Violetta

Violetta
Bab 41



"Vi, bangun," titah Daffa seraya membangunkan Vio, namun gadis itu masih belum terbangun juga.


"Vi," panggil Daffa lagi seraya menggoyangkan bahu Vio pelan, namun Vio hanya menggeliat pelan dan melanjutkan tidurnya.


"Vio bangun woy! Lo disuruh keruang guru!" panggil Dina dengan suara lantang, sehingga membuat Vio membuka matanya dan terbangun.


Belum sempat tersadar sepenuhnya, pergelangan tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang, yang membuat ia menatap kearah cowok itu, yang ternyata adalah Galen.


"Pelan-pelan woy!" tarik Daffa, namun tidak dihiraukan oleh Galen.


Vio hanya diam seraya mengikuti langkah Galen, karena pergelangan tangannya masih ditarik oleh Galen.


Galen membawa Vio menuju suatu ruangan yang sedikit berdebu dan banyak tumpukan meja dan kursi.


Vio baru menyadari jika Galen tidak membawanya ke ruang guru, melainkan ke gudang belakang sekolah.


"Ngapain lo bawa gue kesini?" ketus Vio saat ia sudah tersadar.


"Menurut lo?" tanya Galen sinis.


"Gue sama sekali nggak buat masalah hari ini dan lo mau hukum gue karena apa hah?" ujar Vio kesal, karena Galen telah membawanya ke gudang.


"Lo lihat ini!"


"Lo pura-pura bego atau gimana?" bentak Galen seraya menunjukan fotonya yang sudah tersebar di sosial media yang membuat Vio terdiam, kemudian tersenyum miring.


"Lo pikir gue yang sebar foto itu?" tanya Vio sinis.


"Karena cuma lo yang punya foto itu," sahut Galen.


"Bukan gue yang lakuin itu, minggir!" sahut Vio santai, seraya beranjak dari sana, namun pergelangan tangannya dicekal oleh Galen, yang membuat langkah gadis itu terhenti.


"Gue pastiin hidup lo nggak akan tenang di sekolah, karena lo udah main-main sama gue!" ancam Galen yang masih menahan pergelangan tangan Vio, yang membuat Vio menatap kearah Galen.


Mereka kini bertatapan dan saling melempar tatapan tajam.


"Gue tahu lo udah nggak suka lagi sama gue, tapi nggak gini caranya Vi," ujar Galen lirih.


"Lo dendam sama gue? Karena gue dulu nggak bales perasaan lo? Atau lo benci sama gue hah? Makannya lo sampe permaluin gue kayak sekarang?" tanya Galen tajam.


"Jawab gue Vio!" bentak Galen, karena Vio sedari tadi hanya diam, tanpa menjawab ucapan Galen.


"Semua yang lo omongin itu bener," sahut Vio seraya mengalihkan tatapannya dari Galen.


"Gue benci sama lo Galen, gue benci! Puas


lo?" sambung Vio yang kini matanya sudah berkaca-kaca.


"Apa alasannya? Kasih tahu gue!"


"Lo lupa sama janji lo?" tanya Vio sinis.


"Gue nggak pernah buat janji apapun sama lo! Jadi jangan buat alasan suapaya lo bisa bebas dari gue, karena sampai kapanpun, gue akan bales perbuat lo ini.


"Lo pikir gue takut?" tantang Vio seraya tersenyum miring.


"Lakuin apapun yang lo mau! Gue sama sekali nggak peduli," ujar Vio seraya beranjak dari sana, meninggalkan Galen sendiri.


"Shitt! Gue pikir dia takut sama ancaman gue," gumam Galen.


"Dasar cewek aneh!"


...****************...


"Kenapa Cit?" tanya Vio saat ia baru saja kembali ke kelas dan langkahnya dihentikan oleh Citra.


"Lo tahu kalo Vian udah pindah?" tanya Citra hati-hati yang membuat Vio terdiam.


"Kemana?" tanya Vio lirih.


"Ayahnya ada bisnis keluar negri dalam waktu lama, makannya dia juga ikut pindah," ujar Citra.


"Dia bahkan nggak pamit ke gue sama sekali," sahut Vio seraya tersenyum miris.


