
"Kok gue gak tahu ya ada tempat sebagus ini," ucap Dina setelah mereka sampai di danau.
"Danau nya cantik banget ya, kok kamu tahu ada danau disini Gal?" tanya Sella.
"Dulu aku sering banget kesini waktu rumah aku belum pindah," ujar Galen.
"Oh ya? Berarti rumah lama kamu ada di deket sini dong?" tanya Sella antusias.
"Iya, padahal rumah itu banyak banget kenangannya, tapi kami terpaksa harus pindah," ujar Galen.
Vio hanya mendengarkan percakapan mereka, namun pikirannya tertuju entah kemana.
Setidaknya ia kembali ke tempat ini dengan orang yang sama, meskipun keadaanya telah berbeda.
Flashback on!
Seorang gadis kecil tengah berlarin di tepi danau bersama dengan seorang anak laki-laki yang juga seumuran dengannya.
"Al, cepat sini kejar Letta," ucap sang gadis yang kini tengah berlarian menjauh.
"Jangan cepet-cepet Letta," ucap sang anak laki-laki.
"Gak kena, gak kena," sahut Letta kecil.
"Gak kena wle," ucap Letta kecil seraya menjulurkan lidahnya.
Dug!
Kaki gadis kecil itu tersandung batu yang lumayan besar, ia tidak menyadari jika ada batu didepannya, karena ia terus memandang ke belakang.
Ia terjatuh, dengan lutut yang mengeluarkan darah. Al yang melihat itu dari belakang segera menghampiri gadis kecil tersebut.
"Makannya kalo lari jangan cepet-cepet," ujar Al kecil.
"Lutut Letta sakit Al," sahut gadis kecil itu seraya memegangi lututnya yang sudah berdarah.
Letta, gadis kecil itu tidak menangis sama sekali. Ia bahkan sudah sering merasakan sakit yang lebih dari itu karena kesengajaan. Baik dari Ayahnya, maupun dari Lia. Mereka melakukan itu saat Mayang tidak berada di rumah. Bahkan gadis itu selalu tersenyum setiap hari, semua orang mungkin mengira ia adalah anak yang sangat ceria.
"Ayo naik," Al kecil menggendong Letta menuju ke bawah pohon yang berada di tepi danau.
"Besok kalo Al udah besar, Al pasti akan selalu lindungi Letta, janji," ucap Al kecil mengulurkan jari kelingkingnya dan diterima oleh gadis kecil tersebut.
"Makasih ya Al," sahut Letta kecil yang langsung memeluk Al. Mereka saling berpelukan dengan erat.
Flashback off!
"Vi, Vio?" teriak Dina dengan kencang.
"Apa?" ketus Vio yang tersadar akan lamunannya.
"Lo ngelamunin apaan sampe gak denger suara gue hah?" kesal Dina, sedangkan Vio hanya mengerutkan keningnya.
"Gue dari tadi nanya sama lo, tapi lo ngelamun terus," kesal Dina.
"Lo udah sering kesini juga?" tanya Dina yang mendapat anggukan kepala dari Vio.
"Sama siapa?" tanya Dina lagi.
Vio hanya mengedikkan bahunya acuh, ia beralih menatap Galen dan Sella yang tengah duduk berdua di tepi danau.
Mereka terlihat sangat serasi. Galen sang ketua OSIS, dengan Sella, gadis cantik yang super ramah, tidak seperti Vio yang terkesan akan badgirl.
Vio bahkan selalu merendahkan dirinya sendiri, ia tak pernah merasa sombong, pamer, ataupun merendahkan orang lain. Karena ia selalu menjadi dirinya sendiri.
Setelah mereka bersenang-senang di danau, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang, tatapi Galen mengajak mereka untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Bunda!" teriak Galen saat memasuki rumahnya.
"Ada apa teriak-teriak hah? Ini rumah, bukan hutan!" ucap Sari yang baru saja datang menghampiri Galen.
"Ini Sella Bun, pacar Gala dan mereka sahabatnya Sella,"
"Hallo Tan, saya Sella," sapa Sella serakah mungkin.
"Sari," jawab Sari.
"Saya Dina Tan," ucap Dina memperkenalkan diri.
"Sari," sahut Sari seraya tersenyum ramah.
"Ya sudah, mari masuk. Tante baru aja selesai masak, kita makan bersama ya," ujar Sari yang disetujui oleh mereka.
