Violetta

Violetta
Bab 38



"Thanks ya Daff, udah nganterin gue," ucap Sella saat mereka sudah sampai didepan rumah Sella.


"Inget, gue cuma terpaksa nganterin lo!" ujar Daffa sinis.


"Tapi-"


"Udahlah Sell, gue muak lihat muka lo. Pantes aja Galen mutusin lo," ejek Daffa.


"Galen mutusin gue itu karena Vio selalu godain Galen," ujar Sella.


"Nggak usah sok polos depan gue! Gue tahu, lo pasti sengaja ngikutin gue sama Vio kan? Makannya lo bisa ada di kafe itu," sambung Daffa seraya tersenyum remeh.


"Gue nggak ngikutin lo," elak Sella.


"Kenapa sih, semua orang belain Vio? Kenapa semuanya suka sama Vio? Gue kurang apa sampe Galen juga putusin gue karena cewek sialan itu?" bentak Sella dengan suara tinggi yang sudah emosi.


"Lo kurang otak! Makannya lo bego, sampe nggak bisa bersikap baik sama sahabat sendiri!"


"Dan ya, lo itu munafik!" sambung Daffa tanpa ragu.


"Di depan Vio, lo seolah-olah gadis baik, yang selalu jadi korban, padahal disini lo itu


pelaku, dan Vio korbannya," ujar Daffa yang membuat Sella terdiam.


"Sampe kapan lo akan benci Vio hah? Dia bahkan masih mau nolongin lo,"


"Gue nggak akan pernah mau baik sama dia lagi!"


"Setidaknya, lo tunjukkin tuh muka asli lo! Enek gue lihat muka sok polos lo!" ujar Daffa yang kemudian berniat melajukan motornya.


"Lo harus inget perjanjian itu Daff!" ucap Sella yang membuat Daffa diam selama beberapa detik.


"Sampai kapanpun, gue nggak akan terima itu!" sahut Daffa yang langsung mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi.


"Gue akan rebut Daffa dari lo, Vio! Itu janji gue! Gue nggak akan biarin lo bahagia! Gue nggak akan biarin Galen ataupun Daffa sama lo, gue nggak akan biarin itu!" batin Sella seraya mengepalkan kedua tangannya.


...****************...


Hanya suara musik yang terdengar menyelimuti perjalanan keempat remaja itu, karena sedari tadi tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka sama sekali.


Fahri dan Justin merasa canggung untuk mengajak bicara Vio, karena sebelumnya mereka tidak pernah mengobrol untuk hal pribadi dengan gadis itu.


Kedua cowok itu berharap Galen akan bangun dari tidurnya dan membuat suasana sedikit cair.


Vio memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya, namun sepertinya musik yang diputar didalam mobil tersebut membuatnya merasa mengantuk, sehingga tanpa sadar ia sudah ikut terlelap bersama Galen, dikursi penumpang bagian belakang.


"Vi-" ucapan Justin terhenti kala menatap kebelakang dan mendapati Galen dan Vio yang sudah tertidur.


Bahkan saat ini kepala Vio sudah bersandar dipundak Galen. Hal itupun membuat Justin tersenyum melihatnya.


"Gila lo senyum-senyum sendiri?" tanya Fahri.


"Lihat noh!" titah Justin seraya menunjuk kebelakang dengan dagunya.


Fahri menatap kebelakang sekilas, kemudian kembali menatap kedepan dan sesekali menatap kebelakang lewat kaca spion yang berada di dalam mobil.


"So sweet banget, gue jadi iri," gumam Fahri.


"Makannya cari pacar, biar nggak jomblo mulu!" ejek Justin.


"Kayaknya lo harus ngaca dulu deh Jus!" titah Fahri.


"Gue tahu gue ganteng, nggak ngaca juga gue tahu,"


"Bego! Maksud gue, sadar diri woy! Lo juga jomblo!" sahut Fahri.


"Siapa bilang?"


"Lah gue barusan bilang,"


"Gue jomblo, lo jomblo, gimana kalo kita-"


"Najis! Amit-amit deh Jus, gue gini-gini juga masih normal kali," ujar Fahri memotong ucapan Justin.


