Violetta

Violetta
Bab 13



"Vi, bangun," ucap Sella berusaha membangunkan Vio, namun Vio masih tertidur.


"Biar gue yang bangunin," ucap Dina seraya tersenyum miring.


"Violetta, bangun Woy! Bangun, bangun, kebakaran!" teriak Dina dengan kencang, sehingga berhasil membuat Vio terbangun, bahkan anak-anak lainnya sampai menutup telinga mereka karena kelakuan Dina.


"Berisik Din, kita jadi nggak konsen gara-gara suara lo!" tegur salah satu gadis yang sedang bergerombol mengerjakan tugas bersama dengan sahabatnya.


"Tau tuh, ganggu aja," sahut yang lainnya.


"Hehehe, sorry guys. Gue harus bangunin macan tidur dulu," ucap Dina cengengesan.


Vio terbangun dari tidurnya, ia menatap Dina dan Sella yang juga tengah menatapnya, kemudian Vio menaikkan kedua alisnya seolah bertanya 'kenapa?'.


"Pak Botak lagi rapat, kita disuruh ngerjain tugas halaman 36-40. Kalo lo nggak ngerjain, lo tau sendiri kan konsekuensinya," ucap Dina menjelaskan panjang kali lebar.


"Maaf ya Vi, Dina udah ngagetin kamu," lirih Sella.


Vio hanya menganggukkan kepalanya, ia beralih menatap kesamping saat tatapannya bertepatan dengan netra abu-abu milik seorang cowok yang berada di kursi sebelahnya.


Ia bahkan baru menyadari jika disebelahnya ada seseorang. Vio melempar tatapan tajam ke arah cowok itu, kemudian ia kembali menatap kedua sahabatnya.


"Dia Daffa Vi, anak baru di kelas kita," ucap Dina yang seolah mengerti pikiran Vio.


"Gue Daffa Axelio," Daffa mengulurkan tangannya kearah Vio,namun tak mendapat balasan uluran tangan dari Vio.


"Violetta," jawab Vio singkat tanpa menatap Daffa.


"Sorry ya Daf, sahabat kita yang satu ini emang gitu sikapnya," ujar Dina.


"Its okay!" sahut Daffa.


Vio mengeluarkan buku dari dalam tasnya, ia mengerjakan tugasnya dengan tenang tanpa menatap cowok yang berada disebelahnya yang terus menatapnya.


Hanya perlu waktu beberapa menit, Vio sudah selesai mengerjakan 50 soal. Ia beralih menatap cowok yang berada disampingnya. Vio merasa risih karena sedari tadi selalu ditatap oleh cowok itu.


"Apa?" Vio bertanya dengan nada datarnya.


"Gue belum ada bukunya," sahut Daffa.


Vio langsung memberikan buku miliknya kearah Daffa tanpa mengatakan apapun.


Ia meletakkan kepalanya dimeja, menatap cowok yang berada disampingnya yang tengah fokus mengerjakan tugas.


...****************...


Bel istirahat sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, namun Vio masih tertidur sejak tadi, ia bahkan tertidur menghadap kearah Daffa, kedua sahabatnya bahkan sudah pergi ke kantin duluan, karena Vio sulit untuk dibangunkan.


Sementara di kelas hanya ada Daffa dan Vio, karena sebagian murid sudah berada di kantin. Daffa terus memperhatikan wajah gadis itu, sampai ia tak sadar ada seseorang yang memasuki kelas mereka.


Vian berjalan kearah Vio yang tengah tertidur pulas di kelasnya, ia menghampiri meja yang Vio tempati.


"Letta, bangun," ucap Vian seraya mengelus-elus pucuk kepala Vio.


"Vio yang merasa terganggu dengan sentuhan di kepalanya, ia terbangun dari tidurnya menatap datar Vian yang kini tengah tersenyum kearahnya.


"Lo Viandra kan?" celetuk Daffa yang sedari tadi menatap Vian.


"Lo siapa?" tanya Vian datar.


"Gue Daffa, Daffa Axelio," sahut Daffa semangat.


Vian menatap cowok itu dari atas sampai kebawah, wajahnya memang mirip seperti seseorang yang ia kenali, juga gayanya yang tengil dan sombong mengingatkan Vian pada teman masa kecilnya yang selalu membuat onar.


"Gue baik," sahut Daffa seraya tersenyum lebar.


"Kenalin nih Daf, ini Violetta Adara La Lubis," ucap Vian memperkenalkan Vio


"Udah kenal," sahut Daffa.


"Cewek dingin yang super nyebelin kan?" sambung Daffa.


"Dia adek kesayangan gue," sambung Vian.


"Adik lo?" tanya Daffa mengerutkan keningnya.


"Gue pikir pacar lo," sambung Daffa.


"Adik tiri bro, tapi cuma lo yang gue kasih tahu, awas aja kalo lo sampe ember!" ujar Vian.


"Tapi gue setuju sama lo, kalo dia emang dingin dan nyebelin, " sambung Vian seraya tersenyum kearah Daffa.


"Gue denger!" celetuk Vio yang membuat Daffa dan Vian saling bertatapan.


"Eh, kantin yuk, biar gue yang traktir kalian," ajak Vian mengalihkan pembicaraan.


Mereka bertiga berjalan bersama menuju ke kantin, dengan Vio yang berada ditengah. Banyak pasang mata yang menatap kearah mereka.


Bahkan banyak yang mempertanyakan tentang kedekatan mereka bertiga, namun tidak ada yang menggubris celotehan itu.


Sesampainya di kantin, seperti biasa Vio disuguhi dengan pemandangan kemesraan dua remaja yang tengah makan bersama dan saling suap-suapan.


"Vio, sini gabung!" pinta Sella menatap kearah Vio.


"Sini Vi," titah Dina.


"Gue bareng mereka," sahut Vio menunjuk kearah Daffa dan Vian yang sudah duduk di meja yang bersebelahan dengan mereka.


"Kok gue ngerasa Vio jadi lebih deket sama mereka daripada sama kita ya," lirih Dina.


"Gak papa Din, semua orang kan punya kehidupan masing-masing," sahut Sella.


"Jadi dia anak baru yang yang jadi bahan gosip ciwi-ciwi?" tanya Justin menatap Daffa.


"Emang kenapa?" tanya Dina.


"Kelas gue heboh gara-gara dia. Semua cewek-cewek pada gosipin dia, sakit kuping gue dengernya," ujar Justin kesal.


"Bilang aja lo iri," ejek Dina.


"Nah bener tuh Din, si Justin tuh iri sama dia, apalagi Justin sampe dikatain buluk sama Lia," ujar Fahri.


"Tapi emang beneran buluk kan?" ucap Dina dengan entengnya.


Seketika tawa mereka pecah saat mendengar penuturan dari Dina, gadis itu bahkan sama seperti Lia.


"Orang ganteng kayak gini malah lo bilang buluk, mata kalian rabun kali," ucap Justin kesal.


Tanpa mereka sadari, seorang gadis tengah menatap datar mereka dari meja seberang. Tatapannya tertuju pada Galen dan Sella yang tengah tertawa bahagia.


Ia tidak tahu sampai kapan ia harus menghindar dari mereka. Hanya saja saat Vio bersama dengan kedua sahabatnya, otomatis ia juga akan lebih dekat dengan Galen, ia hanya tidak ingin terus menerus melihat kemesraan dua sejoli itu, namun ia juga tidak bisa menghindari kedua sahabatnya.


Ia hanya takut jika suatu saat perasaannya tidak bisa ditahan lagi, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia juga tidak ingin merusak hubungan orang lain, terlebih lagi sahabatnya.