Vampire Bride

Vampire Bride
Bab 27. Kembali Ke Kastil



Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari kalian menyenangkan dan dilapangkan rezekinya


***


Bab 27


Para vampir berdatangan dari atas lubang cahaya yang ada di atas danau. Mereka langsung menyerang ke arah Allura. Allura langsung melompat dari atas batu itu ke dalam air. Ternyata para vampir itu juga ikut melompat ke dalam danau. Mereka saling berebut berusaha untuk menangkap Allura.


Melihat hal itu, Xavier langsung melompat ke dalam danau dan menyerang para vampir yang sudah kehilangan kendali. Dia melancarkan serangan pada para vampir yang hendak menyentuh istrinya, sampai membuat mereka hilang kesadaran.


Sementara itu, Cedric dan beberapa anak buah kelompok Light dari vampir berdarah campuran level kuat mencoba melumpuhkan para vampir yang kehilangan kendali atas kesadarannya.


Xavier melemparkan para Vampir yang sudah tidak sadarkan diri itu sudut gua. Lalu, dia memeluk tubuh Allura yang gemetaran karena takut.


"Tenang, Honey. Aku akan selalu melindungi kamu," kata Xavier sambil memeluk erat Allura. Diciuminya pucuk kepala istrinya dengan berulang kali.


Cedric dan yang lainnya pun, sudah berhasil mengalahkan para vampir yang mengamuk. Mereka semua di bawa ke luar gua dan dibariskan layaknya mayat, padahal mereka hanya pingsan.


***


Xavier dan Allura belum beranjak dari danau. Merek malah asik berenang dan bermain air.


"Honey, besok kita harus pulang ke kastil," lirih Xavier seakan dia tidak rela kalau jadwal bulan madunya harus berakhir.


Melihat wajah suaminya yang berubah sendu, membuat Allura tersenyum tipis. Lalu, dia pun mengecup singkat bibir Xavier.


"Kapan-kapan kita bisa pergi liburan lagi," bisik Allura dan membuat Xavier tersenyum lebar.


"Terima kasih, Honey," balas Xavier dan memberikan ciuman mesra dan panas pada istrinya.


Cedric yang berniat memanggil tuannya, langsung membalikan badan. Sebab, tidak mau mengganggu kemesraan tuan dan nyonya yang dia layani.


Hampir 50 menit Cedric menunggu Xavier dan Allura keluar dari gua itu. Terlihat kalau tuannya menggendong sang istri yang terlihat kelelahan dan tertidur.


"Cedric beri tahukan kepulangan kita besok ke kastil. Aku ingin sambutan yang baik atas kepulangan kita," titah Xavier.


"Siap, Tuan!" balas laki-laki yang setia menemani dirinya lebih dari 200 tahun.


***


Sera dan Edmond memutuskan tinggal di Pulau Aprhodite. Mereka tidak akan kembali ke Pulau Eleanor.


"Kamu jaga diri baik-baik, ya!" Sera menangis saat akan melepaskan kepulangan Allura. Dia memeluk erat sahabat baiknya itu seakan tidak bertemu lagi.


"Kalau ada apa-apa, cepat hubungi kami. Sebisa mungkin kami akan ke tempat kamu berada," ucap Edmond saat memeluk tubuh Allura. Dia juga terisak dengan bibir yang terus bergetar. Dia akan kehilangan teman yang selalu memberikan dukungan dan nasehat padanya.


"Kalian berdua jaga kesehatan dan harus hubungi aku setiap hari. Atau kalau nggak seminggu sekali," ujar Allura sambil memeluk kedua sahabatnya.


"Iya. Nanti sesekali kamu harus berkunjung ke sini sambil membawa anak yang lucu," kata Sera dan membuat Allura merasa malu.


"Semoga saja saat liburan tahun depan anak kami sudah lahir," bisik Allura dengan malu-malu.


***


"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya!" sambut Lukas dengan senyum lebaran.


"Lukas, senang bisa bertemu lagi denganmu!" seru Allura sambil memeluk singkat tubuh kepala pelayan itu.


