
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 35
Cedric membawa Allura dan kedua bayi itu bersama dengan dokter kandungan tadi. Mereka melarikan diri ke dalam lorong rahasia yang ada di dalam kastil. Sementara itu, Xavier dan Lukas menghadapi Zero dan beberapa anak buahnya yang sampai ke sana.
"Rupanya kita kedatangan tamu tak di undang," ucap Lukas saat melihat Zero dan Pierre membuka pintu gerbang.
Tanpa membuang-buang waktu, Xavier dan Lukas langsung menyerang mereka berdua. Tujuan utama mereka adalah menutup pintu gerbang agar tidak ada vampir yang masuk dan mengganggu mereka nanti.
Xavier menendang kuat tubuh Zero sampai terpental jauh dan menabrak patung. Dalam sekejap dia pun berhasil menutup pintu gerbang yang sangat besar dan berat itu.
Zero hanya tertawa melihat Xavier. Dia bisa mencium jelas wangi yang segar dan memabukkan dari tubuh Xavier.
"Darah siapakah yang wangi dan terasa lezat ini?" Zero mencoba memancing emosi Xavier.
Terlihat mata Xavier berubah menjadi merah. Lalu, dalam hitungan persekon detik, dia sudah berada di depan Zero dan melancarkan tusukan kuku tangannya yang sangat tajam. Meski Xavier tahu hal ini tidak akan bisa membunuh Zero. Setidaknya hal itu bisa membuatnya terluka dan kesakitan.
"Kau tidak akan bisa membunuh diriku," desis Zero saat Xavier menusuk jantungnya.
"Ya, kalau ini tidak akan membuat kamu mati. Tapi, kalau ini bisa!" Xavier menembakan pistol peluru perak suci ke arah kepala Zero.
Xavier sudah berhasil menembakan satu peluru. Tinggal dua peluru lagi untuk bisa menghabisi Zero dan mengubahnya menjadi abu.
Zero bukanlah musuh yang bodoh dan lengah. Dia saat Xavier melancarkan serangan padanya, dia juga diam-diam menembakkan peluru perak suci miliknya pada perut Xavier.
Kini kedua vampir berdarah murni itu sama-sama terkena tembakan peluru perak suci yang bisa membuatnya mati. Kesempatan yang mereka miliki sama-sama dua kesempatan. Baik itu untuk membuat lawannya mati atau dirinya yang akan mati duluan.
Setelah penembakan itu, tubuh keduanya saling terlempar jauh dan menggelepar. Rasa sakit yang luar biasa sekarang sedang mereka rasakan.
'Si_al, sakit banget! Aku tidak menyangka kalau hal ini akan sesakit ini. Saat terkena puluhan peluru perak saja sakitnya tidak seperti ini.' Zero mengumpat karena dia tidak bisa apa-apa saat ini.
Baik Lukas maupun Pierre terkejut melihat ke adaan tuan mereka. Keduanya pun berjalan ke atah pimpinan masing-masing.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Lukas sambil membangunkan tubuh Xavier.
"Lukas, tubuh aku tidak bisa digerakkan. Tolong masukan pil formula yang ada di kotak kantong saku baju aku," lirih Xavier sambil meringis kesakitan.
Lukas pun dengan cepat mencari kotak yang di maksud oleh Xavier. Setelah menemukan obat itu, dia pun dengan cepat memasukan ke dalam mulut Xavier.
Tubuh Xavier mengeluarkan asap dan semua luka di tubuhnya langsung sembuh. Bahkan saat Xavier mencoba menarik peluru perak yang ada di perutnya itu langsung keluar dengan sendirinya.
Lukas yang melihat hal ini merasa sangat takjub. Dia benar-benar terpana dengan proses penyembuhan yang di alami oleh Xavier.
Hal yang sama dilakukan oleh Zero. Dia juga memakan 5 butir pil obat dan membantu penyembuhan dirinya. Meski lukanya hilang, tetapi rasa sakit itu masih ada. Dia meringis kesakitan.
Baik Zero maupun Xavier kini saling menatap dari jarak jauh jauh. Keduanya sudah sama-sama siap untuk memberikan perlawanan lagi sampai salah satu dari mereka kalah dan hancur.
"Lukas, habisi Pierre!" perintah Xavier.
"Siap, Tuan!" Lukas pun kini berdiri tegap di samping Xavier dan bersiap untuk menyerang Pierre.
"Meski sebenarnya orang yang ingin aku lawan adalah Zero, tetapi bisa menghabisi kamu sudah membuat aku merasa jadi makhluk yang berguna!" Lukas pun menyerang Pierre.
***
Bagaimana kisah kelanjutan pertarungan mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!