Violetta

Violetta
Bab 20



Pagi ini seperti biasa Galen dan Sella berangkat bersama menggunakan mobil. Mereka sempat menjemput Vio terlebih dahulu, namun rumah Vio nampak sepi, bahkan seperti tidak ada orang.


Jam sudah menunjukan pukul 06:45, yang berarti lima belas menit lagi pelajaran akan dimulai. Galen mengantarkan Sella sampai ke dalam kelasnya, bahkan ia menyempatkan untuk ngobrol bersama dengan Sella dan Dina.


"Vio gak bareng kalian?" tanya Dina.


"Tadi kita ke rumah Vio, tapi sepi banget, dipanggil-panggil juga gak ada yang nyahut," ujar Sella.


"Udah berangkat kali," celetuk Galen.


"Tapi kok belum nyampe ya?" tanya Sella.


"Bolos kali, dia kan hobinya telat, kalo nggak telat ya bolos," ujar Galen.


"Dia udah jarang bolos kali," sahut Dina.


"Eh, itu kenapa ya kok ada ribut-ribut di luar? Mana rame banget lagi, pada lihatin apaan si?" ucap Dina menatap gerombolan siswa-siswi yang tengah bersorak ria.


"So sweet banget,"


"Kok mereka bareng terus ya?"


"Beruntung banget bisa dapetin Daffa,"


"Gue jadi ngiri,"


"Pengen digituin juga,"


"Itu Vio kenapa ya?"


"Hah Vio? Mana Vio woy?" teriak Dina celingukan mencari Vio dan membuat Galen dan Sella ikut mengarahkan pandangannya kearah kerumunan.


Diluar nampak sangat ramai entah karena apa, tiba-tiba terlihat Daffa yang tengah menggendong Vio menuju ke kelasnya bersama dengan Vian disebelahnya.


Dina, Galen dan Sella sontak terkejut melihat pemandangan tersebut, beberapa murid yang berada dikelas juga berteriak histeris kala melihat cowok yang mereka kagumi kini tengah menggendong seorang gadis.


Daffa mendudukkan Vio di kursi tempat duduknya, kemudian ia duduk di kursi yang berada disebelahnya seperti biasa.


Mereka menatap Vio intens, bahkan Galen yang masih duduk disamping Sella juga ikut memperhatikan gadis itu.


Kondisi Vio saat ini memang sudah lebih membaik, telapak tangan dan kakinya yang terkena pecahan vas sudah diperban dengan rapi, juga luka disudut bibirnya sudah mulai mengering.


"Gue balik ke kelas dulu, jaga diri lo baik-baik!" pamit Vian seraya tersenyum mengelus-elus pucuk kepala Vio.


"Daff, jagain dia baik-baik," sambung Vian sebelum meninggalkan kelas Vio.


"Pasti!" sahut Daffa.


"Vio, ya ampun. Lo kenapa bisa jadi gini hah? Kok lo nggak ngabarin gue? Kok bisa lo sampe luka, mana banyak banget tambalannya lagi?" tanya Dina panjang lebar.


"Itu perban Din, bukan tambalan," sahut Sella.


"Lo kenapa bisa gini hah? Cepet jelasin ke gue!" titah Dina.


Semua yang berada di kelas juga penasaran kenapa Vio bisa jadi seperti itu, mereka bahkan diam menunggu jawaban dari Vio.


"G-gue, gue nggak papa," jawab Vio berbohong.


"Gak papa tapi kok diperban sana sini," celetuk Galen.


"Dasar! Tuh cowok dari dulu sampe sekarang emang nyebelin!" batin Vio kesal.


"Dia nggak papa, kalian tenang aja," celetuk Daffa seraya tersenyum lebar kearah Vio.


"Terus kenapa lo bisa luka coba?" tanya Dina.


"Cuma kecelakaan kecil," sahut Vio.


"Iya Vi, kita itu khawatir sama lo, itu pasti sakit banget kan?" timpal Sella.