Mereka menuju ruang makan mengikuti Galen dari belakang. Sedangkan Sari dan Vio berjalan paling belakang.
"Sini Vio, duduk dekat Bunda," pinta Sari seraya menepuk pelan kursi yang berada di samping Sari.
"Maaf ya Tante, jadinya ngerepotin," ucap Sella berusaha seramah mungkin.
"Ah gak papa, Tante gak kerepotan kok," sahut Sari seraya tersenyum.
"Vio, biar Bunda aja yang ambilin kamu makan ya," ucap Sari mengambil piring milik Vio dan mengisinya dengan nasi dan juga lauk.
"Bunda suapin ya, aaaa," ucap Sari menyodorkan sesendok nasi dan lauk ke depan mulut Vio
"Bun, Gala juga mau disuapin," rengek Galen.
"Makan sendiri Gala, malu sama pacar kamu tuh, masa ngerengek gitu ke Bunda," ujar Saru, sedangkan Sella dan Dina hanya tersenyum simpul.
Vio sangat senang karena bisa dekat kembali dengan Sari, orang yang sudah merawatnya setelah Mayang. Vio bahkan sudah menganggap Sari seperti Bundanya sendiri.
Dina dan Sella yang melihat pemandangan didepannya merasa bingung karena kedekatan Sari dan Vio, sedangkan Galen berpikir jika mereka dekat hanya karena kejadian beberapa hari yang lalu.
Jauh dibenak Sella, gadis itu merasa iri kepada Vio, karena bisa sedekat itu dengan Sari. Mereka bahkan terlihat seperti Ibu dan anak.
"Tante sudah kenal Vio?" tanya Sella hati-hati. "Sudah, kalian sahabatnya Vio kan?" tanya Sari.
"Iya Tante, kita berdua sahabatnya," sahut Dina.
"Sella udah pacaran sama Gala berapa lama?"tanya Sari lagi.
"Baru satu minggu Tan," sahut Sella.
"Oh, kalo Vio belum punya pacar?" tanya Sari menatap Vio sekilas.
"Vio belum punya Tan," jawab Sella apa adanya.
"Eh, tapi tadi di sekolah ada cowok yang bilang kalo tipe ceweknya itu yang kayak Vio Tan," timpal Dina.
"Siapa?"
"Anak baru di kelas kita Tan, dia duduk semeja sama Vio, auranya serem, tapi ganteng banget. Bahkan dia sampe jadi omongan satu sekolah, namanya Daffa Tan," ujar Dina menjelaskan panjang lebar tanpa rasa malu.
"Uhukk!"
"Kamu kenapa Gal? Nih minum dulu," tanya
Sella seraya menyodorkan segelas air putih. "Gantengan gue kali daripada anak baru itu," celetuk Galen tanpa sadar.
"Bilang aja lo iri, ya kan? Soalnya fans lo pada pindah ke dia," ujar Dina yang membuat Sari tertawa.
"Bener tuh apa kata Dina, bilang aja kalo kamu iri," goda Sari yang membuat Galen kesal.
"Si Daffa juga nempelin Vio terus Tan, bahkan Vio pergi kemana aja selalu diikutin," ujar Dina.
"Itu mah ganjen namanya," celetuk Galen.
"Tapi Daffa cuma lakuin itu ke Vio kok, bahkan dia gak mau kalo diajak ngobrol sama orang lain," ujar Dina menjelaskan.
"Modus itu mah, mendingan juga gue," timpal Galen.
"Pokoknya gue dukung, kalo Vio jadian sama Daffa," ujar Dina dengan semangat.
"Aku juga dukung kamu kok Vi," timpal Sella.
"Bunda dukung juga dong," ucap Sari antusias.
"Gak bisa gitu dong!" protes Galen yang membuat semua yang berada disana bingung.
"Maksud gue, kan belum tentu Daffa itu anak baik-baik, siapa tahu dia penjahat, penculik, perampok, atau bahkan psikopat, kan dia juga anak baru, kita gak tau aslinya gimana," sambung Galen yang membuat mereka yang berada disana ternganga karena ucapan Galen.
"Lo kenapa sih, sensi amat, kenapa jadi lo yang sewot?" tanya Dina.
"Ya gak mungkin kek gitu Gal," celetuk Sella.
Sedangkan Sari dan Vio hanya tersenyum miring mendengar ucapan Galen yang menurut mereka terlalu berlebihan.