Violetta

Violetta
Bab 36



Saat ini Galen masih termenung di rooftop sekolah, bahkan ia tidak mendengar bel yang sudah berbunyi sejak tadi.


Cowok itu berdiri pada pembatas rooftop seraya menatap lurus ke depan.


Ia mendengar suara pintu rooftop yang dibuka oleh seseorang, namun ia sama sekali tidak peduli dan tidak ingin tahu siapa yang datang.


Langkah orang itu terhenti dan diam selama beberapa detik, namun sepertinya orang itu akan pergi, sehingga Galen membalikkan badannya dan netranya bertatapan dengan gadis yang saat ini tengah ia pikirkan.


Galen tidak menyangka akan bertemu dengan Vio disini. Terlebih lagi saat ini mereka hanya berdua, mungkin memang saat ini adalah waktu yang tepat agar mereka bisa membicarakan sesuatu yang mengganggu pikiran mereka masing-masing.


Vio berniat segera membalikkan tubuhnya dan berniat melanjutkan langkahnya, namun baru satu langkah, Galen sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya.


Vio menghentikan langkahnya dan menatap datar pergelangan tangannya yang masih dicekal oleh Galen, hal itupun membuat Galen melepaskan tangan Vio.


"Lo beneran jadian sama Daffa?" tanya Galen menatap intens wajah Vio.


"Hm," Vio hanya berdehem sebagai jawaban.


"Apa lo udah nggak ada rasa lagi sama gue?" tanya Galen, namun Vio hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Lo nggak mau berjuang lagi?"


"Tolong jangan buat gue lebih menderita " sahut Vio tanpa membalas tatapan Galen.


"Gue nggak mungkin bisa bahagia diatas penderitaan sahabat gue, biar gimanapun Sella masih gue anggep sahabat,"sambung Vio.


"Dia bahkan nggak pernah mikirin gimana perasaan lo, dia selalu nuduh lo macem-macem, sahabat macam apa dia hah?" ujar Galen dengan suara yang sedikit meninggi.


Vio terdiam mendengar ucapan Galen. Memang benar jika Sella seringkali melukai perasaan Vio, namun disini Vio sadar, jika dia juga salah.


"Lalu bagaimana dengan gue? Gue juga salah karena selama kalian pacaran, gue diem-diem nyimpen perasaan sama lo, sahabat macam apa gue?" ujar Vio disertai kekehan kecil diakhir kalimat.


"Gue disini juga salah, itu sebabnya gue berusaha memperbaiki hubungan persahabatan gue," sambung Vio seraya menatap kedepan.


"Dengan ngorbanin perasaan lo?" tanya Galen yang membuat Vio menatap tajam kearahnya.


Mereka bertatapan selama beberapa detik, hingga akhirnya Vio yang memutuskan pandangan mereka terlebih dahulu.


"Gue udah nentuin pilihan gue sendiri, gue harap lo ngerti!" ucap muka.


"Gue harap lo bisa perlakuin gue seperti biasa dan anggap perasaan ini nggak pernah ada," pinta Vio.


"Ok kalo emang itu mau lo," sahut Galen pada akhirnya.


Vio berjalan menuju sofa usang yang berada disana, ia mendudukkan dirinya seraya membuang nafas kasar.


Galen mengikuti Vio duduk disamping gadis itu. Ia bahkan mengacak-acak rambutnya kasar, seraya memejamkan matanya.


Mereka duduk bersebelahan tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk waktu yang sangat lama. Bahkan tidak ada percakapan diantara mereka sama sekali, hingga akhirnya Galen mencoba memulai percakapan.


"Lo bolos?" tanya Galen lagi, berusaha mencairkan suasana.


"Bukan urusan lo!" ketus Vio.


"Gue Ketos, jadi itu akan jadi urusan gue juga," sahut Galen.


"Lo sendiri?" tanya Vio seraya tersenyum sinis.


"Gue cuma-"


Tettttt!!!


Bel pulang sekolah berbunyi, hingga membuat Vio bangkit dari posisi duduknya dan berlalu meninggalkan Galen yang belum selesai dengan kata-kata nya.