"Kalian tidak salah. Itu sudah menjadi insting dan di luar kendali kalian." Allura malah meyakinkan mereka untuk menjadi lebih kuat lagi, agar bisa mengendalikan diri.


Normalnya manusia itu akan takut dan menjauh dari monster. Namun, apa yang terjadi pada Allura malah sebaliknya. Dia malah tinggal di sarang monster, itu dikarenakan rasa cintanya yang begitu besar kepada Xavier. Selain itu suaminya juga berjanji akan selalu melindungi dia dari para monster itu.


***


Saat pagi-pagi Allura merasakan mual yang amat sangat dan perutnya juga terasa panas. Dia mengeluarkan isi perutnya sampai merasa lemas.


Melihat hal itu Xavier merasa panik dan langsung meminta Lukas untuk memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa kondisi tubuh Allura. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.


"Honey, kumohon kuatkan dirimu. Sebentar lagi dokter akan tiba di sini," ucap Xavier.


"Tubuh aku terasa sangat lemah, Darling," lirih Allura yang mukannya sangat pucat sekali dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin sementara dia sendiri merasa kepanasan.


"Apa kamu kemarin malam makan sesuatu yang lain, selain yang diberikan oleh koki?" tanya Xavier.


"Tidak. Bukannya setelah kita makan malam kamu mengajak aku masuk ke kamar dan meminta jatah harian," gerutu Allura yang kini berada dalam pelukan Xavier.


Laki-laki itu membenarkan ucapan Allura dan semalam dirinya meminta untuk bercinta. Seakan hal itu sudah menjadi jadwal rutin harian yang harus mereka jalani setiap harinya.


Dokter pribadi pun tiba dan langsung memeriksa kondisi tubuh Allura. Perempuan yang memakai setelan putih panjang-panjang itu menyentuh perut Allura dalam waktu yang cukup lama.


"Tuan, aku merasa kalau Nyonya saat ini sedang mengandung," kata dokter itu.


"Apa?" baik Allura maupun Xavier sangat terkejut sekaligus merasa senang.


"Benarkah itu dokter? Kalau istriku saat ini sedang hamil!" seru Xavier dan menatap ke arah dokter dengan senyum lebarnya yang jarang diperlihatkan kepada orang.


"Aku merasa sudah ada janin di dalam perut Nyonya. Untuk lebih memastikannya lagi, sebaiknya dilakukan USG," ujar dokter yang kini wajahnya merona karena terpesona oleh senyum lebar milik Xavier.


***


Xavier pun membawa Allura ke rumah sakit miliknya. mereka melakukan pemeriksaan lewat USG. Tihat ada dua titik itu kecil di rahim Aurora pada layar monitor.


"Selamat, Tuan! Anda dan Nyonya akan memiliki dua orang bayi kecil," kata duta kandungan itu sambil menunjukkan kursornya pada layar monitor.


"Benar-kah itu? Kalau kami akan memiliki du-a orang ba-yi!" tanya Xavier dengan tergagap saking merasa senangnya.


"Iya, Tuan. Dan saat ini usia kandungannya baru berusia empat minggu," jawab wanita paruh baya dengan senyum tipis.


"Honey, kamu dengar itu! Kalau kita akan mempunyai dua orang anak sekaligus," seru Xavier dan berjalan ke arah alur yang sedang berbaring di atas brankar pemeriksaan pasien.


Allura juga tahu itu, karena dia juga ikut mendengar setiap perkataan dokter tadi. Dia juga merasa sangat bahagia akan kehadiran makhluk kecil di dalam perut. Air mata kebahagiaan pun meluncur membasahi pipinya. Juga senyuman kebahagiaan terpatri di wajahnya yang masih pucat.


"Apa kamu sangat bahagia, Darling?" tanya Allura dengan lirih dan lemah.


Senyum Xavier mendadak hilang saat melihat wajah Allura yang semakin pucat dan keringat membasahi kening dan lehernya.


"Honey, kamu kenapa?" Xavier menyentuh kepala Allura dengan panik.


***


Apakah akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Allura? Tunggu kelanjutannya, ya!