"Idih, apaan sih? Maksud gue itu, gue jomblo, lo jomblo, gimana kalo kita cari pacar?" ujar Justin.


"Lo sih ngomongnya setengah-setengah," protes Fahri.


"Lo yang motong ucapan gue," sahut Justin. "Udahlah, buruan turun, udah nyampe," ujar Fahri.


"Nyampe rumah Galen bego!" sahut Fahri kesal.


Fahri dan Justin melepas sabuk pengaman mereka, kemudian turun dari mobil Galen, meninggalkan cowok itu dan juga Vio yang masih tertidur.


"Assalamualaikum, Bunda!"


"Justin yang tampan datang!"


"Najis!" ejek Fahri.


Fahri dan Justin memang sudah dekat dengan keluarga Galen, bahkan mereka sudah sangat akrab.


"Kalian udah pulang?" tanya saja datang dari arah dapur. Sari yang baru


"Loh, Gala mana?" tanya Sari saat menyadari


anaknya tidak bersama dengan mereka.


"Tidur Bun, di mobil," ujar Fahri apa adanya.


"Kenapa nggak dibangunin? Biar pindah tidur dikamar," tanya Sari lagi.


"Gimana kita mau bangunin? Nih Bunda lihat sendiri!" titah Justin seraya menunjukkan foto Galen dan Vio yang sudah ia ambil menggunakan ponselnya.


"Astaghfirullah,"


"Ini beneran?" tanya Sari memastikan, dan dibalas anggukan oleh Fahri dan Justin.


"Yaudah, biarin aja. Mending kita makan yuk! Bunda udah masak banyak loh, soalnya tadi pagi Gala udah bilang kalo kalian mau kesini," ujar Sari seraya berjalan menuju ruang makan diikuti oleh Fahri dan Justin.


"Asyik, makan sepuasnya!" girang Justin.


"Mereka gimana Bun?" tanya Fahri.


"Nanti juga bangun sendiri, Gala itu nggak bisa tidur lama-lama kalo nggak di kasur," ujar Sari.


Dan benar saja saat ini Galen perlahan membuka matanya. Pundaknya terasa berat dari biasanya, hingga membuat ia menoleh kesamping dan betapa terkejutnya ia mendapati Vio yang tengah tertidur pulas dipundaknya.


"Eh buset!" Galen terkejut, hingga tak sengaja bergeser duduknya, hingga membuat kepala Vio terlepas dari pundaknya dan terbentur.


"Awh," Vio perlahan membuka matanya dan memegangi keningnya yang sedikit merasa sakit.


"Sorry, gue nggak sengaja," ucap Galen gugup.


"Kok lo bisa disini sih?" tanya Galen, namun Vio hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Jus-"


"Sialan, mereka kemana?" tanya Galen


Galen berniat keluar dari mobil, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Vio, hal itu membuat Galen menatap kearah Vio seraya menaikkan alisnya.


"Gue mau pulang," ujar Vio lirih.


"Nanti juga gue anterin pulang, lagian salah siapa lo ikut mobil gue," sahut Galen.


"Gue laper, mau makan. Buruan turun!" ujar Galen yang diikuti oleh Vio.


Mereka masuk kerumah Galen dengan Vio yang berjalan dibelakang cowok itu.


"Ekhem," Galen berdehem hingga membuat semua yang berada diruang makan menatap kearahnya.


"Eh, ada Vio? Sini makan bareng Vi, Bunda udah masak banyak nih," ajak Sari saat menyadari Vio masih berdiri dibelakang Galen.


"Makan Gal, nggak usah sungkan!"


"Sumpah masakan Bunda enak banget Gal,"


"Njir, kok gue berasa kek tamu di rumah sendiri," gumam Galen.


"Bunda tuh harusnya sapa Galen dulu, baru Vio," protes Galen.


"Lo berdua juga, udah kek tuan rumah aja. Harusnya itu gue yang ngomong gitu ke kalian!" ujar Galen.


"Sirik aje lu!"