"Gue nggak papa, nanti juga sembuh sendiri,"


sahut Vio seraya tersenyum tipis.


Deg!


"Letta masih mau disini," sahut Letta kecil.


"Tapi lutut Letta berdarah, pasti sakit,"


"Letta nggak papa, nanti juga sembuh sendiri," jawab Letta seraya tersenyum manis.


"Tadi pagi Galen sama Sella ke rumahnya lo, tpi rumah lo sepi. Lo kemana aja? Kenapa baru nyampe?" tanya Dina.


"Dia ke rumah gue dulu," sahut Daffa.


"Kalian pacaran?" tanya Dina to the point.


Daffa dan Vio saling berpandangan, Vio yang ditanya seperti itu, bingung harus menjawab apa, sedangkan Galen masih menunggu jawaban mereka berdua karena penasaran.


"Belum, mungkin sebentar lagi," sahut Daffa tanna beban.


Vio menatap kearah Galen, bertepatan dengan Galen yang juga tengah menatapnya. Entah kenapa Vio merasakan tatapan Galen sedikit berbeda dari biasanya.


"Gal, kamu nggak ke kelas?" tanya Sella yang membuat Galen mengalihkan pandangannya dari Vio.


"Ah iya, ini juga mau ke kelas," sahut Galen.


"Kenapa Galen natap Vio kek gitu ya?" batin Sella bertanya pada dirinya sendiri.


...----------------...


"Gue ke kantin duluan ya, Galen pasti udah nungguin," ucap Sella.


"Tungguin kali Sell, mentang-mentang udah punya pacar," sahut Dina dengan nada menggoda.


"Ayo Vi, lo pasti laper kan? Gue bantuin jalan ya," tawar Dina.


"Hati-hati Vi," ucap Sella.


Dina dan Sella membantu Vio untuk berjalan, bahkan Vio sangat kesulitan untuk berjalan. Daffa yang berjalan dibelakang gadis itupun tidak tega dengan kondisi Vio, ia langsung menyingkirkan Sella yang berada disebelah kanan Vio, kemudian Daffa menggendong Vio ala bridal style, dan langsung membawanya menuju kantin diikuti oleh Dina dan Sella yang masih terkejut.


"Kalo lo jalan, mungkin nunggu satu jam baru nyampe," ucap Daffa.


"OMG, gue baper," celetuk Dina.


"Udah nunggu lama Gal?" tanya Sella saat mereka sudah sampai di kantin.


"Baru aja kok," sahut Galen.


"Kalian duduk sini aja," pinta Sella menatap Daffa dah Vio.


Tatapan Galen beralih menatap Daffa dan Vio, mereka terlihat sangat dekat. Daffa mendudukkan Vio dibangku panjang yang berhadapan dengan Galen dan sahabatnya, kemudian ia duduk disebelah Vio.


"Lo kenapa Vi?" tanya Justin hati-hati.


"Cuma kecelakaan kecil," sahut Vio.


"Cepet sembuh Vi," ucap Fahri.


"Iya, moga cepet sembuh ya," timpal Justin berusaha seramah mungkin, karena baru kali ini mereka bicara dengan Vio, cewek yang terkenal dengan muka datar dan sikap dinginnya.


"Thanks Jus, Ri," sahut Vio seraya tersenyum kecil.


"Wah, lo ternyata tau nama kita?" Heboh Justin.


"Gue jadi terharu," timpal Fahri.


"Lebay lo berdua, gitu aja kok heboh," celetuk Dina.


"Daff, lo sama Sella dipanggil ke ruang guru, katanya mau bahas tentang olimpiade sains," ucap Citra yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Oh, makasih Cit udah kasih tau," sahut Sella.


"Gue ke ruang guru dulu ya Gal, ayo Daff," ucap Sella.


"Gue kesana bentar Vi, nanti kalo udah selesai, gue balik lagi ke sini," pamit Daffa.