"Sialan, gue ditinggal," umpat Galen.


...****************...


"Darimana?" tanya Daffa saat Vio baru saja kembali ke kelas untuk mengambil tas nya.


"Rooftop," sahut Vio.


"Gue pikir lo udah balik duluan Vi, ucap Dina.


"Nggak dibolehin sama dia," sahut Vio seraya menunjuk kearah Daffa.


"Yang punya pacar mah beda," goda Dina.


"Gue balik duluan Din," pamit Sella.


"Ok, hati-hati Sell," sahut Dina.


"Lo udah buat hubungan gue sama Galen berakhir, jadi jangan salahin, gue kalo gue juga lakuin hal yang sama ke hubungan lo," batin Sella.


"Gue kangen Sella yang dulu," ucap Dina lirih. "Gue juga," gumam Vio.


"Ya udah, yuk balik!" ajak Dina kepada Daffa dan Vio.


Mereka bertiga berjalan menuju parkiran sekolah. Seperti biasa sopir Dina sudah menunggu di sana, sedangkan Vio pulang bersama dengan Daffa menaiki motor cowok itu.


Tanpa mereka sadari, Galen sedari tadi memperhatikan mereka berdua dengan perasaan aneh.


"Biasa aja kali lihatinnya," ucap Justin.


"Ada yang cemburu nih," sindir Fahri.


"Gue nggak cemburu ya," sahut Galen.


"Emang kita nyebut nama lo?" Tanya Fahri.


"Orang kita nggak nyebut merek, kok lo ngerasa sih?" timpal Justin.


"Atau jangan-jangan-"


"Gue nggak suka sama Vio," elak Galen.


"Padahal gue tadi bukan mau ngomong itu," ujar Justin.


"Berarti bener dong kalo lo itu suka samaVio?" tanya Fahri.


"Mana ada? Dari dulu sampe sekarang, gue cuma suka sama Letta," ujar Galen.


"Gue yakin dia nggak akan mau sama lo," ujar Justin.


"Btw, gimana kalo sekarang kita ke rumah pohon aja, daripada gabut," usul Fahri.


"Gue setuju, siapa tahu kita bisa ketemu Letta disana," sahut Galen.


"Emang kalo lo udah ketemu dia, lo mau ngapain?" tanya Justin.


"Ya nggak tahu juga sih," sahut Galen.


"Kalo gue ketemu dia, bakal gue ajakin kenalan, siapa tahu dia terpesona sama gue, cowok terkece di SMA JAYA," ucap Justin sombong.


"Pft, yang ada dia ilfil sama lo Jus," sahut Fahri.


"Lo nggak tahu aja, dia itu galak, cerewet dan keras kepala," timpal Galen.


"Yaudah yuk buruan!"


Mereka bertiga menaiki mobil milik Galen dengan Justin yang bertugas menyetir.


...****************...


"Mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya Daffa kepada Vio saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Pulang," sahut Vio singkat.


"Oke, kita makan dulu," ujar Daffa yang tidak sesuai dengan jawaban Vio.


"Gue mau pulang Daff, bukan makan dulu," ucap Vio.


"Kita makan dulu ya, soalnya kalo kita langsung pulang, belum tentu nanti lo makan kalo di rumah," ujar Daffa.


"Gue nggak laper," bohong Vio, padahal sedari tadi perutnya sudah sangat lapar.


"Oke terserah," sahut Vio pada akhirnya.


Motor Kafe yang yang Daffa kendarai berhenti disebuah sudah biass mereka kunjungi.


Mereka berjalan beriringan memasuki kafe tersebut dan memilih tempat duduk yang kosong.


Saat sedang memakan makanan mereka, tiba-tiba terdengar suara keributan tak jauh dari meja yang mereka tempati.


"Lo pasti sengaja kan?"


"Gue beneran nggak sengaja,"


"Halah, masih SMA aja belagu,"


"Gue beneran nggak sengaja, gue juga kan udah minta maaf,"


Byurr!


Seorang gadis yang masih menggunakan seragam sekolah kini terlihat basah kuyup karena disiram menggunakan minuman oleh lawan bicaranya.


"Sella?"