
Disisi lain, ketiga cowok tengah berada dibawah rumah pohon, seraya mengamati keadaan sekitar.
"Gimana gue bisa temuin dia, nggak ada tanda apapun disini," ujar Galen putus asa seraya duduk bersandar dibawah pohon seraya menunduk.
"Lihat noh sahabat lo," ucap Justin memberitahu Fahri.
"Njir, Galen udah kek orang patah hati aja," sahut Fahri.
"Betul tuh, padahal waktu putus sama Sella, dia biasa aja," ujar Justin.
"Gue denger nyet!" celetuk Galen yang membuat Fahri dan Justin berhenti membicarakannya.
"Siapa bilang lo budeg?" tanya Justin.
"Awas lo berdua, gue nggak akan kasih pinjem PS gue lagi," ancam Galen.
"Awas lo Gal, kita nggak bantuin buat cari Letta lagi," ancam balik Justin.
"Nah bener tuh," timpal Fahri menyetujui ucapan Justin.
"Lo berdua ngancem gue?"
"Emang kalian berdua berhasil nemuin Letta? Nggak kan?" sambung Galen.
"Santai dong Gal," pinta Fahri. "Becanda elah," timpal Justin.
"Eh Pak, Pak," ucap Justin menghentikan seorang pria paruh baya yang tengah mendorong gerobak berisi sampah.
Galen hanya diam mengamati ulah kedua sahabatnya yang menghentikan seseorang itu, ia berpikir pasti kedua sahabatnya akan membuat masalah.
"Ada apa ya? Ada orang itu ramah. yang bisa saya bantu?" tanya
"Maaf ya Pak, apa Bapak tiap hari bawa sampah lewat sini?" tanya Justin.
"Nggak tiap hari sih, paling seminggu tiga atau empat kali," jawab orang itu lagi.
"Maaf, kira-kira sejak kapan Bapak bekerja seperti ini?" tanya Fahri.
"Kira-kira sudah satu tahun lebih. Memangnya teh kenapa?"
"Nggak papa Pak, cuma nanya buat tugas sekolah," bohong Justin.
"Berarti Bapak tahu siapa saja yang datang ke rumah pohon ini?" tanya Fahri.
"Waktu itu saya lihat kalian kesini kan?" sahut
orang itu. "Maksud kami, orang lain misalnya pak?" ralat
Fahri.
"Tempat ini sepi, kayaknya jarang ada yang tahu tempat ini deh,"
"Tapi saya sering lihat cewek disekitar sini, kadang juga dia duduk diatas rumah pohon itu," ucap tukang sampah itu seraya menunjuk kearah rumah pohon.
Galen yang mendengar itu segera membuka matanya dan mengangkat kepalanya seraya menghampiri mereka.
"Bapak beneran lihat dia?" tanya Galen antusias.
"Maksud saya, Bapak beneran sering lihat cewek disini?" ralat Galen.
"Iya beneran,"
"Bapak tau nggak mukanya gimana?" tanya Justin.
"Mukanya saya kurang paham, tapi saya bisa sebutin ciri-cirinya.
"Gimana ciri-cirinya Pak?" tanya Fahri.
"Dia tinggi, putih, mukanya bulat hidungnya mancung, rambutnya panjang-"
"Kuntilanak pasti tuh," celetuk Justin
memotong ucapan pria paruh baya tersebut, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Galen.
"S-sorry, lanjutin Pak!" ucap Justin cengengesan.
"Dia sering kesini, bahkan setiap saya lewat, kalo dia disini pasti dia selalu senyum ke saya dari atas rumah pohon itu, meskipun dia tidak pernah menyapa, tapi saya yakin, dia orang baik,"
"Apa cewek yang Bapak lihat ini orangnya?" tanya Galen seraya menunjukkan sebuah foto.
"Mukanya sedikit beda, tapi dilihat dari senyumnya emang sama, dia orangnya."
"Apa Bapak bisa jelasin mukanya secara detail?" tanya Justin.
"Saya kurang paham, tapi saya inget, dia juga sering kesini pake seragam yang sama kayak kalian,"
"Makasih Pak atas infonya, nih ada sedikit rejeki buat Bapak," ujar Galen seraya menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu ke orang itu.
"Tapi-"
"Nggak papa Pak, ambil aja, kita ikhlas kok," ujar Justin.
