gumam Dina.