
"Loh, Gala udah pulang?" tanya Sari saat menyadari putranya sudah berada diruang tengah.
"Kalo Gala belum pulang, terus yang disini siapa Bun? Hantu?" tanya Galen dengan nada lesu.
"Kamu kenapa murung gitu? Putus sama Sella?" tanya Sari disamping Galen. yang mendudukkan dirinya
"Tadi di sekolah Gala main basket sama Vio, terus Gala kalah," ucap Galen tak bersemangat.
"Loh, emang dari dulu juga kamu selalu kalah kan?" ucap Sari tanpa sadar Galen bingung. yang membuat
"Eh, maksud Bunda, dulu kamu juga kalo main sama temen kamu, kamu selalu kalah kan?" tanya ulang Sari.
"Ya beda Bun, dulu kan Letta yang selalu kalahin Gala, tapi sekarang Vio, cewek dingin yang super nyebelin," ucap Galen menjelaskan.
"Padahal mah mereka satu orang," batin Sari
"Gala jadi kangen sama Letta, Bunda tahu Letta sekarang dimana?" tanya Galen.
"Tau dong," jawab Sari tanpa sadar.
"Loh Bunda tau? Kok Gala gak dikasih tau si?" protes Galen kesal.
"Eh, Bunda keceplosan," gumam Sari.
"Letta sekarang dimana Bun? Ayo dong kasih tahu Gala," pinta Galen merengek.
"Kalo kamu ketemu Letta, emang kamu mau ngapain hah?" tanya Sari.
"Ya gak tahu, tapikan Gala kangen banget sama Letta Bun, cepetan Bun, kasih tahu Gala, Gala udah gak sabar mau ketemu Letta,"
"Dia nggak mau ketemu sama kamu, dulu kan
kamu suka ngambil mainan barbienya,"
"Barbie punya Letta masih Gala simpan semuanya kok, bahkan masih bagus semuanya," ujar Galen menjelaskan.
"Masa sih? Bunda gak percaya," goda Sari.
Sebenarnya Sari sudah tahu jika Galen masih menyimpan boneka Barbie milik Vio, bahkan Galen memajangnya di rak yang berada di sudut kamarnya.
Bahkan Sari terkejut saat pertama kali melihat banyak boneka Barbie di kamar anaknya, ia pikir anaknya menyukai Barbie, tapi setelah menyadari disana banyak foto Galen dan Vio saat masih kecil, ia baru sadar jika boneka Barbie yang ada dikamar Galen adalah milik Vio.
Galen memang selalu melarang siapapun masuk ke kamarnya, karena ia tidak ingin ada yang mengetahui tentang hal itu, namun saat itu Sari diam-diam masuk ke kamar Galen, dan mengetahui semuanya.
"Beneran Bun, kalo Gala ketemu Letta, pasti Gala balikin bonekanya kok," ucap Galen.
"Bunda nggak tau Letta tinggal dimana,Bunda cuma pernah ketemu Letta aja," ujar Sari menjelaskan.
"Bunda mau ke dapur dulu, jangan gangguin Bunda!" ucap Sari yang langsung pergi meninggalkan Galen yang masih kesal, karena ia takut anaknya akan menanyakan lebih jauh tentang Vio.
Seketika pikiran Galen tertuju pada perkataan Dina siang tadi. Ia masih memikirkan ucapan Dina yang membuatnya bimbang akan perasaannya terhadap Sella.
"Kita itu harus pastiin dulu, perasaan yang kita miliki itu rasa suka atau obsesi, atau bahkan sekedar rasa kagum. Gue nggak mau nanti kalo udah pacaran, ternyata perasaan gue salah,"
"Dina sialan!" umpat Galen.
...****************...
Saat ini Vio tengah berada di mobil bersama dengan Daffa dan juga Vian. Vian memang sengaja mengantarkan Vio pulang, karena takut terjadi sesuatu dengan adiknya itu.
"Gue denger-denger, lo menang basket lawan Galen?" tanya Vian melirik Vio sekilas.
"Hebat juga lo, kapan-kapan tanding bareng gue, gue yakin lo bakalan kalah kalo lawan gue," ucap Vian menyombongkan diri.
"Bukannya lo jago main sepak bola ya?" ujar Daffa.
"Main basket gue juga bisa kali," sahut Vian.
"Halah, dulu aja lo gak pernah bisa masukin bola ke ring," ujar Daffa.
"Itu kan dulu, sekarang mah gue udah pro," ucap Vian sombong.
"Serah lo dah," sahut Daffa.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Vio. Vio langsung turun dan masuk kerumahnya setelah mengucapkan terima kasih.
Ia berjalan melewati ruang tengah yang ternyata sudah ada Fajar dan Lia yang tengah duduk bersampingan. Vio bahkan pura-pura tidak melihat mereka dan melanjutkan langkahnya, sebelum akhirnya suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Vio, kita perlu bicara sama kamu," ucap Lia saat menyadari Vio baru saja pulang dari sekolah.
Vio hanya diam menunggu apa yang akan orang itu katakan ke Vio.
"Saya mau kamu tandatangani ini," ucap menyerahkan kertas dokumen. Lia
"Surat pemindahan harta warisan," batin Vio membaca surat itu.
"Vio, kamu kan tahu almarhum Ibu kamu mewariskan semua hartanya, bahkan perusahaannya ke kamu. Jadi saya harap kamu mau tandatangani surat ini," ujar Fajar.
"Saya kan suaminya, jadi saya juga berhak dapat warisan itu," sambung Fajar.
Vio menatap surat itu yang kini telah berada ditangannya, ia melemparkan surat-surat itu ke arah Fajar dan Lia, bahkan tepat mendarat tepat diwajah mereka.
"Kalian pikir saya bodoh hah? Ibu saya capek-capek kerja buat bangun perusahaan itu, sedangkan kalian sibuk selingkuh. Terus sekarang kalian mau menikmati hasilnya hah? Cih, jangan mimpi!" ucap Vio dengan lantang.
Pernyataan Vio sontak membuat Fajar dan Lia naik pitam. Mereka sangat kesal dengan kelakuan Vio. Lia langsung menjambak rambut Vio, sehingga Vio mendongak ke atas seraya memegangi kepalanya.
Tak sampai disitu, Fajar mengambil sapu dan memukuli Vio dengan kasar, Lia bahkan sudah menampar wajah Vio beberapa kali.
Pyarrr!
Lia membanting vas bunga yang berada di ruangan tersebut. Ia mengambil pecahan vas itu dan menodongnya tepat di depan wajah Vio.
"Cepat tandatangani surat itu, atau kamu tahu sendiri akibatnya!" ucap Lia mengancam Vio.
"Cepat Vio!" bentak Fajar.
"Sekalipun saya mati, kalian gak akan dapetin harta itu sepesiarpun! Justru harta itu akan disumbangin sepenuhnya ke panti asuhan!" ucap Vio penuh penekanan dan tersenyum miring.
Sementara disisi lain Daffa dan Vian masih menunggu di mobil. Ia harus memastikan Vio baik-baik saja di rumah itu, karena Vian tidak ingin mereka menyakiti Vio.
"Kenapa kita gak langsung cabut?" tanya Daffa bingung.
"Kita tunggu sepuluh menit, kalau semuanya aman, kita langsung balik," sahut Vian yang membuat Daffa bingung.
Pyarrr!
Terdengar suara pecahan dari dalam rumah tersebut. Setelah mendengar itu, Vian bergegas masuk ke rumah Vio dan diikuti oleh Daffa dibelakangnya yang masih bingung.
"Kek ada suara benda pecah," gumam Daffa.