"Itung-itung karena kita udah kerja Bapak," timpal Justin. ganggu waktu
"Udah gue duga, dia emang ada dideket gue," gumam Galen.
...****************...
"Gue udah bilang nggak sengaja, kenapa lo siram gue?" kesal Sella saat dirinya sudah basah kuyup.
"Lo pikir gue peduli? Lo juga udah buat sepatu gue kotor," ujar gadis itu.
"Minggir!" titah gadis itu seraya berjalan meninggalkan Sella, diikuti oleh sahabatnya, tak lupa ia juga menabrak bahu Sella karena kesal.
"****! Padahal gue kesini niatnya mau mata-matain Vio sama Daffa, kenapa jadi gini," gumam Sella seraya menatap seragamnya yang sudah basah.
"Kenapa?" tanya Vio yang membuat Sella terkejut karena kini Daffa dan Vio sudah berada dihadapannya.
"Apa mereka denger apa yang tadi gue omongin?" batin Sella.
Sella terlihat gugup karena takut jika Daffa dan Vio mendengar apa yang baru saja ia bicarakan.
"Kenapa?" tanya Vio lagi.
"Eh, G-gue nggak papa," sahut Sella setelah tersadar dari pikirannya.
"Gue tadi nggak sengaja nabrak orang," ujar Sella.
"Anterin Daf!" titah Vio yang membuat Daffa terkejut mendengarnya.
Sebenarnya Vio tidak tega melihat kondisi Sella yang basah, terlebih lagi kini seragamnya terlihat transparan, jadi terpaksa ia meminta Daffa untuk mengantar gadis itu.
"Gue?" tanya Daffa menunjuk dirinya sendiri, sedangkan Vio hanya menganggukkan kepalanya.
"Ogah!"
"Daff-"
"Kalo gue nganterin cewek gila ini, lo gimana coba?" tanya Daffa memotong ucapan Vio.
"Gue bisa pulang sendiri," sahut Vio.
"Dia juga bisa pulang sendiri," ketus Daffa.
"Lo nggak mau anterin gue?" tanya Sella seraya memasang wajah memelas.
"Emang enggak," sahut Daffa.
"Oke kalo lo nggak mau, tapi-"
"Gue anterin," ujar Daffa yang membuat Sella tersenyum kearahnya.
"Lo mau nunggu gue disini? Atau langsung balik?" tanya Daffa pada Vio.
"Gue langsung balik aja," sahut Vio.
"Gue tungguin sampe lo dapet taksi ya," ucap Daffa.
"Nggak usah Daff, lo anterin Sella aja, kasihan seragamnya basah,"
"Nanti juga kering sendiri," sahut Daffa sinis.
"Cepet Daf! Gue malu dilihatin banyak orang," ujar Sella.
"Daff," kali ini Vio yang memanggil Daffa.
"Gue duluan, nanti kalo ada apa-apa hubungi gue aja," pamit Daffa seraya mengelus-elus pucuk kepala Vio.
"Cepet elah, lelet amat jalannya!" sindir Daffa. Daffa dan Sella meninggalkan Kafe lebih dulu.
Vio keluar dari Kafe seraya menatap jalanan yang nampak tak begitu ramai, bahkan ia sudah berdiri selama beberapa menit, namun belum juga ada taksi yang lewat.
Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan selama beberapa saat.
Tin tin!
Suara klakson mobil membuatnya berjalan lebih menepi.
Tin tin tin!
Bahkan saat kini ia sudah berjalan di tepian, mobil itu masih terus membunyikan klakson, sehingga membuat Vio berhenti melangkah dan menatap kebelakang.
Kaca mobil tersebut diturunkan, menampilkan Justin yang berada dikursi samping pengemudi, dengan Fahri yang bertugas menyetir.
"Lo jalan kaki Vi?" tanya Justin hati-hati dan dibalas anggukan kepala oleh Vio.
"Bukannya lo pulang bareng Daffa?" tanya Fahri, namun Vio hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Yaudah, lo ikut kita aja," ajak Justin dan diangguki oleh Fahri.
Gadis itu membuka pintu belakang mobil, dan langsung mendudukkan dirinya disana, namun ternyata disana juga ada Galen yang tengah menutup matanya seraya mendengarkan musik melalui earphone.
Sepertinya cowok itu tengah tertidur, sehingga tidak menyadari kehadiran Vio sama sekali.