
"Pagi guys, kita mau minta waktunya sebentar nih," ucap Justin saat memasuki kelas Vio.
"Mau ngapain woy?" teriak salah satu cowok.
"Kita cuma mau nanya, santai aja," sahut Justin.
"Kita cuma mau nanya, kalian kenal sama orang yang ada difoto ini apa nggak? Sekarang dia seumuran sama kita, kalau kalian kenal, atau kalian tahu informasi tentang dia, kasih tahu ke kita dan kita akan kasih kalian sesuatu," ucap Justin panjang lebar.
"Ri, tunjukkin fotonya ke mereka," sambung Justin.
Fahri berkeliling kelas, menunjukkan foto itu ke semua murid satu persatu. Mereka memang melakukan itu ke semua kelas, dan hanya tinggal kelas Vio yang terakhir.
"Kok mukanya familiar banget ya," ucap salah satu cowok
"Cowok yang ada difoto ini siapa? Kok mukanya di tutupin pake selotip?" tanya salah satu cewek.
"Emang dia spesial banget apa pake harus dicariin segala?" tanya Rika.
"Dia itu spesial banget buat seseorang," sahut Fahri.
"Gue gak pernah liat" ucap yang lainnya.
"Gue ngerasa kek pernah lihat, tapi dimana ya?" ujar salah satu cowok.
"Halah bilang aja lo gak tau," sahut Fahri.
"Lo kenal cewek yang ada difoto ini Cit?" tanya Fahri seraya menunjukkan foto itu pada Citra.
"Gue nggak kenal," sahut Citra berbohong.
"Atau mungkin lo pernah liat cewek ini?" tanya Fahri lagi.
"Gue pernah lihat," sahut Citra yang membuat Fahri terkejut. "Lo lihat dimana? Cepet kasih tau gue!" titah
Fahri.
"Lah tadi kan lo kasih lihat tuh foto," sahut Citra santai.
"Sialan lo! Gue pikir lo beneran pernah lihat," sahut Fahri kesal.
"Gue gak tau," sahut Citra berbohong.
Kini Fahri beralih ke meja yang berada dibelakang Citra, tempat dimana Dina dan Sella duduk.
"Hai Din, Sell?" Sapa Justin basa basi.
"Kalian tahu cewek yang ada difoto ini nggak? Dia sekarang seumuran sama kita, ini foto waktu dia masih kecil," ucap Fahri menjelaskan.
"Gue ngerasa kek pernah liat ni anak, tapi dimana ya?" ujar Dina.
"Sama Din, aku juga ngerasa gitu," timpal Sella.
"Dia temen kecil siapa?" tanya Dina penasaran.
"D-dia temen kecil gue, iya teman kecil gue" sahut Justin sedikit gugup
"Terus cowok yang mukanya diselotip ini itu lo?" tanya Dina lagi.
"Eh, iya," sahut Justin berbohong.
"Buka dong selotipnya, gue pengen lihat muka lo waktu kecil," pinta Dina namun tak mendapat persetujuan dari Justin.
"Eh, gak boleh!" ucap Justin yang langsung merebut foto itu dari tangan Dina.
"Pelit lo!" ejek Dina.
"Eh, Galen mana? Kok nggak ikut sama kalian?" tanya Sella.
"Dia sibuk ada rapat OSIS. Katanya mau bahas buat acara akhir semester," sahut Fahri.
"Wah, seru tuh. Emang mau ada acara apaan?" tanya Dina antusias.
"Itu masih rahasia katanya, kita aja gak tahu," sahut Justin.
"Ya udah, kita balik ke kelas ya," pamit Justin.
"Eh, itu Vio sama si anak baru belum kita tanyain Jus," ucap Fahri menunjuk Vio dan Daffa.
...****************...
"Gimana hasilnya?" Tanya Galen pada Fahri dan Justin.
"Mereka gak ada yang tahu Gal," sahut Justin. "Dia bukan murid sini kali Gal," tebak Fahri.
"Tapi gue ngerasa kalo dia ada di dekat gue," ujar Galen.
"Kalian udah nanya ke semuanya kan?" tanya Galen serius.
