
...Best Friend Forever...
DinaAulia " Guys gw mau nanya, besok ada pr gak ya?"
Sella Wijaya "Gak ada Din"
DinaAulia "Yes, bisa maraton drakor nih gue"
Sella_Wijaya "Jangan begadang Din, lo jg hrus blajar. Bsok ulangan matematika"
DinaAulia "Serius Sel? Kok gw gak inget y kalo
besok ada ulangan matematika? Yah, gagal
maraton drakor dong.."
Violetta "Mampus!"
Sella_Wijaya "Vi, besok berangkat bareng ya, nanti gw suruh Galen jemput lo dulu. @Violetta"
Violetta "Hm.."
DinaAulia " Vi, besok pas ulangan, gw nyontek lo ya.."
Violetta " Hm"
Sella Wijaya "Gak boleh gitu Din, lo harus belajar sendiri!"
DinaAulia " Baik Ibunda, tuan putri yang cantik jelita ini akan belajar dengan sungguh-sungguh"
Violetta " Jijik"
Sella Wijaya "2in"
DinaAulia "Jahat kalian!"
Vio hanya tersenyum simpul menatap ponselnya yang masih menampilkan isi chat nya dengan kedua sahabatnya, kemudian ia mematikan ponselnnya dan memegangi pipinya yang masih sedikit sakit karena tamparan Ayahnya.
"Letta kangen Bun" lirih Vio menatap foto Ibunya yang ia ambil dari bawah bantalnya.
"Hari ini, orang yang Letta suka udah jadian sama sahabat Letta sendiri Bun, hiks. Letta seneng liat mereka bahagia, terutama Sella hiks hiks. Tapi Letta juga gak bisa bohongin perasaan Letta sendiri hiks. Disisi lain Letta juga sakit Bun hiks, hati Letta hancur tiap kali liat mereka, hiks," Vio menghapus kasar air matanya. Ia terus saja menatap foto Ibunya yang tengah tersenyum lebar sampai ia tertidur.
...----------------...
Sedangkan di tempat lain, seorang cowok tengah berbaring menatap langit-langit kamarnya, namun pikirannya tertuju pada gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
"****, kenapa gue jadi kepikiran dia," gumam Galen mengusap wajahnya kasar.
"Kata Dini, dia emang sikapnya gitu, tapi kenapa gue ngerasa dia kek sensi banget kalo sama gue ya," lirih Galen.
"Ah bodo amat lah, ngapain juga gue pikirin dia, pacar gue kan Sella," sambung Galen.
...****************...
Pagi ini Vio sudah lengkap dengan seragam sekolahnya, ia menatap dirinya di pantulan cermin besar yang ada di kamarnya. Pipinya masih sedikit memerah akibat tamparan dari Ayahnya kemarin, juga sudut bibirnya yang terdapat sedikit darah yang sudah mengering. Sesekali ia tersenyum miring menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
Vio memang tidak pernah mengobati lukanya, ia akan membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Baginya, luka yang ia dapat tidak sebanding dengan penderitaan yang sudah Ibunya rasakan.
Ia menuruni anak tangga satu persatu, terlihat dibawah sudah ada Ayah dan Ibu tirinya yang sudah siap untuk sarapan.
Vio mendudukkan dirinya pada salah satu kursi, dan langsung mengambil roti, kemudian mengolesinya dengan selai cokelat tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa kamu makan roti Vio? Bunda kamu sudah capek-capek masak nasi goreng buat kita," tegur Fajar.
"Bunda saya nggak bisa masak nasi goreng lagi, karena dia udah gak ada!" sahut Vio santai.
"Vio, bagaimanapun juga kamu harus menghargai Lia, karena sekarang dia sudah jadi Ibu kamu. Mau sampai kapan kamu akan membangkang hah?" omel Fajar menatap tajam Vio.
"Kamu gak kasian sama saya hah? Udah saya masakin capek-capek juga," ucap Lia kesal.
Pyarrr!
Seketika nasi goreng itu sudah berserakan di lantai, begitu juga dengan piringnya yang sudah pecah kemana-mana.
"Apa-apaan kamu ini Vio? Jangan kurang ajar!" bentak Fajar.
"Dasar anak tidak tahu diri," timpal Lia.
"Kalian mau saya mati karena makan makanan itu hah? Maaf kalau kalian lupa, tapi saya punya alergi udang!" ujar Vio yang kemudian meninggalkan meja makan dan berniat berangkat ke sekolah.
Tin tin!
Sebuah mobil terparkir didepan rumah milik Vio. Vio yang baru saja keluar dari rumahnya, ia langsung saja menghampiri mobil tersebut dan membuka pintunya, kemudian mendudukkan dirinya di kursi samping pengemudi.
"Sella udah bilang kan kalo gue bakal jemput lo dulu," tanya Galen memulai pembicaraan.
"Hm," Vio hanya menyahut dengan deheman.
"Pipi lo kenapa?" tanya Galen menatap pipi Vio yang sedikit memerah, namun Vio hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Lo ada masalah?" tanya Galen lagi.
"Gak," jawab Vio cuek.
"Terus pipi lo?"
"Bisa diem gak?" bentak Vio.
"Ya siapa tau gue bisa bantu, gue kan sekarang udah jadi pacar sahabat lo. Jadi, mungkin aja lo mau cerita sama gue," terang Galen.
Vio memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya kasar dan beralih menatap tajam Galen yang masih fokus menyetir.
"Apa? Bener kan apa yang gue bilang?" tanya Galen menatap Vio sekilas.
"Stop!" teriak Vio, yang membuat Galen terkejut sehingga ia menginjak rem secara mendadak.
"Kenapa lagi?" tanya Galen menatap tajam Vio.
Vio tidak menjawab pertanyaan Galen, ia bahkan langsung keluar dari mobil itu, dan menutup pintu mobilnya dengan keras seperti biasa.
Padahal jarak ke sekolah masih lumayan jauh, bahkan Galen belum sampai ke rumah Sella. Vio kesal setiap kali Galen selalu membicarakan hubungannya dengan Sella. Sudah cukup, sepertinya ia memang harus menghindari cowok itu.
"Gue salah apa?" tanya Galen pada dirinya sendiri seraya menatap kepergian Vio.
Setelah Vio pergi, Galen melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Sella. Beberapa menit kemudian akhirnya ia sudah sampai didepan rumah Sella. Disana terlihat Sella yang sudah berdiri didepan rumah.
Tin tin!
Galen membunyikan klakson, sehingga Sella langsung menghampiri mobil Galen.
"Udah lama nunggunya?" tanya Galen.
"Belum kok," sahut Sella tersenyum manis.
"Eh, Vio mana Gal? Kamu nggak jemput dia?" tanya Sella saat menyadari kursi belakang tidak ada yang menempati.
"Eh, anu- itu, tadi Vio marah," ucap Galen gugup.
"Loh marah kenapa?" Sella menyerngitkan alisnya pertanda bingung.
"Tadi aku terus nanya-nanya ke dia, eh dia malah minta diturunin ditengah jalan hehe, sorry ya," ucap Galen menjelaskan dengan sedikit cengengesan.
"Huft, gak papa Gal, Vio itu suka pergi gitu aja kalo ngerasa gak nyaman, mungkin aja dia gak nyaman kamu tanya-tanya terus," ujar Sella menghembuskan nafasnya pelan.
"Oh gitu ya? Sekali lagi maaf ya," ucap Galen yang masih menatap jalanan yang ada didepan.
"Lupain aja Gal, dia pasti nggak beneran marah kok," sahut Sella.