"Lo jangan marah ya Vi, nanti gue coba ngomong ke Vian biar dia hubungin lo. Mungkin di masih sibuk sama kepindahannya, bahkan chat gue aja dari tadi sama sekali belum dibales," ujar Citra yang hanya dibalas oleh Vio dengan senyum simpulnya.


Vio kembali ketempat duduknya dan langsung mengambil tasnya dan membawanya pergi dari kelas.


"Vi, lo mau kemana?" tanya Daffa yang langsung mengejar Vio.


"Jangan bolos Vi!" titah Dina setengah berteriak.


"Maafin gue Vi, Vian ngelarang gue buat kasih tahu kebenarannya ke elo," batin Citra.


"Vio kenapa Cit?" tanya Dina karena penasaran, namun Citra hanya mengedikkan bahunya.


"Pada akhirnya lo juga ninggalin gue Vian, lo bahkan nggak pamit sama gue," batin Vio sendu.


Gadis itu kini tengah berdiri pada pembatas rooftop sekolah seraya menatap lurus ke depan.


Vio menyadari jika Daffa sedari tadi mengikutinya, itu sebabnya kini Daffa sudah berdiri belakangnya.


"Gue harap lo nggak akan ngecewain gue Daff," ucap Vio tanpa mengalihkan pandangannya.


Daffa bingung, kenapa tiba-tiba Vio berucap seperti itu.


"Gue nggak mau lo juga ngecewain gue kayak mereka, gue udah terlalu banyak dikecewakan," batin Vio.


"Gue nggak akan pernah ngecewain lo Vi,"


"Gue pastiin, gue akan selalu ada disisi lo apapun yang terjadi, ini janji gue!" ujar Daffa seraya memeluk Vio dari belakang.


"Sampai kapanpun, gue akan selalu ada disisi lo, meski gue harus ngorbanin nyawa gue sekalipun,"


Vio berbalik arah dan membalas pelukan Daffa.


"Apa itu artinya lo udah buka hati lo buat gue?" tanya Daffa seraya menghapus air mata Vio.


Vio mendongak menatap wajah tampan Daffa seraya tersenyum lebar, kemudian ia kembali memeluk cowok itu.


Daffa tahu betul jika dibalik senyum lebar gadis itu, ia banyak menyimpan kesedihan yang mendalam.


"Jangan nangis lagi, lo jelek kalo lagi nangis," ujar Daffa.


"Vian pergi, bahkan dia nggak pamit sama sekali ke gue, dia ninggalin gue gitu aja," ujar Vio seraya tersenyum miris.


"Padahal gue udah seneng punya kakak yang selalu ada buat gue, dia selalu buat gue merasa punya keluarga," sambung Vio.


"Dia pasti punya alasan sendiri kenapa nggak kasih tau lo," ujar Daffa.


"Gue tahu betul gimana dia, lo tenang aja, gue yakin dia pasti akan hubungin lo nanti," sambung Daffa seraya mengelus-elus pucuk kepala Vio.


"Ekhem," deheman seseorang dari arah pintu rooftop yang membuat mereka berdua menatap ke sumber suara.


"Sekolah bukan tempat buat pacaran," ujar cowok itu.


"Lo dipanggil Pak Yohan," ujar Galen seraya menunjuk Daffa, yang membuat Daffa sedikit tidak percaya.


"Mau bahas soal olimpiade sains, buruan!" ujar Galen yang membuat Daffa menatap kearah Vio.


"Lo duluan aja," titah Vio yang diangguki oleh Daffa.


"Oke, gue duluan Vi," ujar Daffa seraya meninggalkan Vio dan Galen di rooftop.


"Lo mau bolos?" tanya Galen saat menyadari disamping Vio ada tas milik gadis itu.


"Bukan urusan lo," ketus Vio.


"Ikut gue!" titah Galen seraya membawa Vio menuruni tangga dan membawa gadis itu menuju lapangan.


Entah kebetulan atau apa, ternyata di lapangan sedang ada beberapa murid yang tengah dihukum oleh guru BK, hal itupun membuat Vio tidak bisa melarikan diri untuk saat ini..