"Udah kok, kecuali anak OSIS yang tadi rapat bareng lo, terus Vio sama Daffa," jawab Fahri sejujurnya.
"Kenapa mereka gak kalian tanya?"
"Anak OSIS kan emang bareng lo dari tadi, tapi kalo Vio sama Daffa lagi tidur," sahut Justin menjelaskan.
"Kenapa nggak kalian bangunin aja?" tanya Galen kesal. "Kita masih mau selamat kali, ya kali kita bangunin dua macam yang lagi tidur, bisa-bisa kita bisa habis ditangan mereka," ujar Fahri.
"Nah betul tuh, gue sepemikiran sama Fahri," timpal Justin.
"Cih, gitu aja takut," ucap Galen dengan nada mengejek.
"Ya udah sana masuk, gue mau patroli, siapa tau ada Galen yang yang bolos atau buat masalah," ujar kemudian pergi meninggalkan Fahri dan Justin begitu saja.
...****************...
"Daffa, Vio!" panggil Pak Dio dengan nada tegas.
"Vi, bangun! Lo dipanggil" lirih Sella.
"Daff, bangun woy!" Lirih Dina.
"Duh gawat nih," gumam Dina saatelihat Pak Dio mendekat.
Brakkk!
Pak Dio menggebrak meja yang Daffa dan Vio tempati, hal itu sontak membuat kedua remaja yang tengah tertidur pulas itu kaget dan langsung membuka matanya.
"Kalian berdua kenapa tidur hah? Saya baru saja masuk kelas, kenapa kalian nggak bangun? Kalau mau tidur itu di rumah, bukan di sekolah. Sekolah itu tempat untuk menuntut ilmu dan belajar, kalau rumah itu tempat istirahat," ucap Pak Dio panjang lebar.
"Sekarang mana tugas PR kalian?" tanya Pak Dio yang membuat Vio dan Daffa menyerahkan buku PR mereka ke Pak Dio.
"Kalian juga belum mengerjakan PR? Kalian ini niat sekolah apa tidak hah?" bentak Pak Dio.
"Saya bisa kerjain tugas ini sekarang," sahut Vio.
"Saya juga bisa Pak," timpal Daffa.
"Ini itu PR, pekerjaan rumah, bukan pekerjaan sekolah," ujar Pak Dio.
"Bapak tadi bilang jika sekolah itu tempat buat menuntut ilmu dan belajar, sedangkan rumah itu tempat buat istirahat, jadi saya mau mengerjakan tugas ini disini dan Bapak tidak berhak buat ngatur saya, karena rumah memang tempat buat istirahat bukan buat mengerjakan tugas. Begitu kan maksud kata-kata Bapak sebelumnya?" ujar Vio panjang lebar yang membuat seisi kelas melongo.
"Maksud Bapak bukan begitu Vio," sahut Pak Dio kesal.
"Yang Vio ucapkan itu memang benar Pak, Bapak sendiri yang bilang begitu sebelumnya kan?" ujar Daffa.
"Nah,betul tuh "ujar salah satu cowok.
"Saya juga setuju Pak," ujar salah satu cewek.
"Betul tuh, kan tadi emang kata Pak Dio kek gitu, berarti omongan Vio bener," sahut yang lainnya.
"Saya setuju sama ucapan Vio Pak, kan tadi emang Bapak yang bilang begitu," celetuk Dina antusias.
"Sudah-sudah, jangan ribut kalian,"
"Kalian berdua akan saya hukum karena telah membuat masalah, Daffa, kamu bersihin perpus, sedangkan kamu Vio, Karena kamu sudah berani membantah saya, kamu saya hukum beresin gudang sampai bersih!" perintah Pak Dio.
"Kalau sudah selesai, kalian langsung balik ke kelas, jangan bolos, apalagi kabur! Saya akan suruh seseorang buat awasin kalian berdua," ujar Pak Dio panjang lebar.
"Tunggu apa lagi? Cepat kalian kerjakan hukuman kalian," ucap Pak Dio yang membuat Daffa dan Vio langsung keluar kelas tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Jika kalian tidak ingin seperti mereka, maka jadilah murid yang baik dan jangan membantah guru, mengerti?" ujar Pak Dio.
"Baik Pak," sahut mereka serempak